 |
PT. IPTN YANG SAYA TAHU DAN PT. DI YANG SAYA HARAPKAN
Ir. Djasli Djamarus, MSCS
Saya mengenal PT. Dirgantara Indonesia (PT. DI) sejak perusahaan tersebut bernama PT. Industri Pesawat Terbang Nurtanio (PT. IPTN), yaitu ketika saya masih menjadi mahasiswa di bidang keteknikan. Keberadaan PT. IPTN pada waktu itu demikian menjanjikan mengingat prediksi kebutuhan sarana transportasi udara yang demikian tinggi di Nusantara, boom minyak yang memacu kemajuan ekonomi pada saat itu dan juga tantangan untuk menguasai teknologi canggih yang diperlukan oleh PT. IPTN untuk menghasilkan produknya. Hal lain yang juga meyakinkan saya bahwa PT. IPTN akan menjadi suatu industri strategis yang berkelas internasional adalah demikian banyaknya para ahli dari perguruan tinggi yang disertakan menjalankan roda aktifitas PT. IPTN, ditambah lagi dengan sambutan masyarakat yang demikian hangat (banyak dibicarakan tentang keberadaannya).
Karena alasan-alasan tersebut, saya tidak menolak ketika ditawari untuk bergabung dengan PT. IPTN oleh dosen saya, DR. Sudjana Sapiie, di Pusat Komputasi Nurtanio (PKN). Dengan melalui proses penerimaan yang telah baku pada saat itu saya diterima sebagai karyawan PT. IPTN yang ditugaskan pada Pusat Komputasi (PKN). Pada saat saya bergabung, karyawan di PKN tidak terlalu banyak dan berdasarkan pengamatan, pada umumnya mereka mempunyai semangat kerja yang tinggi dan berusaha memahami berbagai teknologi baru yang diperlukan untuk mendukung misi IPTN waktu itu. Hal ini semakin menambah kepercayaan saya bahwa IPTN merupakan suatu asset nasional yang mempunyai masa depan yang cerah.
Namun haparan rupanya tinggal harapan, dari bulan ke bulan saya amati tampaknya karyawan IPTN semakin banyak saja, dan tidak sedikit di antara karyawan tersebut yang tidak mempunyai keahlian yang jelas hubungannya dengan tugas yang diberikan kepada mereka. Karena melihat kenyataan tersebut, saya mulai bertanya-tanya akan kesungguhan pimpinan dalam pengelolaan perusahaan, terutama yang berhubungan dengan dengan profesionalisme pekerjaan.
Hal ini saya rasakan semakin nyata ketika PT. IPTN juga melakukan pemborosan uang dengan melakukan proses screening khas orde baru yang bernama P4 (maaf saya lupa akronim dari apa P4 ini). Meskipun mengikuti dengan aktif keseluruhan acara, ikut berdiskusi, meyatakan pendapat maupun ketidak setujuan dalam forum yang dikatakan bebas itu, ternyata saya dinyatakan gagal atau tidak lulus dalam P4 tersebut. Karena hal ini saya beberapa kali ke markas tentara dan berurusan dengan mereka (istilah waktu itu adalah pihak berwajib).
Mungkin karena tidak mempunyai alasan yang tepat untuk memecat saya sebagai karyawan baik dilihat dari rekor prestasi dan kehadiran, pada waktu itu PT. IPTN melalui Kepala PKN (DR. Sudjana Sapiie yang juga meminta saya untuk bergabung di IPTN), meminta saya untuk mengundurkan diri. Dijelaskan bahwa beliau menerima desakan dari atasan dan pihak berwajib untuk memecat saya sebagai karyawan karena tidak lulus dari screening P4. Dengan segala hormat saya kepada beliau dan untuk menjaga karier beliau, maka saya tulis surat pengunduran diri sebagai karyawan PT. IPTN.
Meskipun belum lama bergabung, namun karena saya mengundurkan diri secara "baik-baik", maka Kepala PKN memberitahukan bahwa saya akan mendapat pesangon yang memadai akibat pemutusan hubungan kerja ini. Dikatakan bahwa uang tersebut dapat segera diambil, namun pada kenyatannya saya selalu gagal untuk meminta uang tersebut. Setelah kurang lebih empat bulan kemudian saya baru ketahui bahwa uang tersebut ditahan oleh seorang karyawan di bagian keuangan PKN. Seminggu setelah saya beritahukan masalah ini kepada Kepala PKN, barulah saya mendapatkan hak saya tersebut melalui transfer ke tabanas saya.
Sebagai seorang pekerja yang bersifat teknis, saya tidak pernah memikirkan hal seperti ini bisa terjadi pada diri saya. Saya bahkan tidak percaya bahwa ada orang di IPTN yang tega berusaha untuk mengambil uang orang yang sedang kehilangan pekerjaan. Namun demikianlah kenyataannya. Ketika telah berada di luar, baru saya ketahui bahwa sebenarnya selain "kawan" saya tersebut, banyak sekali maling yang bekerja di IPTN, bahkan dengan skala yang jauh lebih besar daripada sekedar mencuri pesangon.
Cerita di atas memperlihatkan bahwa sebetulnya pada waktu itu tidak ada profesionalisme karyawan di PT. IPTN. Meskipun bergerak dalam bidang teknologi canggih, PT. IPTN dikelola dengan seadanya dan banyak sekali dicampuri oleh kepentingan politik pihak penguasa waktu itu. Bahkan dapat dicurigai bahwa PT. IPTN hanya merupakan lipstik politik dari penguasa waktu itu untuk memperlihatkan giginya dalam kemajuan teknologi dalam kurun masa penguasa saat itu.
Hal lain yang juga memperlihatkan ketidaksungguhan PT. IPTN dalam mengembangkan misi bisnisnya adalah kenyataan bahwa jajaran direksi pada umumnya diduduki oleh mereka-mereka yang mempunyai banyak pekerjaan lain dan tidak dengan sungguh-sungguh memperhatikan (berkonsentrasi) pada pekerjaannya di perusahaan. "Teladan" yang demikian ini membuat karyawan dalam tingkat lebih bawah juga menganggap bahwa kerja di IPTN dapat dilakukan sebagai sambilan, sehingga mengakibatkan banyak di antara mereka yang mengikuti "keteladanan" tersebut dengan melakukan moon lighting di tempat lain, bahkan yang merugikan perusahaan, yaitu mereka yang memanfaatkan asset perusahaan untuk kepentingan pribadi.
Kini semuanya sudah berlalu, PT IPTN berubah nama menjadi PT. DI. Saya tidak tahu persis apa yang ingin dicapai dari perubahan nama ini. Namun modal dasar PT. DI untuk menjadi perusahaan yang cemerlang boleh dikata telah banyak terkikis dan sedikit sekali yang masih tersisa. Kondisi politik dan ekonomi yang pelik saat ini serta kepercayaan masyarakat internasional yang sangat tipis kepada Indonesia merupakan hambatan terbesar bagi PT. DI untuk berkembang.
Dalam kondisi yang demikian ini, maka sepatutnyalah PT. DI menyatakan bahwa saat ini adalah merupakan masa "survival" bagi perusahaan. Masa di mana seluruh kemampuan yang ada harus dimanfaatkan dengan sungguh-sungguh. Seluruh karyawan yang ada harus diajak untuk menyadari bahwa masa sulit ini hanya akan dapat dilalui apabila seluruh karyawan mulai dari tukang sapu sampai dengan direksi secara bersama memberikan prestasi terbaiknya dalam masa "survival" ini.
Kalimat di atas merupakan kalimat yang hanya mudah untuk diucapkan tetapi demikian sulit untuk dilaksanakan. Namun dalam kondisi bangsa yang terpuruk ini diharapkan karyawan PT. DI dapat tergerak hatinya untuk membangkitkan rasa nasionalisme mereka. Dalam kondisi ini diharapkan dapat timbul kesadaran bahwa dengan memberikan prestasi terbaik kepada perusahaan juga berarti telah berbakti kepada bangsa. Karyawan PT. DI harus diingatkan bahwa keberhasilan mereka dalam masa survival ini akan berdampak langsung maupun tidak langsung kepada diri mereka dan juga generasi berikutnya.
Berbeda dengan BUMN yang mengandalkan sumber daya alam yang ada di Indonesia (tambang, hutan atau laut), PT. DI merupakan perusahaan yang benar-benar harus mengandalkan kualitas sumber daya manusianya. Hanya dengan karyawan yang berkualitas dan berdedikasi PT. DI akan dapat lepas dari kemelut saat ini dan dapat melakukan misinya dengan sempurna untuk mencapai visi yang dicanangkan.
Dengan demikian satu-satunya cara untuk membangun PT. DI harus dimulai dengan peningkatan dan kualitas sumber daya manusia yang ada maupun yang akan disertakan pada masa mendatang. Menurut saya tiga hal yang harus dilakukan tanpa mengenal kompromi untuk peningkatan dan penjagaan kualitas karyawan perusahaan adalah sebagai berikut:
Sistem Penerimaan Karyawan (Recruitment system)
Seleksi penerimaan karyawan harus berdasarkan pada suatu sistem seleksi yang mampu untuk menjaring mareka yang akan menjadi asset perusahaan dan menghindari mereka yang diperkirakan akan menjadi beban perusahaan.
Perencanaan jenjang karier karyawan (Man power career planning)
Jenjang karier harus benar-benar jelas dan berdasarkan profesionalisme. Perlu dibuat persyaratan-persyaratan minimal yang diperlukan bagi seseorang untuk menduduki jabatan tertentu. Selain itu perlu juga direncanakan secara teratur pelatihan-pelatihan yang dapat meningkatkan kemampuan profesionalisme karyawan.
Sistem penghargaan (Reward and punishment)
Prestasi karyawan perlu diperhatikan dengan sungguh-sungguh. Penghargaan perlu diberikan kepada mereka yang berprestasi, demikian pula sebaliknya perlu ada tindakan yang tegas bagi mereka yang merugikan perusahaan.
Dari sisi bisnis, dengan kondisi yang sekarang ini, meskipun telah berpengalaman sekian lama, saya memperkirakan dalam waktu 5 tahun mendatang tidak akan banyak yang dapat dilakukan oleh PT. DI apabila hanya akan berkonsentrasi pada industri pesawat terbang. Karena itu saya berharap agar PT. DI dapat mensiasati kondisi ini dengan menjadikan setiap unit pendukung menjadi income generator, terutama bagi unit-unit yang berhubungan dengan bidang usaha yang masih tetap bertahan dalam masa krisis seperti teknologi informasi dan pendidikan/pelatihan.
Saya percaya apabila masa survival ini dapat dilalui dengan baik dan perhatian terhadap kualitas karyawan yang merupakan modal utama selalu diperhatikan dengan seksama, maka PT. DI perlahan tapi pasti dapat bergerak menuju visi yang telah dicanangkan dan dapat menjadi institusi yang dibanggakan secara nasional ….. Semoga !
Jakarta, April 2001
***
Biodata
Ir. Djasli Djamarus, MSCS
Mengajar di Universitas Trisakti dalam Bidang Teknologi Informasi 1986 - Sekarang, Kepala Pusat Komputer Trisakti 1990 - 1992, Ketua Jurusan Teknik Informatika - Universitas Trisakti 1996 - Sekarang. Konsultan dalam bidang MIS 1985 - Sekarang, Pusat Komputasi PT Nurtanio 1982 - 1984, Sclumberger, Field Engineer 1984 - 1985. Pendidikan, Master of Computer Science, New Jersey Institute of Technology (NJIT), New Jersey, USA, 1994. Sarjana Teknik Elektro, Institut Teknologi Bandung, 1983. Organisasi Profesi Anggota ACM, Anggota biasa DECUS (DEC Users).
|