 |
IPTN DALAM KENANGAN DAN HARAPAN
Chandra Adenan
Pendahuluan
Ketika saya membuka email yang menanyakan kesediaan saya untuk mengisi buku: 25 tahun PT. Dirgantara Indonesia membuka paradigma baru , saya hanya tersenyum saja. Komentar pertama yang keluar dari mulut saya saat itu adalah: "Kayak GOLKAR saja, pake paradigma baru segala". Lalu di tengah kesibukan sehari-hari saya, segera saja hal tersebut terlupakan. Tetapi ketika saya sampai di rumah kediaman saya pada malam hari dan ditengah kesepian rimba raya Pangkalan Kerinci Riau, saya kembali membaca email tersebut dan di sana barulah saya menangkap apa yang diharapkan. Saya masih tetap menyebut PT.DI sebagai IPTN, karena nama itulah yang melekat belasan tahun dari bagian hidup saya dan tentunya sulit bagi saya untuk dengan tiba-tiba menggantinya dengan PT.DI. Lagi pula adalah IPTN d/h Nurtanio yang mengalami masalah besar saat itu sehingga kenangan dan kritikan saya hanya sampai pada IPTN saja.
Alasan itulah yang membuat saya kemudian berusaha meluangkan waktu untuk mulai memutar ulang kenangan saya di IPTN yang sudah sekian tahun saya lupakan dan mencoba memposisikan diri saya sebagai karyawan IPTN dan apa yang saya harapkan dari perusahaan tempat saya bekerja.
Kecintaan saya pada tempat di mana saya berasal itulah yang membuat saya bergairah untuk menulis dan untuk sementara saya bisa melupakan tugas-tugas yang sudah menanti saya besok pagi.
Walaupun begitu harus saya akui bahwa saya bukanlah penulis yang baik, sejak awal kesulitan yang paling mendasar dalam diri saya adalah mempresentasikan apa yang ada didalam benak saya menjadi sebuah tulisan bahkan perkataan. Semoga saja editor mau membantu saya untuk menyusun ulang agar tulisan ini tidak terlalu memalukan untuk dibaca oleh khalayak ramai.
Tulisan ini saya buat dalam dua bagian besar, yang pertama adalah tentang kenangan-kenangan dan pengalaman saya selama bekerja di IPTN dan bagian kedua adalah harapan-harapan saya kemana tujuan IPTN di masa yang akan datang. Dua bagian besar tersebut sebenarnya banyak memuat tentang kritikan-kritikan saya terhadap IPTN terutama dari sisi manajerialnya yang saya anggap adalah sisi terlemah dari IPTN sejak dulu sampai kini (paling tidak seperti itulah yang terdengar oleh saya dari hutan Pangkalan Kerinci sini).
Oleh karena itu saya mohon maaf kepada setiap karyawan IPTN dan terutama para manajer yang merasa tersinggung oleh tulisan saya, saya mohon anda mengerti bahwa kritikan saya ini saya buat bukan karena saya membenci anda tetapi justru saya mencintai IPTN dengan tulus dan ingin IPTN maju di masa-masa yang akan datang. Percayalah bahwa saya tidak melecehkan kemampuan anda semua, saya hanya berharap kesadaran untuk mengarahkan IPTN ke arah yang terbaik tumbuh di hati setiap karyawan IPTN.
16 tahun di IPTN
Terus terang mencoba mengingat kembali IPTN adalah bagian tersulit dalam hidup saya karena pada saat saya mengundurkan diri dulu saya membawa sejuta kekecewaan. Di mana saya merasa telah menyia-nyiakan hidup saya selama belasan tahun untuk sesuatu kegiatan yang tidak jelas dan jauh dari cita-cita saya untuk membaktikan diri kepada nusa dan bangsa. Pada saat itu saya merasakan saya sudah bekerja for nothing, karena apa…? Karena saya tidak melihat adanya suatu tujuan realistis yang akan dicapai oleh perusahaan, kecuali menemukan teknologi penerbangan baru. Saya merasa saya sudah bekerja bukan pada perusahaan komersial tetapi bekerja di sebuah lembaga penilitian. Betapa tahun tahun terakhir saya di IPTN dulu, saya berusaha menyembunyikan identitas tempat saya bekerja karena itu akan membuahkan cibiran teman-teman dan famili saya di kampung.
Saya mulai bergabung dengan IPTN pada tanggal 15 Juni 1981, waktu itu saya ditempatkan di Direktorat Teknologi subdit Electronic Data Processing & Documentation (EDP&Doc), setengah tahun di sana saya ditarik ke Subdit Methoda Komputasi (MetKom) sebagai programmer komputer untuk proyek CN-235. Di sini saya berkenalan dengan mas Agung dan mas Jusman (yang saat ini menjadi pimpinan puncak PT.DI), sering kami bekerja bersama untuk menyelesaikan tugas-tugas mereka dengan menggunakan program NASTRAN sampai larut malam bahkan subuh di computer center PT. USI/IBM saat itu atau membantu mbak Devi Gunara dan mas David Koroa untuk menganalisa struktur CN-235 dengan komputer kecil yang dimiliki IPTN yaitu HonneyWell-Bull Mini-6. Beberapa waktu kemudian saya ditarik ke Pusat Operasi Komputer IPTN sebagai system programmer Mainframe computer IBM 4341 (saat itu komputer itu merupakan komputer tercanggih di asia tenggara), ada kebanggaan dalam diri saya waktu itu, karena saya boleh dibilang satu-satunya pure system programmer, karena teman-teman lain seperti mas Sonny, mbak Ina dan pak Benny sudah mulai sibuk mengurus masalah manajerial. Di sini saya banyak membantu seorang Technical Assistant dari MBB bernama Norbert Schroiter, dialah yang menjadi pemandu saya dan saya anggap sebagai guru saya dalam masalah system programming. Beberapa pandangan dia masih tetap saya pegang sebagai acuan cara kerja saya sampai saat ini.
Ketika first flight CN-235 saya dan teman-teman menonton dengan perasaan was-was, sebuah canda yang tidak saya lupakan adalah ketika sohib saya Agus Rusmantoro bercanda mencari posisi terbaik untuk memotret kalau CN-235nya gagal terbang. Saya tahu bahwa Agus (yang biasa kami panggil Ayong) hanya bercanda untuk menghilangkan ketegangan, tapi itu canda khas orang Indonesia di mana mereka bertaruh dengan kesialan diri. Sesuatu yang di ucapkan malah diharapkan tidak terjadi.
Pada saat CN-235 benar-benar terbang semua orang bertepuk tangan, kelelahan selama ini terobati. Kita sudah mencapai peringkat teknologi yang lebih tinggi di Asia tenggara, bukan hanya IPTN (saat itu masih bernama Nurtanio) dan kota Bandung saja yang bangga tapi seluruh bangsa Indonesia (terutama masyarakat kecil di kampung-kampung) ikut bangga. Di mana-mana orang membuat model CN-235 untuk perayaan Agustusan. Setiap orang yang mengetahui kami orang IPTN memandang dengan mata kagum.
Tapi itu tidak berlangsung lama, keberhasilan dalam teknologi tidak di ikuti keberhasilan dalam bisnis, CN-235 tidak populer untuk dijual. Bermacam-macam masalah yang dihadapi pada saat produksi, mulai dari raw material yang sering terlambat sampai dengan masalah-masalah dokumentasi yang tidak lengkap sehingga jadwal produksi boleh dikatakan terlambat dan langkanya spare-part. Bermacam-macam alasan di ungkapkan mulai dari disiplin karyawan sampai dengan CASA yang tidak kooperatif.
Pada saat itu saya sudah mulai banyak terlibat kemasalah-masalah manajerial tingkat operasional membantu mas Sonny, sehingga pengetahuan saya tentang IPTN menjadi lebih baik dan membuat diri saya semakin tidak mengerti dengan tingkah laku para manajernya. Masalah yang sangat serius dihadapi oleh IPTN adalah tidak adanya Business Sense di tingkat puncak sehingga masalah yang dihadapi dianggap biasa dan tidak mengalir ke tingkat bawah. Segala macam usaha koordinasi hanya menghasilkan kekacauan baru, karyawan kita tidak siap memasuki dunia bisnis yang keras. Yang terjadi hanyalah saling salahkan dan saling lempar tanggung jawab, masing-masing divisi hanya memikirkan eksistensi dan superiornya masing-masing sehingga bisnisnya jadi semakin tidak jelas lagi. Hal yang lebih parah lagi IPTN membuat rencana baru yaitu membuat N-250, sesuatu yang sampai saat ini saya anggap sebuah cita-cita yang coba direalisasikan pada saat yang tidak tepat terutama kalau dilihat hubungannya dengan kegagalan penjualan CN-235 yang sudah menghabiskan jutaan atau mungkin milyaran dollar. Akibatnya sumber daya yang ada tidak terfokus dalam memecahkan masalah utama dalam menanggulangi kerugian produksi CN-235. Kita bagaikan seekor burung unta yang ingin menyelamatkan diri dari sebuah bahaya.
Menurut hemat saya semestinya IPTN pada saat itu sudah harus melakukan restrukturisasi dan relokasi resource. Direktorat Teknologi yang memiliki SDM terdidik dan biaya tinggi semestinya di rasionalisasi karena dalam business survive sudah tidak dibutuhkan lagi, skill employee sudah harus dialihkan ke bagian-bagian yang terkait dengan produksi, marketing dan service CN-235 dan produk-produk rotary wing yang lebih potensial untuk dijual agar mendapatkan liquid money.
IPTN tambah kacau ketika N-250 yang terseok-seok memasuki era sertifikasi tapi tidak memiliki data yang lengkap dan informasi menjadi kacau ketika IPTN membuat rencana baru yaitu membangun N-2130 yang kontroversial itu. Ini benar-benar tindakan yang tidak bisa saya mengerti bahkan sampai saat ini, resource yang sudah kacau balau menjadi hancur-hancuran.
Pada saat keuangan sudah menipis, divisi-divisi mulai mencari nafkah sendiri-sendiri untuk mempertahankan hidup dan ini membuat situasi bertambah parah, karena bukan divisi-divisi saja yang tidak fokus tetapi juga internal divisi juga menjadi terpecah-pecah. Padahal kita pada saat itu sudah harus menelan pil pahit berupa tidak ada satupun pesawat CN-235 yang bisa dijual dalam satu tahun. Bisa dibayangkan fokus untuk produksi fixed wing menjadi terpecah tiga.
Pusat Komputasi yang saat itu juga mulai masuk ke bisnis sampingan mendelegasikan saya ke anak perusahaannya NSI dan NSI lalu menugaskan saya di Western Geophysical (sebuah perusahaan surveyor), di situlah saya belajar bagaimana memfukoskan diri dan memanfaatkan teknologi sebagai senjata berbisnis. Hal yang tidak dimanfaatkan oleh IPTN selama ini.
Setelah saya kembali lagi ke IPTN maka mulailah saya masuk ke dalam dunia petualangan ini, ikut dalam proyek-proyek pendidikan di Garuda, BI, Telkom, Pertamina dsb. sampai pada akhirnya saya terlibat dalam proyek CALFAIS milik PT. CALTEX PACIFIC INDONESIA (CPI). Di sini saya berkenalan dengan seorang Inggris keturunan Pakistan bernama Mohammed Arif, dia mengesankan buat saya. Dari sisi skill dia saya nilai biasa-biasa saja tetapi ketekunan dan kejujurannya membuat dia sangat dihargai dan dihormati. Dari dia pula saya belajar menjadi seorang profesional sejati yang tidak takut menghadapi bisnis sendiri, dia menanamkan kediri saya bahwa dia datang ke CPI memang sebagai wakil dari WALKER (perusahaan principal CALFAIS) & IBM tetapi sebagai profesional dia bekerja untuk dirinya, dia akan tetap berguna dan laku dijual walaupun dia keluar dari WALKER selama dia konsisten dengan kinerjanya. Dia membuat saya berani, dan satu tahun setelah itu saya mencoba melepaskan diri dari IPTN. Tetapi saya akhirnya kembali lagi ke IPTN karena seseorang yang sangat saya percaya di sana, menjanjikan pendapatan yang sama dengan yang saya peroleh di perusahaan tempat saya bekerja pada saat itu. Saya kembali ke IPTN setelah liburan bersama IPTN seusai Hari Raya aidil fitri (suatu tradisi yang sudah di mulai sejak IPTN berdiri yang malah di tiru oleh beberapa perusahaan swasta diluar).
Pada saat itu beberapa orang yang saya hormati di IPTN begabung dengan Marketing dan mulai membangun system Internet sebagai usaha selling better dan dengan tanpa ragu saya ikut bergabung ke tim tersebut, tetapi lama kelamaan saya mulai menyadari bahwa usaha tersebut tidak cukup kuat melawan sifat dasar para pejabat IPTN sehingga pada akhirnya tidak menghasilkan apa-apa,. Kami membangun network sampai ke rumah pak Habibie di Jakarta tetapi para pejabat meminta email pak Habibie di filter agar beliau tidak menerima "junk mail" yang setelah saya selidiki ternyata yang disebut sebagai "junk" adalah email-email dari karyawan yang mengadukan situasi sebenarnya di bawah sampai-sampai pernah mengakibatkan beliau melakukan inspeksi mendadak ke produksi pada malam hari.
Dari sini saya mulai melihat bahwa tujuan semula dari proyek internet ini sudah jauh menyimpang dan saya sudah tidak mempercayai lagi kalau manajemen puncak bisa menyelesaikan masalah IPTN dan bagi saya itu adalah gong kematian. Saya sudah terlalu tua untuk tetap bertahan dan menunggu adanya perbaikan di tubuh IPTN.
Ketika ada sebuah tawaran dari perusahaan world wide di Kuala Lumpur, tawaran tersebut tidak saya tampik lagi. Hari terakhir saya di IPTN diwarnai demo karyawan untuk pertama kali dalam sejarah IPTN dan pertama kali sejak saya mulai bekerja di PT. IPT. Nurtanio 16 tahun yang lalu.
Harapan Yang Tetap Menggantung
Sekarang setelah empat tahun saya meninggalkan IPTN, saya mendengar bahwa IPTN sudah berganti nama menjadi PT. Dirgantara Indonesia. Bagi saya nama itu sudah tidak terlalu asing lagi, karena sejak jaman pak Habibie dulu beliau sudah sering menyebut IPTN sebagai Indonesian Aerospace Company. Tetapi apakah ada gunanya berganti nama…? Buat saya tidak dan bahkan hanya membuat keuangan IPTN bertambah parah. Mengganti nama pada saat-saat kritis seperti ini tidak lebih dari ibarat usaha seorang penjahat menyembunyikan diri.
Yang menjadi pertanyaan saya, apakah para pejabat di sana masih tetap tidak menyadari apa yang sebenarnya menjadi prioritas bisnis mereka ? Apakah para pemegang keputusan di negara ini tidak berusaha untuk memperbaiki keadaan ? Bagi saya kalau memang para pemegang keputusan ingin benar-benar melepaskan diri dari masa lalu maka yang harus dilakukan adalah membubarkan IPTN lalu mendirikan perusahaan baru dengan para pemegang saham baru dan para eksekutif baru. Tetapi masalahnya tidak enteng seperti itu, lalu bagaimana dengan produk-produk yang pernah dijual IPTN ? Walaupun nilainya tidak seberapa tetapi untuk berbisnis kita harus mempertahankan hubungan yang harmonis dengan para pelanggan karena hubungan baik itu adalah alat promosi bagi IPTN untuk menjual lebih banyak produk lagi.
Saya malah tidak melihat adanya perbaikan yang paling penting dari IPTN yaitu sisi produktivitas (pada saat saya di sana istilah produktifitas selalu dikaitkan dengan berapa jumlah pesawat yang bisa dibuat on-time, tetapi produktifitas yang saya maksudkan di sini adalah jumlah pesawat yang deliverable), bahkan para pengelola perusahaan masih tetap muka lama hasil didikan para pendahulu yang saya rasa tidak mungkin memberikan nafas baru buat perusahaan. Mungkin saja mereka membuat perubahan, tetapi yang diperlukan oleh IPTN saat ini bukan sekedar perubahan tetapi nyawa baru.
Tindakan IPTN mereduksi jumlah karyawan cukup saya hargai, pil pahit itu memang harus ditelan tetapi sayangnya pil pahit tersebut hanya dirasakan oleh para pekerja tingkat bawah. Sedangkan para pembuat keputusan masih tetap yang itu itu saja, yang sejak lama sudah di asuh oleh para pimpinan terdahulu yang justru saya anggap gagal. Orang orang ini saya ragukan kreatifitasnya dan kalau saja saya pemegang saham perusahaan ini maka merekalah yang pertama saya minta mengundurkan diri dan diganti dengan para profesional yang memang sudah terbukti berhasil mengendalikan perusahaan besar yang survive.
Tidak masalah apakah itu orang Indonesia atau bukan, tetapi eksistensi IPTN harus diperbaiki, kepercayaan customer dan calon customer harus dibangkitkan. Kalau itu dilakukan maka berarti 50% dari kondisi IPTN sudah diperbaiki. Tindakan lainnya adalah menghentikan bisnis survival dari setiap divisi (yang saya dengar saat ini, selain IT yang berbisnis sebagai IT consulting juga Fabrikasi yang memproduksi antenna parabola), dan mengembalikan fokusnya terhadap produksi pesawat terbang. Divisi-divisi/Direktorat-direktorat harus dikurangi sampai sekecil dan seefisien mungkin, Bisnis Unit-Unit yang tidak berhubungan langsung ke produk sebaiknya dibubarkan atau kalau memang menguntungkan lebih baik di jual ke provider lain. Sebagai contoh yang saya lihat di perusahaan perusahaan besar seperti Cisco Systems yang pada saat ini mengalami saat-saat kritis, mereka melepas 8000 karyawan. Bahkan di tempat saya bekerja sekarang, pada saat harga Pulp dunia jatuh 50% maka perusahaan melepas departement securitynya ke PT. COIN SECURITINDO sebagai usaha memfokuskan diri ke bisnis utamanya yaitu bubur kertas. Tindakan ini akan menambah perbaikan kondisi sebesar 15%. Asset-asset yang tidak perlu seperti sebagian bangunan di halaman parkir dan hanggar-hanggar di belakang sebaiknya dijual kepada perusahaan lain atau kalau tidak BU pengelolanya benar-benar dilepas dari IPTN dan asset nya ditransfer agar mereka dapat berbisnis dibidangnya. Ini akan membuat kondisi lebih baik 10%. Dan sisanya barulah internal improvement seperti perbaikan Standard Operation & Procedure (bahkan kalau perlu berusaha untuk mendapatkan ISO certification), disiplin karyawan, tools completion dan finance improvement.
Setelah kondisi tersebut diperbaiki tidak berarti keadaan sudah pulih, kondisi yang saya maksudkan di atas adalah modal awal, baru setelah itu dipikirkan bagaimana memperoleh modal operasi dan customer. Marketing harus agressif, sosialisasi juga harus dipertajam, informasi perkembangan bisnis perusahaan diusahakan dapat diketahui oleh masyarakat bisnis secara gamblang dan pada akhirnya perusahaan harus bisa go public.
Kalau hal-hal tersebut sudah dilalui saya percaya, sang anak elang sudah mulai mengepakkan sayap kecilnya untuk belajar terbang. Siap untuk belajar melanglang buana di angkasa bisnis yang keras dan tidak memiliki batas ini. Dan semua mata akan kembali mengarahkan pandangannya ke komplek landasan Hussein Sastranegara itu begitu pula dengan para karyawannya dapat menegakkan kepalanya kembali dan berkata saya orang IPTN dan kami telah membuktikan bahwa kami siap menjadi putera terbaik bangsa.
Selamat ulang tahun IPTN, doa seseorang dari masa lalumu ini tetap mengiringi kerja keras dan pengorbanan kalian di masa yang akan datang dan semoga para pemegang keputusan terbuka matanya dan mampu melakukan yang terbaik buat kalian.
Pangkalan Kerinci (Riau), Medio April 2001
***
Biodata
Chandra Adenan
Birth in Dabo-Singkep (Riau), September 24, 1957. Education & Training : 1977 ~ 1981, Law High School, Bandung (Certificate); 1984 ~ 1989m, Institut Technology Bandung, Computer Utilization Technic (Graduate); Course & Training 1980 - 1998. Carrier : 1981~1983, Engineering Application Programmer, PT.IPTN / Directorate of Technology; 1983~1989, MVS System Programmer, PT.IPTN / Pusat Komputasi IPTN; 1989~1992, Data Center Operation Supervisor, PT.IPTN / Pusat Komputasi IPTN; 1992~1993, Operation Coordinator, PT.NSI & Western Geophysical Joint Operation; 1993~1995, Network & Workstation Support Supervisor, PT.IPTN / Pusat Komputasi IPTN; 1995~1996, System Engineer, PT. Caltex Pacific Indonesia; 1996~1997, Senior System Engineer, PT.IPTN / IT Center; 1997~1999, System Engineer I, Cisco Systems Indonesia; 1999~now, IT/IS-Platform Superintendent, PT. Riau Andalan Pulp & Paper / Riaupaper (ITIS Dept). Technical Skill : IBM-MVS/ESA, JES2, DFP, TSO, ISPF/Dialog Manager, Assembler 370, PL/I, VS-COBOL, VS-Fortran, VTAM, Cisco Enterprise (Router/Switch/NMS), BreezeCom Wireless, Clipper, DBASE, Windows NT, Linux, Windows 95, MS-Office, MS-DOS, HP-UX, HP-Openview, IBM-Netview, CA-1, TLMS, DFHSM, DFDSS. Business/Managemeny Skill : IT Capacity planning, IT Infrastructure operation, Marketing Planning.
|