TANTANGAN DAN MASA DEPAN
PT. DIRGANTARA INDONESIA

Wahyu Hidayat - Ketua INACA

PENDAHULUAN
          Berawal dari PT. Industri Pesawat Terbang Nurtanio yang berdiri pada tgl 26 April 1976 di Jakarta, dengan Dr. BJ. Habibie sebagai President Director. Kemudian pada 11 Oktober 1985, berganti nama menjadi PT. Industri Pesawat Terbang Nusantara dan terakhir pada tgl 24 Agustus 2000 berganti nama lagi menjadi PT. Dirgantara Indonesia.

          Berbicara mengenai PT. Dirgantara Indonesia tentu tidak terlepas dari salah satu tokoh besar Bangsa Indonesia yaitu Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie yang memiliki visi bahwa di masa depan, hanya bangsa yang produktif yang akan dapat bertahan. Menurut Beliau, sebuah bangsa akan dapat meningkatkan produktifitasnya , melalui penguasaan dan penerapan ilmu pengetahuan serta teknologi yang didukung oleh faktor budaya,.

          Mengapa Industri Pesawat Terbang yang dijadikan lokomotif penguasaan ilmu dan teknologi Bangsa Indonesia ? Bukan bio-teknologi misalnya yang lebih sesuai dengan ciri negara kita yaitu negara agraris? Jangan salahkan pilihan Prof. Dr. BJ. Habibie sebagai pencetus ide. Beliau menerjemahkan penguasaan ilmu dan teknologi dengan cara membangun industri pesawat terbang karena memang Beliau adalah pakar di bidang pesawat terbang. Adalah hal yang selayaknya apabila industri pesawat terbang menjadi pilihan utama untuk mewujudkan visi Beliau. Andaikan ingin mencari kesalahan maka salahkanlah, mengapa pakar teknologi di bidang lain tidak mampu meyakinkan Presiden Soeharto waktu itu, untuk memilih jenis teknologi tertentu yang lebih "membumi" yang akan dipilih dan akan menjadi lokomotif penguasaan teknologi tinggi, yang benar-benar akan menguntungkan seluruh rakyat Indonesia.

          Konsep yang digunakan Beliau dalam mewujudkan penguasan ilmu dan teknologi adalah "Berawal di akhir dan berakhir di awal" melalui tahapan sebagai berikut

  • Phase of utilization of the existing technology/License Program
    Tahap Pertama dimana akan menggunakan teknologi yang ada saat ini

  • Phase of Technology Integration
    Tahap kedua dimana sudah mulai melakukan upaya integrasi teknologi

  • Phase Technology Development
    Tahap ketiga dimana pengembangan teknologi mulai diupayakan

  • Phase of Basic Research
    Tahap keempat atau tahap terakhir adalah melakukan riset-riset dasar untuk menemukan sesuatu yang baru.

          Konsep yang sebenarnya sangat bagus namun apabila kita analisa konsep ini kurang didukung oleh aspek pendanaan untuk dukungan riset dan pengembangan dan aspek pendanaan untuk dukungan pemasaran. Seperti kita ketahui bersama bahwa mengembangkan industri pesawat terbang membutuhkan modal dana yang sangat besar. Mengambil contoh dari Boeing Corporation, sungguhpun telah menjadi pembuat pesawat terbesar dunia, masih sering mengalami krisis dan kesulitan keuangan karena memang dana yang dibutuhkan untuk riset dan pengembangan pesawat adalah memakan biaya yang sangat besar. Memasarkan pesawat memerlukan dukungan dari lembaga keuangan yang sangat kuat dan dukungan pemerintah. Sebagai bangsa yang masih tergolong negara ketiga, melakukan investasi di industri ini memiliki resiko yang sangat besar mengingat keterbatasan dana yang dimiliki. Alokasi dana yang tepat dan terencana dengan matang adalah sangat penting. Stephen Covey mengatakan "First Thing First" atau dengan kata lain Utamakan yang Utama. Dalam ilmu ekonomi, dikenal adanya konsep opportunity cost atau biaya yang hilang karena adanya kesempatan melakukan investasi lain yang lebih menjanjikan dan lebih menguntungkan.

REPOSITIONING DAN UPAYA BERTAHAN
          Perlu disadari bahwa industri pembuatan pesawat terbang bagi negara maju seperti Amerika Serikat adalah merupakan industri strategis. Sehingga mereka sangat protektif terhadap kemungkinan adanya negara ketiga yang dapat menguasai teknologi kedirgantaraan. Jadi tidak usah berkecil hati apabila Indonesia kurang berhasil dalam mengembangkan teknologi kedirgantaraan. Apa yang terjadi pada PT. Dirgantara Indonesia bisa dianggap sebagai ongkos belajar Bangsa Indonesia untuk dapat menguasai teknologi canggih. Pergantian nama yang cukup signifikan dari PT. Industri Pesawat Terbang Nusantara menjadi PT. Dirgantara Indonesia menyiratkan upaya "Repositioning" perusahaan dalam menghadapi tantangan berat dan kondisi realitas yang ada. Dilihat dari segi kompetensi Sumber Daya Manusia, PT. Dirgantara Indonesia memiliki potensi untuk dapat bertahan dan layak secara ekonomi walaupun nampakya harus meninggalkan bisnis pembuatan pesawat untuk beralih kepada bidang usaha yang lebih cepat mendatangkan cash flow. Pembentukan beberapa Strategic Business Unit adalah dalam rangka menyikapi kenyataan yang ada, bahwa dengan cara apapun perusahaan harus bisa survive. Jadi BUMN haruslah dapat bertahan dengan kemampuannya sendiri, apalagi saat ini langkah ini adalah langkah tepat dan radikal dalam usaha untuk mempertahakan kelangsungan usaha dan demi nasib karyawan perusahaan sendiri. Dalam situasi keuangan negara yang tidak favourable Badan Usaha Milik Negara pada dasarnya tidak boleh mengandalkan keuangan negara, kecuali pada saat pendiriannya atau tambahan modal yang berasal dari laba perusahaan, yang seharusnya menjadi hak dari pemilik/negara.

          Dalam kerangka Makro Industri Penerbangan maka Strategic Business Unit PT. Dirgantara Indonesia yang berkaitan erat dengan bisnis pemeliharaan pesawat dan penyediaan spare part, dapat melakukan kerjasama yang saling menguntungkan misalnya dengan Merpati Maintenance Facility atau kemungkinan kerjasama yang lebih besar yaitu melalui penggabungan usaha. Hal ini dimungkinkan untuk mendapatkan efek sinergi positif baik berupa efisiensi maupun skala ekonomi yang lebih besar.

ARAH MASA DEPAN
          Visi Prof. Dr. Ing. BJ. Habibie yang ingin pada suatu saat IPTN atau PT. Dirgantara Indonesia dapat memproduksi pesawat 1 hari Satu pesawat (roll out dari hanggar), nampaknya kurang realistis, kecuali dapat menemukan mitra strategis untuk melanjutkan proyek N250 maupun N-2130. Yang mungkin adalah bahwa PT. Dirgantara Indonesia masih mempunyai kesempatan sebagai pemain yang tangguh dalam pembuatan komponen pesawat terbang melalui kerjasamanya dengan perusahaan-perusahaan pembuat pesawat terbang di seluruh dunia. Sesungguhnya hal ini telah lama dilakukan namun nampaknya kurang terfokus. Ada baiknya PT. Dirgantara Indonesia selama dalam periode transisi ini, dapat menekuni bisnis inti sebagai perusahaan pembuat komponen pesawat terbang yang bermutu tinggi dan menjadi perusahaan yang menguntungkan untuk nanti pada akhirnya apabila keuangan perusaaan telah sehat dapat kembali mewujudkan visi sebagai perusahaan pembuat pesawat terbang.

SUMBANGSIH
          Bagaimanapun juga, kita harus mengakui, bahwa sesungguhnya PT. Dirgantara Indonesia dalam 25 tahun perjalanannya telah menorehkan tinta emas dalam sejarah bangsa Indonesia dengan keberhasilannya membuat pesawat hasil kreasi bangsa Indonesia yaitu dengan pesawat CN-235 dan N-250. Walaupun harus mengalami kenyataan yang krang menggembirakan, namun ada suatu investasi yang sungguh tak ternilai harganya yaitu investasi di bidang Sumber Daya Manusia. Ribuan tenaga ahli yang telah dicetak oleh PT. Dirgantara Indonesia dan sekarang tengah berjuang untuk terus dapat mempertahankan usaha dan sebagian telah bekerja di perusahaan pembuat pesawat terbang di negara lain maupun industri teknologi tinggi lainnya adalah asset yang sangat berharga. Mengingat Industri Pembuatan Pesawat adalah terdiri dari multi disiplin ilmu. Hal ini memudahkan perusahaan ataupun karyawan untuk melakukan switching jenis usaha yang masih berkaitan erat dengan kompetensi yang dimiliki mereka misalnya dalam teknologi informasi, rancang bangun dan lain-lain.

          Selamat ulang tahun yang ke-25 semoga sukses dan dapat survive dalam era Turbulence dalam menyongsong masa depan yang lebih cerah.



***

Biodata
Wahyu Hidayat

Beliau lahir di Madiun 3 Juli 1954 ini, menjalani pendidikannya, SD hingga SMA (SMA Negeri IV), di Jakarta. Lulus SMA, ia kemudian menempuh pendidikan ke Fakultas Ekonomi di Universiatas Gajah Mada Yogyakarta (lulus 1979). Bapak tiga anak ini juga sempat memperdalam kemampuannya di bidang bisnis ke Universitas Birmingham, Inggris, dan meraih diploma bidang development finance pada 1984. Karir Wahyu Hidayat mulai bersinar ketika Departemen Keuangan yang dimasukinya pada 1980, menempatkannya sebagai staf pada Ditjen Moneter Dalam Negeri, Direktorat Pembinaan Kekayaan Negara. Di sana beberapa jabatan penting pernah diembannya. Terakhir, antara 1992-1995, ia menjabat kepala Sub-Direktorat Perencanaan Perusahaan, Direktorat Perusahaan Jasa Keuangan, Ditjen Pembinaan BUMN, yang bertanggung-jawab terhadap BUMN di bawah Departemen Keuangan dan BUMN jasa-jasa lainnya. Ia pernah pula menjadi komisaris pada PT Industri Kapal Indonesia, sekretaris pada Dewan Komisaris Bank Rakyat Indonesia, dan anggota Dewan Komisaris PT Adhi Karya. Wahyu juga mengajar di berbagai lembaga dan instansi. Ketua INACA sejak November 1999.