 |
HARAPAN SESEPUH JAWA BARAT
Letjen TNI (Purn.) DR. (HC) Mashudi
Dengan penuh kegembiraan saya menyambut baik mengenai adanya paradigma baru dari pimpinan PT. Dirgantara Indonesia untuk mengembangkan industri penerbangan Bangsa dan Negara Republik Indonesia, agar Indonesia bukan saja bisa mandiri namun bisa juga memberikan sumbangan kepada penerbangan di dunia.
Sejak kita memproklamirkan kemerdekaan kita dengan penuh keberanian telah bisa menerbangkan pesawat-pesawat peninggalan Jepang dan para pecinta dirgantara sudah memikirkan bahkan sudah dapat membuat pesawat yang bisa terbang yaitu dibuat oleh sdr. Wiweko, teman saya di Technise Hogeschool Bandung yang pada waktu itu juga sudah "gila" membuat model-model pesawat.
Bersama ini saya kirimkan potret beliau dengan duplikat pesawat yang dibuatnya. Selanjutnya saya kenal dengan Pak Nurtanio dengan pesawat yang dibuatnya di Andir. (Harap foto dan pesawatnya dimuat juga).
Sewaktu saya sebagai anggota misi militer ke RRC tahun 1957 yang dipimpin oleh Jenderal Gatot Subroto telah mengunjungi pabrik pesawat terbang M.I.G 17 yang mendapat lisensi dari Rusia, sehingga mereka cepat bisa mengadopsi teknologi tinggi dalam waktu yang singkat. Biarpun dua tahun kemudian hubungan Rusia dan RRC memburuk tetapi RRC dapat meneruskan bahkan meningkatkan kemampuannya sampai sekarang.
Memang yang dipacu oleh Pak Habibie adalah ideal sekali untuk menyusun teknologi dari bawah termasuk kerjasama dengan Spanyol. Namun investasinya sangat besar dan membutuhkan waktu lama.
Sepengetahuan saya pernah Fokker ingin kerjasama untuk membuat pesawat Fokker di Indonesia untuk mensuplai Fokker untuk Indonesia sendiri dan juga untuk dijual ke luar negeri. Sayang tidak ada tanggapan positif, dan akhirnya Fokker sendiri juga bangkrut.
Mungkin PT.DI bisa kerjasama dengan negara-negara lain seperti RRC, India, Pakistan, Malaysia maupun Singapura untuk membuat pesawat yang diperlukan oleh kita dan negara-negara itu, misalnya pesawat latih untuk sipil maupun militer, kalau Inggris dan Perancis yang masing-masing sudah sangat maju bisa kerjasama untuk pembuatan pesawat Concorde, kenapa kita tidak bisa kerjasama ?
Di samping itu mengingat kemampuan industri Pemerintah maupun swasta seperti Pindad, industri kapal di Surabaya, Texmaco dll., maka PT.DI bisa memanfaatkan mesin-mesin yang canggih untuk melakukan kerjasama.
Mengingat masa depan penerbangan di Indonesia cukup cerah maka PT.DI bisa kerjasama dengan perusahaan-perusahaan penerbangan dalam negeri maupun luar negeri untuk perawatan pesawat-pesawatnya.
Saya yakin dengan Direksi sekarang, dengan paradigma baru dan dibarengi dengan semangat juang yang tinggi, PT. DI dapat memberikan sumbangan berharga baik bagi Bangsa, Negara maupun memajukan teknologi dan meningkatkan ketrampilan sumber daya manusianya.
Sekian, selamat berulang tahun ke 25 dan selamat berjuang, semoga sukses.
Bandung, 27 Februari 2001
***
Biodata
Letjen TNI (Purn.) DR. (HC) Mashudi
Beliau lahir di Cibatu Garut tanggal 11 September 1919, Tokoh kharismatik yang satu ini di usia 81 tahun, suaranya masih terdengar lantang dan sehat. Pak Mashudi menjabat Gubernur Jawa Barat pada periode 1960 - 1970. Segala aktifitas yang digelutinya mulai dari kariernya di dunia militer, di jajaran birokrat sebagai Gubernur Jawa Barat, di legislatif sebagai Wakil Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS), di dunia bisnis sebagai Direktur Perbankan, kegiatan di organisasi sosial kemasyarakatan seperti Kepanduan, Organisasi Kasundaan, PMI dan sebagai Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, dijalaninya sebagai ibadah. Sehingga segala tugas yang diembannya terasa ringan. Meskipun dilahirkan di Cibatu Kabuten Garut, Mashudi dibesarkan di Tasikmalaya. Pendidikan formal yang pernah dijalaninya adalah HIS dan MULO Pasundan Tasikmalaya, AMS B Yogyakarta dan THS Bandung. Agak sulit juga merinci riwayat pekerjaan beliau, begitu pula dengan Bintang Jasa dan Tanda Penghargaan yang pernah diraihnya baik dari Negara Republik Indonesia maupun negara-negara asing. Begitu juga dengan misinya ke luar negeri, karena terlalu banyak tugas yang telah diembannya. Pak Mashudi yang mendapat anugerah Doktor Honoris Causa dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung belum lama ini, masih aktif di berbagai kegiatan seperti Ketua Yayasan Universitas Siliwangi Tasikmalaya, Ketua Yayasan Universitas Pakuan Bogor, Ketua Perkumpulan Philateli Indonesia, Dewan Penyantun Universitas Pendidikan Indonesia, Dirut Purna Tarum Murni (bidang LPG), Ketua Dewan Pleno Angkatan '45 Pusat, dan masih banyak lagi jabatan lainnya yang tidak mungkin disebutkan satu persatu.
|