 |
PT DIRGANTARA INDONESIA Beberapa Harapan dan Jatidirinya
Prof. Wiranto Arismunandar
Kita boleh bersyukur dan bangga bahwa bangsa Indonesia telah memiliki industri pesawat terbang PT Dirgantara Indonesia. Aset nasional ini harus didayagunakan dan bermanfaat karena tingkat kemampuannya yang tinggi dan strategis. Industri pesawat terbang PT Dirgantara Indonesia dilengkapi dengan mesin dan peralatan modern sehingga termasuk salah satu industri pesawat terbang yang terbaik di dunia.
Indonesia memerlukan banyak pesawat terbang, di samping kapal dan kendaraan darat, karena wilayahnya terbentang sepanjang seperdelapan garis khatulistiwa; terdiri dari kurang - lebih tujuh belas ribu pulau besar dan kecil; prasarana yang belum berkembang dan banyak daerah terpencil.
Berbagai jenis pesawat terbang dapat dibuat di sini, sesuai dengan kebutuhan serta kegunaannya yang khas. Sementara itu berbagai pengalaman dan peristiwa telah memberikan banyak pelajaran tentang jenis pesawat terbang serta persyaratan yang diperlukan bagi pengembangan bisnisnya.
Situasi "krismon" adalah sesuatu yang diketahui (given), karena itu hal yang segera dan perlu dilakukan terlebih dahulu adalah penyelamatan aset nasional tersebut supaya dapat bertahan serta bermanfaat bagi pembangunan nasional. Sementara itu evaluasi memang diperlukan, bukan untuk menyalahkan para pengelola dan pengambil keputusan terdahulu, tetapi hendaknya lebih diutamakan pada usaha menemukan jalan keluar yang terbaik. Meskipun beberapa tenaga kerja yang kompeten dan berpengalaman telah meninggalkan perusahaan, namun, masih banyak yang tinggal sehingga memungkinkannya bangkit kembali. Sedangkan mereka yang pergi hendaknya tetap menjadi bagian atau simpul dari jaringan (network) perusahaan.
Karena itu ada baiknya jika dapat diinventarisasi semua kemampuan yang ada pada PT Dirgantara Indonesia, terutama kemampuan dan keterampilan sumberdaya manusianya yang dapat dicerminkan dari sifat pekerjaan yang ditangani. Pesawat terbang merupakan produk yang harus memenuhi persyaratan keterpercayaan (reliability) dan keamanan (safety) yang tinggi serta harus dinyatakan laik terbang, baik oleh badan nasional maupun internasional. Karena itu meskipun diperlukan kreativitas dan daya inovasi yang tinggi, tetapi tetap harus berada dalam koridor aturan yang ketat. Dalam kaitan itu diperlukan kerjasama dan hubungan baik dengan industri pendukung dan instansi lain yang berwenang. Pesawat terbang mengsyaratkan konstruksi ringan tetapi kuat. Karena itu kemampuan merancang struktur sangat dominan, di samping pengetahuan tentang material serta pengembangan material baru, dan proses pembuatannya yang sesuai. Pengertian tentang "fail-safe" dan "redundan
cy" dalam desain melekat pada setiap perancang pesawat terbang. Selain itu pengetahuan tentang aerodinamika memungkinkan bentuk yang menghasilkan gaya angkat dan menurunkan tahanan pada pesawat. Pengetahuan tentang aerodinamika dapat diterapkan pada perencanaan bangunan tinggi, menara dan jembatan, kendaraan bermotor dan kapal, tetapi juga perencanaan wilayah dan kota serta lingkungan yang sehat.
Pabrik pesawat terbang juga tidak pernah membuat semua sistem pendukungnya sendiri. Motor propulsi, roda pendarat, avionik dan instrumentasi, anti-es, pompa bahan bakar, adalah beberapa di antaranya yang dibuat oleh pabrik lain yang khusus untuk hal tersebut. Banyak hal yang harus dikoordinasi dan dipikirkan bersama serta disepakati. Demikianlah pengertian tentang kompromi dan optimasi telah benar-benar difahami dan melekat pada setiap pemikiran dan pemecahan masalah.
Sementara itu kita juga memaklumi bahwa, berbeda dengan industri otomotif, pesawat terbang tidak diproduksi secara massal. Hal yang serupa juga terjadi pada pekerjaan teknik sipil, seperti konstruksi bangunan tinggi, jembatan, menara, dan lain sebagainya. Di semua bidang tersebut, usaha menurunkan ongkos produksi merupakan hal yang sangat diperlukan. Namun, tantangan yang utama bagi industri di zaman ini adalah menurunkan biaya dalam volume produksi yang kecil ¾ low cost at low volume, bukan dengan produksi massal. Dalam hal ini industri otomotif harus belajar dari industri pesawat terbang.
Masih banyak hal lain yang dapat dikemukakan sebagai kemampuan dan keterampilan sumberdaya manusia industri pesawat terbang yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan lain. Misalnya, dalam pengembangan software, simulasi, stabilitas dan pengendalian, robotik dan mekatronik, keamanan dan keselamatan, dan lain sebagainya.
Perlu dikemukakan lagi di sini bahwa pengalaman PT Dirgantara Indonesia dalam hal-ihwal industri pesawat terbang sudah cukup banyak. Tentu hal tersebut dapat dievaluasi dari sudut pandang dan tingkat keadaan sekarang ini. Semuanya itu dapat digunakan sebagai bahan dan dasar bagi pemikiran dan perencanaan masa depan yang lebih baik. Beberapa hal berikut ini dapat dipertimbangkan untuk membangkitkan semangat dan motivasi untuk survive, serta maju dan berkembang sebagai industri yang strategis.
Continuous improvement di semua lini. PT Dirgantara Indonesia hendaknya tetap bertahan sebagai industri pesawat terbang. Karena itu semua kekurangan harus diperbaiki dan disempurnakan secara berkelanjutan; baik mesin dan fasilitas, organisasi, manajemen dan bisnis, relasi dan jaringan informasi, maupun sumberdaya manusia dan mutu produknya.
Pemasaran produk PT Dirgantara Indonesia hendaknya dilanjutkan. Dalam hal tersebut termasuk pengembangan produk baru, baik pesawat terbang atau subsistem atau sukucadangnya maupun produk non-pesawat terbang. Hubungan dan kerjasama dengan para pengguna ditingkatkan supaya setiap produk dan jasa yang ditawarkan relevan dan sesuai dengan kebutuhan.
Sementara itu kemampuan dan keterampilan sumberdaya manusia ditingkatkan melalui berbagai kegiatan produktif dan inovatif. Dengan berorientasi pada kebutuhan masyarakat dan industri, tanpa ada permintaan sekalipun, PT Dirgantara Indonesia dapat mengambil prakarsa untuk mengembangkan berbagai alternatif desain serta usaha meningkatkan hak atas kekayaan intelektual (paten, hak cipta, desain industri, dan lain sebagainya).
Meningkatkan hubungan dan kerjasama dengan industri dan masyarakat pengguna untuk mengembangkan produk dan bisnis baru, berdasarkan kesepakatan atau perjanjian yang memungkinkan usaha patungan. Hal tersebut dapat dilakukan atau sangat diperlukan ketika industri tidak memiliki pengetahuan tentang produk yang diinginkan masyarakat, selain dana yang sangat terbatas. Sedangkan calon pengguna produk mungkin juga tidak memiliki dana yang cukup untuk membeli dari luar negeri. Hal tersebut di atas sangatlah relevan dengan usaha pengembangan kemandirian, terutama dalam memenuhi kebutuhan mesin dan peralatan pertahanan dan keamanan.
Meskipun visi dan misi serta kemajuan perusahaan merupakan bagian dari urusan dan tanggung jawab pimpinan, namun hendaknya visi dan misi perusahaan disosialisasikan sehingga semua unsur perusahaan menghayati dan mengemban visi dan misi yang sama. Hal ini perlu diperhatikan untuk memungkinkan kemampuan, kreativitas dan daya inovasi yang ada, didayagunakan bagi peningkatan mutu produk dan pengembangan produk baru, menurunkan biaya serta meningkatkan keefektifan pemasarannya. Dengan demikian semua warga PT Dirgantara Indonesia berkewajiban dan ikut serta bertanggung jawab atas kemajuan perusahaan.
Demikianlah beberapa harapan kepada PT Dirgantara Indonesia agar tetap menjadi industri pesawat terbang yang bermanfaat bagi pembangunan nusa dan bangsa Indonesia. Industri yang memberikan kebanggaan dan teladan serta membuktikan ketangguhannya dalam menghadapi berbagai tantangan dan pasang-surutnya perusahaan. Perhatian serta dukungan pemerintah dan masyarakat sangat diperlukan untuk mendayagunakan kemampuan dan fasilitas yang tersedia dengan sebaik-baiknya, meningkatkan kredibilitas dan memajukan bisnisnya. Sementara itu perawatan semua fasilitas dan sumberdaya hendaknya ditingkatkan supaya senantiasa ada dalam keadaan prima dan siap untuk digunakan.
***
Biodata
Prof. Wiranto Arismunandar
Guru Besar Institut Teknologi Bandung; Institut Teknologi Bandung sejak 1959; Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI (1998), Rektor ITB, 1988 - 1997; Wakil Ketua Lembaga Penerbangan dan Antartika Nasional (LAPAN), 1978 - 1989; Anggota Rektorium ITB, 1978 - 1980; Anggota Dewan Riset Nasional, Kelompok Hankam, 1994 - 1999
|