FOKUS PT. DIRGANTARA INDONESIA
DALAM INDUSTRI PENERBANGAN
UNTUK MERAIH KEUNGGULAN

Marsekal Madya TNI (Purn.) Kardono

Pendahuluan
          Pada tahun 70-an sepulang dari Jerman, Pak Dr. B.J.Habibie datang kekantor saya di Jalan Hayam Wuruk (Direktorat Jenderal Perhubungan Udara) dan menjelaskan dengan panjang lebar, rencana besar pembangunan industri pesawat terbang di Bandung. Pak Habibie meminta dibantu pelaksanaan khususnya dalam pemberian sertifikasi kelaikan udara CN 212. Karena tergerak hati, saya serahkan personalia Perhubungan Udara (dari Direktorat Keselamatan Penerbangan u.i. Subdit Kelaikan Udara, nama waktu tahun 70-an) yang diperlukan. Setelah koordinasi dengan Dirjen Industri Dasar (Alm. Ir. Suhartoyo) program tersebut dapat terlaksana dan diresmikan berkat dukungan penuh dari Pemerintah. Ini suatu langkah untuk menguasai Udara Indonesia.

          Hati saya terketuk atas permintaan bantuan Pak Habibie, karena permintaan ini adalah kelanjutan dari program Angkatan Udara Republik Indonesia untuk membangun kekuatan udara yang tangguh. Produksi pesawat terbang di Indonesia tidak terlepas dari kegiatan yang dimulai oleh para perwira muda yang tergabung dalam Biro Rencana dan Konstruksi Angkatan Udara yang berhasil memproduksi enam pesawat glider NWG (Nurtanio Wiweko Glider).

          Selanjutnya Opsir Udara III Wiweko Soepono dan Opsir Udara II Nurtanio membuat pesawat olah raga jenis Piper Cub dengan menggunakan mesin Harley Davidson yang diberi inisial NURWEKO, kemudian diberi registrasi RI-X (WEL-1). Sedangkan Opsir Muda Udara III Sumarsono dan Sersan Mayor Udara Susanto telah menciptakan helicopter pertama buatan Indonesia yang kemudian diberi registrasi RI-H.

          Tidak berlebihan bila dinyatakan bahwa perwira muda tersebut adalah peletak dasar bagi berdirinya Lembaga Persiapan Industri Penerbangan (LAPIP) pada tanggal 16 Desember 1961, yang berhasil membuat beberapa pesawat terbang antara lain : Kumbang 260, Kunang, Kepik, Belalang, Kolintang, dll.

          Dalam perkembangannya, LAPIP kemudian dikenal sebagai Lembaga Industri Penerbangan Nurtanio (LIPNUR) yang mampu menjalankan Full manufacturing dan modifikasi pesawat Gelatik. Keberhasilan yang diperoleh dalam industri tersebut kemudian menjadi dasar perkembangan PT. Industri Pesawat Terbang Nurtanio (IPTN), yang selanjutnya menjadi Industri Pesawat Terbang Nusantara dan pada akhirnya menjadi PT. Dirgantara Indonesia. 67/

          Kegiatan khusus di lingkungan Angkatan Udara Republik Indonesia lainnya yang tercatat dalam sejarah industri dan pembangunan teknologi antara lain adalah :

  • Pabrik Roket, dan pabrik bahan peledak "Dahana"

  • Kerjasama Penelitian dan Pengembangan bersama ITB (Roket Kartika I, Microwave Application by Stimulated Emmission Navigation), Universitas Gajah Mada (Gravitasi, Roket Pasopati).

  • Lembaga Kesehatan Penerbangan dan Ruang Angkasa Luar

  • Perusahaan Negara Acrial Survey

Pemikiran
          Kemajuan suatu bangsa, tergantung pada beberapa faktor utama, antara lain adalah :

  • Sumber daya manusia, dan

  • Penguasaan Teknologi

  • Sumber daya alam

          Meskipun sumber daya alam merupakan salah satu faktor, ternyata tidak merupakan faktor penentu bagi keunggulan suatu bangsa. Bahkan bila tidak dikelola dengan baik, sumber daya alam sering kali tidak dapat memberikan nilai tambah yang berarti. Hal ini nyata bahwa pada kenyataannya, hasil bumi yang merupakan komoditi dari hasil pertanian baik kopi, cokelat, gula dll, harganya semakin murah dari waktu ke waktu. Sebaliknya, hasil produksi teknologi tinggi baik berupa hardware maupun software, harganya semakin meningkat dari waktu ke waktu. Bahkan sebagai upaya untuk melindungi hak ciptanya, negara-negara maju melindungi produknya dengan hak cipta intelektual.

          Sebagai ilustrasi atas keunggulan beberapa bangsa di dunia, dapat diambil contoh negara Jepang yang tidak mempunyai sumber daya alam, namun berhasil menjadi negara maju dan kaya. Jepang memiliki sumber daya manusia yang unggul, baik dalam hal budaya dan disiplin kerja maupun penguasaan teknologi tinggi. Tentu saja Jepang tidak menguasai seluruh teknologi tinggi, namun bangsa Jepang telah mampu menguasai beberapa teknologi tinggi yang telah dipilihnya secara seksama. Dalam hal ini Jepang menguasai teknologi tinggi terutama untuk barang konsumer. Dengan menerapkan positioning (pemilihan posisi) yang jelas dan fokus (pemusatan perhatian) pada beberapa produk teknologi pilihan, termasuk electronic dan automotive, maka Jepang telah berhasil menempatkan bangsanya pada posisi terhormat di dunia.

          Contoh lain adalah negara Singapura yang juga tidak memiliki sumber daya alam, namun mampu menjadi negara maju. Singapura telah memposisikan diri dalam penguasaan teknologi dan management dibidang jasa pelayanan (service industry). Pusat perhatiannya adalah jasa perdagangan, keuangan / perbankan dan transportasi. Untuk itu, Singapura mempersiapkan sumber daya manusianya dengan sangat baik. Bahkan untuk mengisi kekurangan tenaga akhli, tidak segan-segan Singapura mengundang tenaga akhli asing untuk tinggal dan bekerja di Singapura dengan jaminan sosial yang sangat baik. Dengan kesungguhannya menyiapkan sumber daya manusia untuk industri yang telah dipilihnya, maka Singapura telah mampu mencapai income percapita yang jauh melampaui negara tetangganya yang memiliki sumber daya alam yang berlimpah.

          Pentingnya faktor sumber daya manusia juga diperhatikan oleh Amerika Serikat. Meskipun Amerika telah menjadi negara adidaya, tetap bersaing untuk mencerdaskan bangsanya menjadi bangsa yang lebih unggul, bahkan dengan cara mengundang tenaga akhli asing agar mau pindah dan bekerja di negara tersebut. Sebagai contoh yang paling menarik adalah "brain drain" tenaga akhli dari Rusia ke Amerika Serikat. Pada masa-masa berakhirnya perang dingin, Universitas-universitas dan lembaga penelitian terkemuka di Amerika Serikat telah memiliki daftar para tenaga akhli dan Professor dari Rusia yang akan direcruit. Segera setelah itu langkah tersebut ditindak lanjuti, dan sejak awal tahun 1990-an maka setiap tahun terdapat lebih dari 2000 orang tenaga akhli Rusia telah pindah untuk menetap dan bekerja di Amerika Serikat. 68/

          Dalam pembangunan industri, selain peningkatan kekuatan sumber daya manusia untuk penerapan teknologi, maka dalam perlu dipilih positioning yang tepat dan penetapan pusat perhatian dalam penggunaan sumber daya. Untuk itu perlu dikaji beberapa faktor lingkungan, antara lain adalah :

  • Kekuatan ekonomi nasional dan global

  • Daya beli pasar

  • Peta persaingan Industri global

          Faktor lingkungan tersebut berada diluar kendali pengelolaan industri, namun akan sangat menentukan keberhasilan persaingan. Berdasarkan kajian yang seksama atas faktor lingkungan tersebut, maka dapat diidentifikasikan peluang dan hambatan yang dihadapi. Berbekal pada kekuatan dan kelemahan sumber daya manusia dan penguasaan teknologi yang dimiliki, dan identifikasi faktor peluang dan hambatan, maka dapat ditentukan Positioning dan Fokus dari Dirgantara Indonesia dengan baik agar dapat diraih keunggulan dalam persaingan global.

          Sebaliknya bila kajian atas lingkungan usaha tidak dilaksanakan dengan seksama, maka kebijakan industri tidak akan menghasilkan positioning strategy yang terbaik dan tidak diperoleh fokus yang jelas dalam langkah strategi usahanya.

          Demikian pula para pelaksana akan dapat memusatkan perhatian dengan baik dan memusatkan penggunaan sumber daya alam dan kekuatannya pada sasaran yang telah ditentukan.

          Sebaliknya, bila positioning tidak jelas dan industri tidak memiliki fokus, maka sering kali para pembuat kebijaksanaan dan pengelola perusahaan merasa telah menguasai segalanya, dan seakan-akan hasil produknya dapat hadir disemua pasar. Demikian pula para pelaksana tidak memiliki prioritas penggunaan sumber daya dan kekuatannya, sehingga seringkali terjadi inefisiensi karena penghamburan sumber daya yang terbatas.

          Pada akhirnya, perusahaan yang tidak memiliki strategi positioning dan fokus yang jelas, tidak bisa memiliki pangsa pasar yang pasti. Karena perusahaan ini tidak memiliki satupun produk yang unggul. Perusahaan akhirnya tidak akan dapat mengerjakan apapun, karena produk apapun yang dibuat, tidak laku untuk dijual dipasar, karena tidak mampu bersaing.

Tanggapan
          Kegiatan PT. Dirgantara Indonesia sebenarnya diawali dari kegiatan industri Angkatan Udara Republik Indonesia yang sangat jelas positioningnya dan jelas fokusnya. Positioningnya jelas yaitu : Industri pendukung kekuatan udara Indonesia, mengarah kepada kekuatan dirgantara yang diawali dengan fokusnya adalah industri pesawat terbang. Namun pada akhir-akhir ini, positioning PT. Dirgantara Indonesia mulai kabur dan tidak fokus. Hal ini tampak dari hasil produksi dengan jenis produksi terlalu banyak dan tidak mencerminkan positioning strategy yang baik, dan tidak fokus.

          Gambaran ini jelas dari banyaknya jenis produk yang dikerjakan antara lain:

  1. NC 212
  2. CN 235
  3. N 250
  4. N 2130 (rencana)
  5. Special Mission Aircraft
  6. Aircraft and Industrial Part & Component
  7. Aircraft and Industrial Tooling & Equipment Manufacturing
  8. Manufacturing Services
  9. Interior
  10. Technology & engineering Services
  11. Aircraft Services
  12. Helicopter
  13. Aerospace System
  14. Weapon System
  15. Information Technology Center.
  16. Advance Technology Education Center.

          Beberapa produk di atas telah menyimpang dari core business PT. Dirgantara Indonesia. Sebagai contoh :

  • Industrial Parts & Component
  • Industrial Tooling & Equipment Manufacturing
  • Manufacturing Services
  • Interior (selain untuk pesawat udara : untuk kapal dan kereta api)
  • Technology & engineering services (selain untuk kedirgantaraan)
  • Information Technology Center (selain untuk kedirgantaraan)
  • Advance Technology education Center.

          Kegiatan-kegiatan ini bukan core business PT. Dirgantara Indonesia seperti yang ditetapkan pada awal usahanya (LAPIP, LIPNUR, IPTN/INDUSTRI PESAWAT TERBANG NURTANIO).

          Perlu disadari bahwa terdapat perbedaan karakteristik yang sangat penting antara produk kedirgantaraan dan produk non kedirgantaraan, terutama dalam hal ketelitian dan toleransi yang diijinkan dalam penyimpangan kualitas.

          Produk dirgantara, lebih lagi yang berteknologi tinggi, mempunyai tingkat ketelitian, kualitas yang sangat tinggi, dan hanya mengijinkan toleransi terhadap penyimpangan kualitas yang sangat kecil. Untuk itu, diperlukan kedisiplinan dan tingkat pengetahuan yang sangat tinggi.

          Sedangkan pada barang industri umumnya, tingkat ketelitian dan kualitasnya tidak setingkat dengan produk dirgantara. Untuk ini tidak diperlukan tingkat kedisiplinan yang lebih terlalu tinggi.

          Banyaknya produk non dirgantara yang ditangani oleh PT. Dirgantara Indonesia tersebut mencerminkan kurang jelasnya positioning perusahaan, yang pada akhirnya menghasilkan strategi usaha tanggung dan tidak fokus sehingga tidak dapat diperoleh tingkat kesempurnaan dan keahlian / ketrampilan untuk mencapai kualitas produk terbaik didunia.

          Kualitas produk Dirgantara Indonesia yang tanggung, menyebabkan produknya tidak mampu bersaing dalam sistim ekonomi terbuka (open economic system). Karena, dalam sistim ekonomi yang terbuka, DI tidak lagi dapat meminta perlindungan dari Pemerintah untuk memonopoli pasar. Oleh karena itu, calon pembeli bisa mendapatkan alternatif produk dari sumber yang lain, yang dapat memberikan nilai tambah lebih baik. Rendahnya kualitas PT. Dirgantara Indonesia akan menghambat keunggulannya dalam persaingan global.

          Kita sadari bahwa saat ini bahwa PT. Dirgantara Indonesia belum mampu menghasilkan produk yang menempati posisi terbaik dikelasnya. Sebagai akibatnya jumlah produksi tidak dapat mencapai skala ekonomi, dan pada akhirnya produksi harus berhenti karena tidak dapat menutup biaya variable sekalipun.

          Yang perlu pemikiran lebih mendalam ialah positioning PT. Dirgantara Indonesia dimasa lalu (IPTN) yang paling nyata adalah kebijakan untuk memproduksi N-2130. Pemilihan positioning untuk memproduksi N-2130 sebagai pesawat terbang dengan jumlah penumpang kemampuan sekelas dengan B-737 dan atau MD-80 yang selama ini pasarnya dikuasai oleh Boeing dan Mc Donell Douglas.

          Keputusan untuk memproduksi N-2130 dapat diartikan : pernyataan persaingan langsung dengan produsen kelas dunia : Boeing dan Mc Donell Douglass yang telah memiliki posisi yang sangat kuat terhadap jaringan pemasok (suppliers) maupun pelanggan (customers) untuk pesawat kelas ini.

          Oleh karena adanya ancaman persaingan tersebut terhadap Boeing dan Mc Donell Douglass, maka dalam waktu singkat seluruh sistim IPTN dibuat tidak berdaya oleh pesaingnya, baik secara langsung maupun tidak langsung.

          Secara langsung, IPTN tidak akan mendapat bantuan teknis maupun ekonomis dari negara pesaing terutama Amerika Serikat. Meskipun mungkin, IPTN memperoleh pesanan pekerjaan dari pesaingnya tetapi pekerjaan itu sebenarnya bukan pekerjaan yang menjadi kemampuan utama (bukan core competent IPTN, namun merupakan side businessnya). Dengan adanya order side business dalam jumlah besar, IPTN seringkali harus menyelesaikan pemesanan tersebut meskipun harus mengorbankan sistim dan management produksi pesawat terbang yang menjual core businessnya.

          Selain itu, secara tidak langsung para pesaing IPTN dapat memakai jalur kebijakan nasional, untuk mempengaruhi kebijakan dalam bidang ekonomi dan keuangan termasuk sertifikasi kelaikan udara untuk menghambat program produksi IPTN.

          Kelemahan lain dari IPTN, selain tidak memiliki strategi positioning dan fokus yang baik, IPTN juga tidak bersungguh-sungguh dalam pembinaan Sumber Daya Manusianya. IPTN tidak berkonsentrasi untuk mengirimkan SDM terbaik yang dimilikinya ke lembaga pendidikan yang terbaik di dunia.

          Dalam pemberian bea-siswa, seringkali diketahui bahwa, IPTN memberikan bea-siswa di Sekolah/Universitas yang kurang berkualitas diluar negeri, tanpa bersungguh-sungguh memilih sekolah/universitas terbaik. Kebijakan ini sangat berbeda dengan kebijakan/strategi negara lain seperti Cina, Jepang, Singapura.

          Pemerintah Negara dan Perusahaan besar dinegara tersebut hanya memberikan bea-siswa untuk sekolah/universitas terbaik (the Best 10) dari negara tujuan. Tujuan mereka memilih Universitas terbaik, adalah untuk beberapa hal, antara lain :

  • Memperoleh jaringan research & development terbaik (yang pada umumnya berada kampus atau berafiliasi dengan Universitas terbaik).

  • Memperoleh jaringan lobby yang kuat dinegara bersangkutan (umumnya para alumni dari lembaga pendidikan terbaik disuatu negara, menempati posisi penentu kebijakan dinegara tersebut).

          Sebagai contoh, Cina telah mempersiapkan sumber daya manusianya dengan secara masal, dengan sungguh-sungguh. Sejak tahun 1990-an, Cina telah mengirimkan ribuan tenaga mudanya yang cerdas, kebeberapa Universitas terbaik di Amerika Serikat, antara lain : Harvard, Stanford, MIT, University of California, dll. Di Harvard University saja, Cina mengirimkan ribuan mahasiswanya untuk mempelajari sistim ekonomi terbuka dan kebijakan pemerintahan barat, meskipun Cina masih menerapkan sistim ekonomi yang relatif tertutup.

          Sebagai hasilnya, Cina saat ini telah memiliki jaringan perdagangan yang sangat mantap dengan Amerika, bahkan memiliki status The Most Prefered Trading Partner oleh Amerika Serikat.

          Demikian pula Pemerintah Singapura telah sekian waktu, selalu mengirimkan pegawai negeri, perwira polisi dan perwira militernya kelembaga pendidikan terbaik didunia. Sebagai hasilnya, maka dapat dikatakan bahwa strategi pemerintahan dan pelayanan masyarakat Singapura termasuk yang terbaik didunia. Sebagai hasilnya, Singapura telah dapat menetapkan kebijakan industri nasional yang memusatkan pada industri jasa pelayanan (service industri), dalam bentuk cluster (kumpulan yang saling terkait). Dengan demikian maka seluruh perhatian dipusatkan pada clusters tersebut dan seluruh daya dikerahkan untuk mencapai usaha pelayanan yang terbaik didunia.

          Selain kedua negara tersebut, maka Jepang adalah negara yang telah lama menerapkan kebijakan mengirimkan mahasiswanya untuk memperoleh pendidikan dinegara maju. Umumnya mereka ditempatkan pada negara tujuan, bukan sekedar mencari ilmu. Para mahasiswa atau pegawai yang ingin meningkatkan karier dipersiapkan penguasaan bahasa-nya (terutama bahasa tulis) dengan sangat baik, untuk dapat masuk ke perguruan tinggi terbaik. Demikian pula setelah selesai pendidikan, umumnya mereka tidak langsung pulang, namun tetap tinggal selama beberapa tahun dinegara tersebut, dengan tugas untuk membangun jaringan (network) businessnya. Setelah jaringan ini berjalan dengan baik, kemudian mereka baru pulang.

Saran
          Sebagai perusahaan yang bermula dari kegiatan industri Angkatan Udara yang selalu mengandalkan teknologi tinggi, hendaknya PT. Dirgantara Indonesia tetap memposisikan diri dan fokus pada kegiatan usaha penerbangan dan teknologi tinggi. Perlu senantiasa disadari bahwa produk pesawat terbang adalah Capital Intensive, Technology Intensive dan Labor Intensive serta memiliki standar kualitas yang sangat tinggi. Untuk itu maka perlu dilakukan beberapa langkah strategis sebagai berikut :

  • Tetapkan positioning dan fokus usaha pada core business saja. Jangan masuk ke industri otomotive atau yang lebih rendah tingkat kualitasnya, karena akan merusak kedisiplinan dan budaya kualitas tinggi. Lepaskan samasekali industri yang tidak ada kaitannya dengan kedirgantaraan.

  • Hindari persaingan langsung dengan Boeing dan Airbus.

  • Pilih partner industri dari negara yang memiliki jaringan dan access teknologi tinggi dan teknologi ruang angkasa, karena pengembangan dan penerapan teknologi tinggi sebagian besar terkait dengan teknologi ruang angkasa.

  • Pertimbangkan untuk mengutamakan pasar domestik sebagai basis, kuasai pasar domestik sebelum menguasai pasar internasional.

  • Kembangkan cluster industri nasional dan identifikasi dengan baik produk yang diperlukan pasar domestik, kuasai pangsa pasar domestik, capai skala ekonomi

  • Pertahankan kelangsungan produksi dan pekerjaan untuk mempertahankan skill, knowledge dan disiplin serta moral yang tinggi.

  • Bina SDM dan Berikan bea-siswa pada pegawai/mahasiswa ikatan dinas, hanya pada Universitas terbaik (The Best 10). Perbaiki sistim recruitment dan pilih SDM terbaik dalam recruitment.

          Dengan langkah tersebut diatas, maka dapat diharapkan PT. Dirgantara Indonesia akan menjadi ujung tombak industri penerbangan dan teknologi tinggi di Indonesia.

Penutup
          Demikian sumbangan pemikiran kami dari hasil pengamatan yang mungkin kurang atau tidak lengkap, kiranya masih dapat berguna. Apabila ada hal yang tidak sesuai harap dapat dimaafkan.
Jakarta, 23 Maret 2001



***

Biodata
Marsekal Madya TNI. (Purn) Kardono

Lahir di Yogyakarta, Sleman, Godean 12 Desember 1929. Jabatan Purnawirawan ABRI (TNI - AU). Pekerjaan : Komisaris Utama PT. Indonesian Airlines Avipatria; Komisaris PT. Sarana Yogya Ventura, Yogyakarta; Yayasan Keluarga Secohardjono; Yayasan Pendidikan SMP-II, Yogyakarta; Yayasan Bina Angkasa; Yayasan Assalam ( Mesjid di Halim PK ); Yayasan Pencinta Lingkungan Hijau; Yayasan Sepak Bola Indonesia (PSSI); Yayasan Aroma Polonia ( Keluarga ); Yayasan RPS Sastrosuwignyo ( Sebagai Wakil, Yayasan Keluarga ); Ketua Dewan Penasehat PBSI, DKI Jakarta; Yayasan Yasema (Sepak Bola Mataram); Yayasan Bina Mulya Angkasa ( Wakil ). Pengalaman kerja : Komando Grup Komposisi, Halim PK, SQ-II, 1-9-1955 s/d 1957; Dan Lanud Yayasan SMA-III Padmanaba, Yogyakarta, Palembang, Merangkap Pd. Panglima Korud I, Sumatera, 7-7-1962 s/d 1963; Panglima Korud I Sumatera, Merangkap Dan Lanud Medan, 11-4-1963 s/d 6-3-1965; Panglima Korud-V, Jakarta, 30-12-1965; Danjen Komando Pendidikan, 17-5-1966 s/d 1969; Anggota MPRS, 6-3-1967 s/d 1972; Panglima Kodau-IV, Surabaya, 15-8-1969 s/d 1972; Dirjen Perhubungan Udara, Jakarta, 14-6-1972 s/d 1979; Ketua Delegasi dalam mengadakan perundingan pada sub-sektor Perhubungan Udara di negara-negara Asia Pacific, Timur Tengah, Eropa, Amerika dan Asia Tenggara, serta badan-badan ICAO di Asia Pacific dan Canada, sesuai dengan 22 Kepres (20-1-1973 - 5-5-1979), 27 Surat Kuasa Menlu (3-12-1973 - 30-3-1979) dan 6 SK Menhub (8-2-1974 - 18-3-1979), 2-1-1973 s/d 5-5-1979; Anggota MPR, 26-9-1972 s/d 21-6-1979; Ketua FAL, (Facilitation Departemen Perhubungan), 18-6-1979 s/d 29-1-1986; Komisaris PT. MNA, 31-1-1978; Sekretaris Militer Presiden RI, 27-6-1979 s/d 28-1-1986; Sekjen Dewan Tanda-Tanda Kehormatan RI, 1979 - 1986; Irjen Pembangunan Inpres/Kes/Bantuan Presiden, Setneg, 29-1-1986 s/d 16-7-1994; Wapakokar 02 / Setneg, 1986 - 1994; Anggota MPR, 1992 - 29-8-1997.