 |
KONSEPSI PT. DIRGANTARA INDONESIA
MENYONGSONG ERA ALIH TEKNOLOGI
ALAT UTAMA TNI AL
Kolonel (M) M. Subechi - Litbang TNI-AL
Pendahuluan
Industri Nasional yang syarat dengan teknologi seperti halnya PT. Dirgantara Indonesia tidak diragukan lagi kecanggihannya. Pada dasa warsa 80 an TNI AL mengadakan dari luar negri berbagai alat utama (alut) diantaranya KRI (Kapal Republik Indonesia) klas Fatahilah, KRI klas Mandau, KRI klas Cakra dan beberapa FPB (Fast Patrol Boat) dengan pembelian lisensi dan dilaksanakan PT. PAL. Konsep awal dari alut baru adalah lompatan teknologi 20 tahun kedepan dengan program alih tehnologi. Alih tehnologi pada saat itu telah dipersiapkan sarana dan prasarana pendukung diantaranya Pusat Latihan Elektronika Pengendali Senjata (Puslatlekdalsen) dengan programming centrenya yang menangani masalah software, P.T PAL dengan fasilitas repair card, Pusat Pendidikan Elektronika (Pusdiklek) dengan Inti Kit yaitu suatu alongin untuk membekali pelajaran dasar elektronika bagi pengawak alut baru dan lain lain yang secara keseluruhan tentunya bermuara pada kemandirian tehnologi.
Kemandirian banyak didambakan akan tetapi setelah 20 tahun berlalu kemandirian tetap masih belum kunjung tiba. Kemandirian memang sangat relatif apalagi pada era globalisasi dewasa ini, mengapa demikian tentunya sangat banyak kendala/variabel yang berpengaruh baik external maupun internal. Teknologi alut baru adalah teknologi tahun 80 an, dalam perjalanannya selama dua dasa warsa sebagai Alut TNI AL alut baru masih digunakan dan memberikan sumbangan sangat berarti bagi kejayaan TNI AL, hal ini tentunya tidak terlepas dari pola Pemeliharaan dan Perbaikan yang dikenal sebagai Sistem Pemeliharaan Terencana dengan strategi Repair by Replacement. Untuk memahami serta mengenal dan selanjutnya mengambil bagian bagi industri Dalam Negri (DN) di dalam rangka kemandirian teknologi alut TNI AL, diperlukan komitmen diantara Industri Industri DN yang akan menangani salah satu sub system dari alut, dengan PT Dirgantara Indonesia sebagai Holding Company. Pada awal konsep pengadaan alut baru keterlibatan industri tidak sepenuhnya dilibatkan sehingga pencapaian kemandirian tidak optimal padahal sarana pembelajaran dan training untuk tujuan alih teknologi cukup lengkap dan hanya diperuntukkan bagi personel TNI AL dan sedikit dari PT PAL.
Alat Utama TNI AL
Kemandirian teknologi alut tidak terlepas dari kemampuan Industri DN sebagai basis teknologi, sebagai basis teknologi Industri DN harus mempunyai visi dan pengalaman yang mendalam mengenai system alut, system alut TNI AL dapat di bagi dalam 2 bagian besar yaitu Platform dan Sewaco (Sensor Weapon and Command). Basis teknologi system alut utamanya Sewaco saat ini situasi secara keseluruhan alut baru tidak terjadi perubahan yang signifikan, padahal pada negara-negara maju dimana industri dalam negerinya selalu mendukung setiap perkembangan teknologi dan filosofi setiap kapal yang melaksanakan over haul maka terhadap peralatan sewaco diusulkan adanya modifikasi untuk perbaikan performance dari peralatan sewaco. Keterlibatan industri DN untuk kemandirian teknologi alut TNI AL porsinya perlu ditingkatkan misalnya PT. PAL saat ini sudah membangun FPB Nav V akan tetapi seluruh sistem Sewaconya masih tetap seperti pembangunan FPB Nav I berasal dari HSA dengan teknologi yang berbeda sesuai perkembangan teknologi mutakhir, apabila PT Dirgantara Indonesia sebagai Holding Company ikut memikirkan bagaimana kalau Radarnya atau sensor yang lain dibuat oleh industri DN, karena pembangunan alut akan berlanjut kepada pembangunan Nav VI, Nav VII dan selanjutnya. Tidak tertutup kemungkinan pembangunan alut akan dibiayai oleh satu konsorsium swasta kemudian pemerintah akan membeli alut TNI AL dari konsorsium tersebut.
Pengadaan Alut TNI AL saat ini memang masih terlalu kecil sehingga keterlibatan swasta terbatas sebagai pihak ketiga tidak ada nilai alih teknologi sama sekali, untuk mempertahankan usia pakai alut baru dan sebagai pembelajaran tentang sistem Sewaco kiranya PT. Dirgantara Indonesia perlu mengadakan modifikasi terhadap sistem Sewaco alut baru yang kondisinya sudah atau perlu diganti, dengan sendirinya PT Dirgantara Indonesia harus mempelajari sistem Sewaco yang ada di alut baru, sudah siapkah infra strukturnya bagaimana sumber daya manusianya, memang sangat complicated memulainya namun apabila ada kemauan disitu ada jalan, disamping sumber dana yang sangat berpengaruh juga kemampuan-kemampuan Industri DN perlu dikonsentrasikan pada bidang tertentu bagian dari sistem Sewaco disamping Industri juga harus tetap bersaing pada core industrinya masing-masing.
Sewaco untuk Alut TNI AL secara teknis harus memenuhi standar militer (military spesification), sehingga harga peralatan sangat mahal, dalam pejalanannya milspek sudah sedikit tergeser, pada beberapa bagian yang dapat diganti dengan produk-produk komersial diganti dengan produk komersial sehingga harga peralatan dapat lebih bersaing, standarisasi dewasa ini sudah menjadi komoditi yang sangat penting untuk menjamin suatu produk dapat diterima di dunia internasional, untuk memulai berpartisipasinya Industri DN pada pembuatan subsistem Sewaco tentunya standar militer dapat ditinggalkan tentunya dengan tidak mengabaikan performance dari peralatan tersebut. PT. LEN dewasa ini sudah membuat Multy Function Display yang sudah dipasang pada peralatan Sonar (dengan komponen yang ada di pasaran) hal ini kiranya merupakan awal yang baik dan perlu ditingkatkan.
Masalah Sewaco yang tidak kalah pentingnya adalah masalah software, yaitu rangkaian program yang dipergunakan untuk mengatur bekerjanya komputer sehingga suatu sistem Sewaco dapat berinteraksi dengan baik. Puslatlekdalsen dengan Programming Centrenya dipersiapkan untyk mengembangkan seluruh software yang ada di alut baru, namun pada perjalanannya ketika PT. PAL membangun salah satu FPB terjadi perubahan pada kaliber senjatanya, maka harus dirubah juga softwarenya dan yang terjadi PT PAL harus membeli dari HSA. Masalah Software dari alut baru sampai saat ini masih belum ada industri DN yang berkonsentrasi secara mendalam, akan tetapi PT Dirgantara dengan sistem Fly By Wire yang di aplikasikan pada N350 Gatutkoco masalah software bukan merupakan barang yang sulit.
Berbicara Sewaco tidak membahas masalah Senjata akan kurang lengkap, alut baru dipersenjatai dari Peluru Kendali (Rudal), Torpedo (TPO), Anti Submarin Rocket (ASROC) sampai dengan Meriam, meriam dari Kaliber 40 mm sampai dengan kaliber 120 mm. Peluru kendali yang ada di alut baru sepenuhnya masih ditangani oleh negara pembuat (ketergantungan penuh) pemeliharaan serta pengetesan bisa dilaksanakan intern TNI AL namun apabila menyangkut perbaikan suku cadang masih belum ada industri DN yang mencoba berpartisipasi, PT. Dirgantara dengan lisensi TPO SUT kiranya peluang ini bisa dijadikan peluang bisnis yang menarik, roket produksi PT. Dirgantara telah di aplikasikan di TNI AU sehingga apabila ada masalah yang terjadi pada roket pendorong rudal TNI AL tentunya sudah ada pengalaman. Produksi roket artileri PT. Dirgantara sudah mulai di aplikasikan di TNI AL namun sampai saat ini masih terkendala masalah sistem stabilisasi, dimasa yang akan datang masalah stabilisasi semoga akan dapat diatasi, apabila penembakan roket sudah dilaksanakan secara terintegrasi dengan fire control yang sudah di produksi oleh Industri-industri dalam negeri.
Konsep Alih Teknologi
KONSEP ALIH TEKNOLOGI ALUT TNI AL
BIDANG SEWACO
Penutup
Demikianlah sedikit himbauan kepada industri DN terhadap kepedulian teknologi alat utama TNI AL semoga yang sedikit ini bisa bermanfaat untuk ditindak lanjuti dimasa yang akan datang dimana negara dewasa ini mengalami berbagai krisis sehingga kepedulian terhadap alih teknologi terhadap alut TNI AL merupakan pemikiran yang tepat.
Maret, 2001
***
|