REORIENTASI PRODUK PT. DIRGANTARA INDONESIA
DALAM ERA GLOBALISASI PERDAGANGAN BEBAS
( Membuka Paradigma Baru )**/

H. Soeharsono Sagir ***/

          Memasuki ULTAH duapuluh lima tahun PT Dirgantara Indonesia (d/h IPTN) maka PTDI memerlukan reorientasi dalam VISI, MISI dan Stategi sebagai produsen produk dirgantara : tidak lagi mengutamakan memproduksi pesawat terbang, sebagai misi kebanggaan nasional, tetapi membuat produk pesawat dengan strategi mampu dijual dipasar global - sebagai komoditi ekspor berteknologi tinggi - karena memiliki unggulan daya saing / competitive adventage, dalam input teknologi, kualitas, desain, pengembangan produk, harga, penyerahan tepat waktu dan pelayanan purna jual prima (after sales service, maintenance and repair) 48/

          Dalam visi Habibie, produk pesawat terbang, semata-mata didasarkan pada adanya proses nilai tambah - karena adanya input teknologi canggih - dengan sasaran akhir (misi) produk pesawat / canggih mampu menjadi kebanggaan nasional, karena dihasilkan oleh putera Indonesia. Habibie sebagai pemrakarsa industri dirgantara, tidak melihat faktor How to produce (bagaimana memproduksinya, apakah sumber daya-nya cukup tersedia) dan For Whom (untuk segmen pasar mana produk pesawat tersebut akan dijual) ; Habibie hanya mengacu pada keinginan What kind of product will be produced (produk apa yang dibuat) sebagai sasaran / misi kebanggaan nasional.

          Dalam manajemen kita mengenal pendekatan SWOT - analysis ; dilakukan dulu studi kelayakan usaha, melihat pada kekuatan / kemampuan sumber daya ekonomi (bahan baku, SDM, modal, teknologi dan kepemimpinan usaha) ada tidaknya kelemahan dilihat dari sumber daya ekonomi ; peluang-nya untuk memasuki pasar global ; dan kendala / hambatan apa yang akan dihadapi.

          Pembuatan produk (pesawat) tidak semata-mata hanya didasarkan pada pertimbangan nilai tambah (input teknologi canggih, hitech) dengan memberikan ilustrasi atau gambaran sederhana, sebagai berikut : jika satu Kg besi sebagai bahan baku seharga Rp 1.000,- ; melalui suatu proses produksi / pembentukan nilai tambah (berubah bentuk / form utility) menjadi kendaraan KIJANG bernilai US $ 11 / Kg ; melalui suatu proses produksi menjadi Mercedes akan bernilai US $ 33 / Kg ; jika diproses menjadi pesawat terbang, maka nilai besi tersebut mampu menjadi US $ 250 / Kg ; sedang harga beras hanya US $ 0,24 / Kg, maka berapa Ton beras yang harus kita produksi untuk dapat mengimport : TV berwarna, mobil, kapal dan pesawat ; kalaupun sanggup memproduksi beras, belum tentu laku, karena orang hanya membutuhkan makanan dua kali sehari.

          Dengan dasar pemikiran nilai tambah tinggi tersebut - dari tiga pilihan - maka pilihan paling tepat, memproduksi pesawat terbang N 250 (Gatotkaca), berbobot 2,5 Ton ; pesawat terbang memiliki nilai tambah tinggi, sehingga dapat memperoleh nilai tukar / harga yang lebih menguntungkan.49/

          Padahal value added yang identik dengan value creation, identik dengan :

  • harga terjangkau oleh pelanggan / pembeli, bersaing - murah

  • barang yang dijual sesuai dengan harapan / selera pelanggan / pembeli,

  • kualitas yang diinginkan pelanggan / pembeli ; value added = harga kualitas produk

  • apa yang dibeli / diterima = apa yang diberikan / dijual .50/

          Jelas kiranya bahwa penganbilan keputusan untuk membuat pesawat terbang - hanya didasarkan pertimbangan nilai tambah / input teknologi canggih - merupakan kekeliruan, karena pesawat diproduksi untuk dijual kepasar ekspor / global (internasional) tidak hanya dijual paksa dipasar dalam negeri atau laku terjual melalui barter atau imbal beli dengan beras ketan (Thailand), kapas (Kzakhstan), mobil (Proton Saga, Malaysia) dan kedelai - jagung dari Laos.51/

          Mengenai kendala kekurangan modal untuk pembuatan pesawat, B.J.Habibie -sebagasi Menristek / Pimpinan Projek Produk Pesawat IPTN - hanya dapat berdalih, bahwa beliau hanya pelaksana yang mendapat izin, petunjuk dan restu Presiden Soeharto ; mengenao bagaimana dan darimana sumber modal bukan urusan dan tanggungjawab Pimpinan Proyek untuk berfikir dan mencari dari sumber-nya.52/

          PT. IPTN pernah mencoba untuk memperoleh kredit komersial dari Bank di Singapore untuk pembiayaan produk pesawat IPTN, tetapi ditolak oleh Bank ybs karena dianggap permintaan kredit tersebut tidak feasible.

          Demikian pula ketika menjawab wawancara pers, mengenai kemungkinan pemasaran produk IPTN, jika mengingat Pabrik Fokker (Nederland) setelah berdiri satu abad, ternyata bangkrut ; dengan santainya BJ Habibie menjawab bahwa Fokker, dibuat oleh negara (kecil) Nederland, sehingga pemasarannya tergantung pada luar negeri, begitu permintaan pasar menurun, maka Fokker terpaksa berhenti memproduksi. Indonesia negara besar, berpenduduk banyak terdiri atas ribuan pulau, sehingga tidak akan mengalami kesulitan pemasaran pesawat dipasar dalam negeri ; orientasi pasar dalam negeri.53/

          Input teknologi canggih, hanya merupakan salah satu unsur unggulan daya saing ; masih ada unsur unggulan daya saing ditingkat mokro / unit usaha yang perlu menjadi acuan : kualitas, desain, pengembangan produk, harga jual produk, penyerahan produk tepat waktu dan pelayanan purna jual.

          Untuk membuat suatu produk secara utuh (pesawat terbang) tidak hanya diperlukan kemampuan teknologi membuat (What kind of product) tetapi harus didahului dengan studi prospek pemasaran produk (For Whom) yang meliputi : market demand forecasting, consumers taste analysis, marketing environment, potential competitors, product design and pricing, merket psychology, marketing planning, product distribution and market acceptance, market research and statistics analysis, product promotion and advertising.54/

          Dilihat dari sudut makro, unggulan daya saing global dari 47 negara pengekspor - Indonesia memperoleh peringkat ke 45 (2000) - dilihat dari indikator : kemampuan manajemen, kondisi ekonomi domestik, kualitas SDM, penguasaan IPTEK, pelayanan publik / pemerintah, tersedianya prasarana umum, kesiapan memasuki pasar global dan kondisi keuangan nasional.55/

          Yang dimaksud dengan kesiapan mamasuki pasar global, tidak lain kesiapan memenuhi standar internasional (ISO - WTO) ; sampai saat ini pesawat CN 250 / IPTN belum memperoleh sertifikat laik terbang, sehingga tipe tersebut belum dapat diprodusir oleh PT Dirgantara Bandung, atau menjadi prototipe pesawat yang dapat dirakit / dibuat di pabrik pesawat di luar negeri.

          Indonesia saat ini telah memiliki sepuluh industri strategis, ialah : Industri Penerbangan (PT DI d/h PT IPTN), Industri Maritim (PT PAL), Senjata dan Amunisi (PT PINDAD), Industri Bahan Peledak (PT DAHANA), Industri Baja (PT KRAKATAU STEEL), Industri Gerbong Kereta Api (PT INKA), Industri Telekomunikasi (PT INTI), Industri Elektronika (PPEN - LIPI) ; dari sepuluh industri strategis tersebut, PT IPTN dan PT PAL masih merupakan POS rugi

          Masing-masing sebesar Rp 186 milyar dan Rp 19 milyar (1995) ; Giri Suseno juga menjelaskan bahwa laba usaha BUMNIS telah dicapai oleh PT Krakatau Steel (Rp 257 milyar), PT INTI (Rp 49 milyar) dan PT INKA (Rp 10,8 milyar) ; Utang terbesar terdapat pada PT IPTN (Rp 2,17 Trilyun) dan PT PAL (Rp 1,40 Trilyun) dari total kredit BUMNIS sebesar Rp 4,86 trilyun.56/

          Sejak beroperasi secara komersial duapuluh tahun yang lalu, IPTN belum pernah meraih keuntungan ; bahkan dana reboisasi DEPHUT sebesar Rp 400 milyar telah dirubah statusnya menjadi Penyertaan Modal Pemerintah (1997).

          BJ Habibie mengungkapkan bahwa investasi untuk N 250 yang akan laik terbang 1997, baru akan mencapai break even, jika mencapai penjualan pesawat sebanyak 200 pesawat ; dalam kesempatan sebelumnya (1986) Habibie memperkirakan pada tahun 2006 (dua dasawarsa), Indonesia akan mampu mengekspor produk Industri Berteknologi Tinggi (IBT) sampai 60 - 70 % dari total ekspor ; baik komoditi minyak bumi, komoditi non migas primary product (karet, kayu dan kelapa sawit) dan manufactured industry akan tergeser peranannya menjadi 30 - 40 % saja.57/

          Padahal menurut The Economist (1986), High - Tech Commodity, sebagai industri strategis, yang memiliki prospek pemasaran dan laba usaha terbesar adalah : Elektronika, Telekomunikasi dan Otomatisasi Peralatan Kantor. Negara yang menguasai tiga teknologi tinggi yang paling strategis : semiconducters, computer dan alat telekomunikasi pasti akan mendominasi produk industri dimasa depan ; microchips, computers dan telecoms dalam duapuluh tahun mendatang (2006) akan menggantikan peran yang saat ini masih dikuasai oleh minyak mentah, besi baja dan produksi kapal ; periode Hiroshima (1945) sampai perang Yom Kipur (1973).58/

          Dari sepuluh daftar produk Industri Berteknologi Tinggi (high - tech) strategis versi The Economist : Missiles and Spacecraft ; Electronics and Telecoms ; Aircraft and Parts ; Office automation ; Ordnance and Acessories ; Drugs and Medicine ; Inorganic Chemicals ; Professional and Scientific Instruments ; Engines, Turbines and Parts ; Plastic, Rubber and Syntetic Fibres ; Indonesia mengutamakan / memprioritaskan industri pesawat terbang (aircraft) walaupun sebenarnya masih ada pilihan lain dengan resiko pemasaran dan persaingan yang lebih rendah (electronics and telecoms dan Office automation).59/

          Dari apa yang secara singkat, telah dikaji diatas, maka sebagai catatan akhir kesimpulan dapat diajukan sbb :

  1. PT Dirgantara Indonesia, sebagai produsen pesawat, harus melakukan reorientasi Visi, Misi dan Strategi ; tidak lagi lebih menitik beratkan pada produk pesawat terbang utuh (N 250 dan N 270), tetapi lebih menitik beratkan pada produk Parts (komponen pesawat) yang saat ini telah memiliki captive market high precision tools, untuk Boeing, Daimler, Chysler Airbus, Lockheed Martin F 16 dan Mitssubishi Heavy Industries. Industri Pesawat Terbang, tidak terbatas hanya membuat pesawat utuh tetapi ditambah Parts atau Komponen pesawat (daftar Produk Industri Berteknologi Tinggi, The Economoist, 1986).

  2. Untuk mampu bersaing dipasar global, suatu produk harus memenuhi unsur unggulan daya saing, dalam : desain, mutu produk, pengembangan produk, input teknologi, nilai tambah, penyerahan tepat waktu dan pelayanan purna jual.

  3. Untuk produk pesawat (N 250 - N 270) sementara ini lebih tepat dirubah sebagai kegiatan R and D ; pengembangan prototipe pesawat yang kemudian dijual sebagai prototipe (licensing) untuk di - rakit dinegara maju yang telah memiliki industri pesawat (Amerika Serikat, Jerman atau Spanyol), kapasitas 64 - 68 penumpang (N 250). Tidak untuk memprodusir di PT Dirgantara - Bandung, mengingat untuk dapat mencapai break even, diperlukan jumlah penjualan 200 unit pesawat N 250 (BJ Habibie, 1997).

  4. Industri Berteknologi Tinggi sebagai komoditi ekspor yang harus kita kuasai, tidak hanya penguasaan teknologi membuat pesawat terbang, sebagai kebanggaan nasional ; kebanggaan nasional dapat kita raih melalui tercapainya peringkat unggulan daya saing, minimal sepuluh besar dari 47 negara pengekspor ; Singapore, Hongkong dan Jepang, telah masuk dalam sepuluh besar unggulan daya saing dari 47 negara pengekspor dipasar global ; Indonesia merosot dari peringkat : 31 (1994), 33 (1995) menjadi 41 (1996) dan 45 (2000).

          Demikian catatan kajian yang dapat diajukan.
Bandung, 26 Maret 2000


***

Biodata
H. Soeharsono Sagir

Lahir di Tegal 17 Januari 1934. Magistar Universitas Warsawa - Polandia. Mantan Dekan Fak. Ekonomi Universitas Padjadjaran Bandung; Mantan Staf Ahli Pangkopkamtib, Menaker dan Menkopolkam; Dosen di berbagai Institusi Pendidikan, Kolumnis Ekonomi dan pemerhati Ilmu dan Teknologi di berbagai harian, majalah dan jurnal sejak 1986 s/d sekarang; Presenter/Narasumber pada berbagai seminar.