 |
HARAPAN DAN PEMIKIRAN
KETUA DPRD PROPINSI JAWA BARAT
Drs. H. Eka Santosa
"Kota Dirgantara" adalah merupakan salah satu julukan yang diberikan pada Kota Bandung, selain sebagai "Kota Kembang" yang sudah terlebih dahulu disandangnya. Adanya sebutan Kota Dirgantara dikarenakan dikota inilah terdapat PT. Dirgantara Indonesia (dahulu IPTN) satu-satunya pabrik pesawat terbang di kawasan Asia Tenggara, sehingga Bandung menjadi lebih dikenal oleh masyarakat dalam negeri maupun mancanegara.
Keberadaan PT. Dirgantara Indonesia sebagai industri pesawat terbang dipandang sebagai salah satu keberhasilan Indonesia dalam proses alih teknologi, sehingga oleh dunia Indonesia tidak lagi dipandang sebelah mata dalam penguasaan teknologi kedirgantaraan yang selama ini didominasi oleh negara-negara maju , selain itu membuktikan akan kemampuan putra-putri Indonesia dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi tinggi.
Dalam perkembangannya, PT. Dirgantara Indonesia yang diawali oleh gagasan Alm. Komodor Udara Nurtanio yang semasa hidupnya dikenal sebagai orang yang sangat gigih dalam mewujudkan keinginannya untuk dapat memproduksi pesawat terbang sendiri. Dibawah pimpinan Prof. DR. Ir BJ. Habibie PT. Dirgantara Indonesia berkembang dengan pesat dan telah berhasil memproduksi berbagai jenis pesawat diantaranya NC-212, NBO 105 dan Bell-412.
Tonggak peristiwa bersejarah yang perlu dicatat adalah keberhasilan penerbangan perdana pesawat hasil rancang bangun putera-puteri Indonesia sendiri, yakni pesawat CN-235 pada tahun 1983, walaupun masih berpatungan dengan pihak CASA Spanyol. Selain itu pada tahun 1986 telah dilaksanakan suatu event besar yaitu Indonesia Air Show (IAS) di Jakarta yang diikuti oleh banyak negara peserta dan berlangsung dengan sukses. Dalam event tersebut PT. Dirgantara Indonesia telah mendapat pesanan pasti (confirmed order) untuk pesawat CN-235 hingga mencapai ratusan lebih sedangkan puluhan lagi tercatat sebagai pesanan opsional (tentative order). Hal ini tentunya merupakan suatu hal yang sangat membanggakan dan merupakan cerminan bahwa produk PT. Dirgantara Indonesia mampu bersaing dengan hasil produksi pabrik pesawat lainnya di dunia.
Pada tanggal 10 Agustus 1995 kembali PT. Dirgantara Indonesia membuat masyarakat Indonesia dan dan luar negeri merasa kagum setelah berhasil melakukan "maiden flight" dari pesawat N-250 yang secara utuh merupakan adalah hasil karya putera-putri Indonesia yang memiliki technical features yang lebih maju dibanding dengan pesawat-pesawat sekelas lainnya di pasaran dunia. Pada hari itu juga diluncurkan proyek rancang bangun N-2130 jenis pesawat bermesin jet.
Dengan harapan agar PT. Dirgantara Indonesia menjadi lebih maju baik dalam usaha meraih keuntungan maupun dalam penguasaan teknologinya. Walaupun pada saat ini negara kita masih dalam keadaan krisis multidimensi yang cukup membuat kita terpuruk, namun kita tetap harus mempunyai keyakinan yang kuat bahwa kita akan melalui semua itu dengan selamat, tidak saja bagi PT. Dirgantara Indonesia tapi bagi seluruh rakyat Indonesia dan berbekal keyakinan akan kekuatan yang kita miliki mari kita bersama-sama menatap hari esok yang lebih cerah.
Disamping itu ada keinginan yang besar bahwa kelak langit negeri ini akan ramai dijelajahi oleh burung-burung besi hasil karya anak bangsa yang digunakan oleh maskapai penerbangan kita. Indonesia sebagai negara kepulauan, tentunya sangat membutuhkan alat transport yang dapat menghubungkan satu pulau ke pulau lainnya dengan cepat dan aman. Hal ini dengan sendirinya merupakan peluang bagi PT. Dirgantara Indonesia dalam mengembangkan bisnisnya. Pada masa itu akan merupakan suatu kebanggaan yang luar biasa bagi kita semua, hal itupun dapat merupakan suatu bentuk penghargaan dari kita atas karya kita sendiri, karena bagaimana mungkin kita mengharapkan orang lain untuk menggunakan karya kita kalau kita sendiri tidak menggunakannya.
Atas apa yang telah dilakukan oleh PT. Dirgantara Indonesia tentunya merupakan suatu keberhasilan dan membawa kebanggaan serta kekaguman bagi seluruh rakyat Indonesia juga bagi masyarakat Jawa Barat yang turut merasa memiliki, sesuai dengan prinsip " Sabanda Sariksa " yang artinya merasa memiliki dan ingin ikut memelihara (ngamumule), khususnya lagi bagi warga kota Bandung, Ibu kota Propinsi Jawa Barat yang menjadi lokasi dan pusat kegiatan PT. Dirgantara Indonesia.
Seiring dengan bergulirnya Otonomi Daerah seperti yang diamanatkan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, DPRD sebagai Lembaga Perwakilan Rakyat di Daerah dan sebagai Badan Legislatif Daerah mempunyai tugas dan wewenang yang lebih luas.
Sehubungan dengan penyelenggaraan Otonomi Daerah tersebut, DPRD dan Pemerintah Daerah dituntut lebih menekankan pada prinsip-prinsip demokrasi, peran serta masyarakat, pemerataan dan keadilan, serta memperhatikan potensi dan keragaman Daerah. Dengan keberadaan PT. Dirgantara Indonesia di wilayah Propinsi Jawa Barat diharapkan akan lebih menunjang kegiatan-kegiatan pemerintahan dimaksud. Disamping itu diharapkan pula agar hubungan kerja antara DPRD dan PT. Dirgantara Indonesia yang telah terjalin baik saat ini dapat lebih ditingkatkan lagi.
Demikian, semoga Tuhan YME selalu merestui dan membimbing setiap langkah yang kita lakukan. Amien.
***
Biodata
Drs. H. Eka Santosa
Beliau lahir di Banjar-Ciamis pada tanggal 29 Juli 1959, saat ini telah dikaruniai 2 (dua) orang anak, buah pernikahannya dengan Ny. Rina Ningsih. Pendidikan dasarnya diselesaikan di Sukaraja Tasikmalaya sedangkan pendidikan SMP dan SMA di Banjar Ciamis. Pendidikan Tinggi di Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik (FISIP) Universitas Padjadjaran Bandung. Drs. H. Eka Santosa lama menggeluti aktifitas di LSM dan aktif di GMNI Cabang Bandung, Sekretaris Forum Alumni GMNI Jawa Barat serta Wakil Ketua Balitbang PDI Perjuangan Jawa Barat. Ketua DPRD Jawa Barat yang "merakyat" ini berasal dari Fraksi PDI Perjuangan. Sebagai Ketua DPRD Jawa Barat beliau ditetapkan dalam Keputusan DPRD Jawa Barat Nomor: 161.1/Kep.DPRD-47/2000 tanggal 3 Oktober 2000 melalui Rapat Paripurna DPRD Jawa Barat.
|