25 TAHUN IPTN
THE GAME OF CHANGE

Adrianus Darmawan - Wartawan Angkasa

          Agustus 2001 ini IPTN genap seperempat abad. Bagai roda, nasibnya meliak-liuk. Pada zaman Pak Harto, ia pernah hingar-bingar kelimpahan dana. Namun Pasca Pak Harto, begitu kucuran dana IMF dihentikan pada 1997, hidupnya bak terjepit berbagai masalah. Mampukah IPTN keluar dari masa-masa sulit ini?

          Mana sih perusahaan yang kini tak mengalami rasa cemas? Pada saat ekonomi lesu dan kondisi politik dalam negeri masih juga tak menentu serta ketika hubungan dengan luar negeri kerap tiba-tiba memburuk, kepastian bisnis memang seperti 'barang taruhan'. Apalagi bagi perusahaan yang kelangsungan produksinya tak bisa tidak sangat terkait dengan kerjasama luar negeri seperti IPTN.

          Pukulan yang tengah mendera perusahaan dengan 10 ribu karyawan ini, kini, memang hebat sekali. Khususnya setelah pada 1998 Presiden Soeharto lengser yang serta-merta berpengaruh terhadap program pendanaan sejumlah proyek di perusahaan ini, yang kemudian ditambah lagi dengan hantaman IMF yang memutus kucuran dananya untuk proyek N250. IPTN saat itu bak mengalami vertigo. N250 yang sedianya dijadikan tulang-punggung atau profit-maker di masa datang seolah seperti menguap begitu saja. Di lain pihak, program N2130 yang dikendalikan orang-orang dekat Pak Harto juga mengalami nahas karena beberapa waktu kemudian kehilangan kepercayaan dan dilikuidasi.

          Angkasa menyimak betapa pimpinan IPTN segera banting stir sebisa-bisanya demi bahtera dengan ribuan karyawan ini tetap berlayar. Cobaan seolah tak berhenti ketika Prof Dr BJ Habibie sebagai motor IPTN juga ikut mental karena percaturan politik dalam negeri. Di tangan 40 Orang Kedua-nya, IPTN pun berkali-kali merasionalisasi SDM dan bisnisnya. Apa mau dikata, inilah kenyataan yang harus diterima.

          IPTN yang di Paris pada 1987 digembar-gemborkan BJ Habibie akan menjadi pemain baru dalam percaturan industri kedirgantaraan dunia dengan komuter canggihnya N250, pada tahun 1998 itu juga memang seperti harus menelan pil pahit. Seribu satu masalah seolah tumplek jadi satu. Apa yang dialaminya, meski tidak seratus persen mutlak, adalah contoh akibat dari kurang tepatnya Pemerintah dalam mengendalikan BUMN pilihannya yang kala itu dikenal sebagai BPIS. Sebagai center of technology, IPTN nampak terlalu cepat melompat dalam menggapai-gapai puncak teknologi yang ingin diraihnya. Ketika ia masih menjadi pembuat pesawat ringan pemecah keterisoliran daerah, ia bisa dikatakan tepat dalam menjalankan misinya. Namun, begitu IPTN mulai memasuki dunia komuter canggih (N250) dan jet transonik (N2130), ia seperti keluar koridor. Ia seperti terlalu dini memasuki peta persaingan global yang masih terlalu besar dan kuat untuk ditembus.

          Itu sebabnya sedari awal Boeing, Airbus, British Aerospace, dan banyak industri kedirgantaraan dunia lainnya hanya bisa terperangah dengan sepak terjang Habibie. Bukan karena masalah penguasaan teknologi, akan tetapi karena yang namanya industri pesawat terbang itu tak pernah ada yang bisa berdiri sendiri. Katakan saja, IPTN bisa membangun N250 hingga terbang, tetapi manakala situasi politik dan ekonomi buruk dan hubungan dengan luar negeri tidak kondusif, ia serta-merta akan kesulitan mendatangkan ratusan parts (untuk kemudian spare-parts) yang harus didatangkan dari luar. Tersendatnya penyelesaian sejumlah heli Super Puma pesanan Dephankam adalah contoh gamblang bagaimana ia begitu tergantung dengan industri kedirgantaraan luar negeri. Belum lagi jika sudah berhadapan dengan 'permainan' badan kelaikan udara asing yang di belakang layar kerap memproteksi produk-produk buatan negara/wilayahnya.

Perlu kerja keras
          Dengan sukses terbang perdana N250 pada 1995, harus diakui BJ Habibie memang memiliki kekuatan dan visi yang jauh lebih luas diantara teknokrat Indonesia lainnya, namun sayangnya ia kerap berlari sendiri dengan impian-impiannya. Orang keduanya di IPTN, Ir Hari Laksono, bahkan sempat mengatakan, "Habibie adalah superman yang tak ada duanya di IPTN." Sampai-sampai untuk menggantikannya diperlukan 40 orang pilihan dari berbagai bidang yang harus berkerja dalam tim yang manunggal dan solid. (Angkasa, Juni 1998)

          Akibat benturan krismon pula, apa yang telah dikerjakan IPTN akhirnya memang ibarat nasi sudah jadi bubur? Dan, sesal kemudian tak ada gunanya. Kini, yang penting dilakukan adalah merancang langkah taktis dan strategis. Paling tidak untuk menyelamatkan aset-asetnya yang mahal serta yang terpenting juga adalah untuk mempertahankan agar roda perusahaan masih tetap berjalan dan memperoleh pemasukan. Sebab, cash flow adalah syarat bagi perusahaan manapun yang ingin dikatakan sehat. Keberhasilan Unit Bisnis Non-Pesawat-nya mendulang uang (Rp 1,2 milyar,-; 4,5 juta DM; 6 juta dollar AS) dari kontrak pembuatan empat heli NBO-105, antena parabola, dan peremajaan tank Scorpion; serta lain-lainnya pada 2000 mudah-mudahan bukan hanya sekadar satu-dua prestasi pelipur lara. Kita senantiasa berharap PT Dirgantara Indonesia - nama IPTN kini -- masih melakukan banyak terobosan. Suka atau tidak suka pada akhirnya segenap eksekutif kini memang harus kerja keras melihat dan mencari celah serta menerobosnya.

          Restrukturisasi modal, SDM, dan bisnis yang beberapa tahun lalu digencarkan akan mentah jika tidak dibarengi/dilanjutkan dengan upaya memasarkan produk yang gencar. Sejauh pengamatan Angkasa, IPTN nampaknya belum memiliki pasukan salesman (pemasaran) yang tangguh yang mampu mengelola secara efektif segala situasi dari the game of change. Atau dengan kata lain, salesman yang mengenal dan tangguh dalam urusan the power of persuasion dan the art of negotiation. Seputar masalah tenaga pemasar ini pulalah PT DI harus mencurahkan perhatian lebih intens.

          IPTN seolah masih tergantung pada orang-orang tertentu saja dalam memasarkan produk, yang celakanya kerap gagal berjuang karena tiba-tiba kurang percaya diri di tengah jalan. Takut gagal memang sebuah perasaan yang wajar saja. Pasalnya, menjual pesawat terbang buatan negara agraris memang tak semudah menjual pesawat terbang buatan negara hi-tech macam Jepang dan AS. Namun hal ini bisa dihindari dengan yang namanya 'persiapan'. Dalam salah satu tulisan menariknya dalam Seratus Kita Jurus Sukses Kaum Bisnis (1986), Bondan Winarno pernah mengutip ajaran Konfusius yang penting untuk disimak. Katanya, dalam segala hal, keberhasilan hanya akan ditentukan oleh persiapan. Tanpa persiapan, yang ada hanyalah kegagalan.

          Ketika pada tahun 1995 Angkasa diundang menghandiri roll-out N250, berbagai perasaan campur-baur dalam benak ini. Yang paling kentara adalah perasaan tak percaya bahwa negara yang dikenal sebagian besar dihuni petani dan pelaut ini toh akhirnya berhasil juga menuntaskan pesawat yang begitu indah dan canggih. Apakah kebanggaan itu hanya sampai disitu saja? Mudah-mudahan tidak.



***

Biodata
Adrianus Darmawan

Lahir di Bogor, 22 Desember 1965, dari keluarga VS Soedarman, seorang pensiunan ABRI; Menuntaskan pendidikan Strata-1 di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor, pada 1989. Kecintaannya dalam dunia elektronik dan teknologi menuntunnya ikut kursus Perangkat Keras Personal Computer di Lepitek, Jakarta, selama enam bulan dan dituntaskannya pada 1989. Pada tahun 1990, bergabung dengan PT Gramedia Majalah tatkala sedang membidani Majalah Angkasa bekerjasama dengan Dispen TNI AU. Ia kemudian menjadi wartawan dalam media yang sama yang terbit pada Oktober 1990, menjadi editor, dan pada tahun 2000 dipercaya menjadi Redaktur Pelaksana. Selama menjadi wartawan ia juga beberapa mengikuti kursus yang berkaitan dengan profesinya, termasuk di Prasetiya Mulya Institute of Management (1999).