 |
TUMBUH DAN BERKEMBANG BERSAMA
Wahyu Hidayat - Direktur Utama Merpati Nusantara Airlines
Masih segar dalam ingatan saat pesawat CN-235 Tetuko untuk pertama kalinya mengudara dan disaksikan oleh seluruh bangsa Indonesia terselip rasa bangga di dalam dada, akhirnya putra bangsa ini dapat mewujudkan impiannya membuat pesawat sendiri.
Tidak terasa dua puluh lima tahun kini sudah berlalu dan jenis pesawat yang diproduksi telah bertambah. Keberhasilan ini bukan untuk menepuk dada, tetapi dijadikan cambuk untuk berkarya lebih baik lagi.
Operator Pertama
PT. Merpati Nusantara Airlines merupakan operator pertama yang menggunakan produk PT. Dirgantara Indonesia, pada saat itu PT. Industri Pesawat Terbang Nusantara. Di mulai pada tahun 1978 pesawat jenis Cassa-212 seri 100 telah ikut memperkuat jajaran armada Merpati untuk penerbangan perintis yang merambah kota-kota kecil di Pulau Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara dan Ambon.
Di era tahun delapan puluhan armada Merpati menerima kembali pesawat jenis Cassa-212 seri 200 yang dipergunakan untuk menerbangi jalur Jakarta-Cirebon; Jakarta-Cilacap; Jakarta-Ketapang-Pangkalan Bun- Semarang dan pada rute penerbangan ini pesawat Cassa-212 disertai dengan satu orang awak cabin yang melayani penumpang diudara.
Pada tahun 1988 Merpati dipercaya kembali untuk menggunakan produk PT. Dirgantara Indonesia, dengan diterimanya pesawat jenis CN-235, yang berkapasitas 36 tempat duduk dan diudara dilayani oleh dua orang awak kabin. Upacara penyerahan pesawat CN-235 tersebut, dari Direktur Utama PT. Dirgantara Indonesia BJ. Habibie kepada Direktur Utama Merpati Soeratman sungguh mengharukan, karena pada saat bersamaan juga menandakan saat pertama di pakainya logo Merpati yang baru. Pesawat CN-235 dijajaran armada Merpati melayani rute Jakarta-Bandung, Jakarta- Tanjung Karang, Denpasar-Mataram, Palembang-Batam, Palembang-Tanjung Pandan, Surabaya-Banjarmasin-Palangka Raya dan Bandung-Semarang-Pangkalan Bun.
Melihat keandalan kedua jenis pesawat tersebut (Cassa-212 dan CN-235), yang memiliki kecepatan dan daya jelajah yang tinggi, juga mempunyai kemampuan tinggal landas dilandasan udara yang pendek dan berumput, maka Merpati mempergunakan kedua jenis pesawat tersebut untuk menerbangan rute-rute jarak pendek serta kota-kota kecil yang sulit dijangkau dari ibu kota propinsi dan kabupaten, kecuali di Irian Jaya.
Pesawat produk PT. Dirgantara Indonesia tersebut memegang peranan penting dijalur penerbangan dalam negeri, khususnya didaerah-daerah yang jarak tempuhnya singkat dan pesawat tersebutlah yang menghubungkan kota-kota propinsi dan kabupaten serta antar kabupaten dengan kota-kota kecil dipelosok Nusantara untuk memajukan pembangunan didaerah.
Marketing Simulator CN-235
Sebagai pengguna pesawat produk PT. Dirgantara Indonesia, Merpati tentu saja harus menjalin kerjasama secara berkesinambungan. Kerjasama terutama untuk perawatan dan penyediaan suku cadang serta mereparasi komponen kedua jenis pesawat tersebut.
Kerjasama tersebut terus berkembang dari perawatan, penyediaan suku cadang, penjualan atau penyewaan pesawat sampai dengan kerjasama simulator pesawat CN-235, bahkan PT. Dirgantara Indonesia dapat dikatakan sebagai marketing Merpati untuk simulator pesawat CN-235 ke operator pengguna pesawat tersebut baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Selain itu, Merpati dipercaya sebagai salah satu anggota Working Group dan Steering Committee yang diminta untuk memberikan masukan-masukan untuk perbaikan mutu produk PT. Dirgantara Indonesia saat ini dan dimasa yang akan datang.
Saling Menguntungkan
Dalam suatu jalinan kerjasama tentunya masing-masing pihak mengharapkan mendapat suatu manfaat dan keuntungan yang dapat diambil untuk kemajuan kedua pihak. Merpati merasa mendapat manfaat dari hasil kerjasama ini, seperti, dapat membeli suku cadang pesawat jenis Cassa-212 dan CN-235 dengan lebih murah dan lebih cepat waktu pengadaannya. Bahkan Merpati dapat memesan suku cadang pesawat bukan produksi PT. Dirgantara Indonesia, yang sudah tidak diproduksi lagi oleh pabriknya, tentu saja dengan harga yang lebih murah pula.
Untuk lebih mengoptimalkan penggunaan pesawat CN-235, maka PT. Dirgantara dan Merpati menyewakan dua pesawat dari tiga pesawat tersebut yang rencana akan disewa oleh Air Venezuela.
Demikian pula dalam menjalankan perannya sebagai Agent of Development, Merpati dapat menerbangi rute-rute daerah terpencil (perintis) dengan pesawat-pesawat yang diproduksi oleh PT. Dirgantara Indonesia, sehingga dapat menghubungi ibu kota propinsi dan kabupaten serta kota-kota kecil di Kalimantan, Sulawesi, Ambon dan Nusa Tenggara.
Dengan disinggahinya kota-kota tersebut maka roda pembangunan di setiap pelosok daerah yang sulit dijangkau oleh moda transportasi lain dapat dinikmati juga oleh rakyat Indonesia di daerah tersebut.
Mengaktifkan kembali Working Group
Sebagai salah satu pengguna produk PT. Dirgantara Indonesia, Merpati mengharapkan agar kerjasama yang selama ini telah terjalin dapat lebih ditingkatkan lagi, Menyangkut masalah produk yang dihasilkan, agar kualitasnya bisa lebih baik lagi sehingga hasilnya dapat diandalkan. Demikian pula kiranya agar penjualan suku cadang pesawat yang tidak di produksi PT. Dirgantara Indonesia dapat dibeli dengan harga lebih bersaing.
Selain itu Merpati mengharapkan agar Working Group yang sebelumnya telah berjalan, dapat diaktifkan kembali seperti dahulu demi untuk kepentingan bersama dan lebih utama untuk kepentingan kemajuan PT. Dirgantara Indonesia di masa yang akan datang.
Sejarah telah membuktikan bahwa Merpati menjadi saksi atas perkembangan produksi pesawat di negara ini, bahkan sebagai operator pertama pengguna produk PT. Dirgantara Indonesia, Merpati bangga telah ikut berperan aktif senantiasa memberikan masukan-masukan untuk kesempurnaan produk dari PT. Dirgantara Indonesia.
Dalam memasuki paradigma baru yang menuju pada orientasi bisnis, diharapkan apa yang akan dicita-citakan dapat diraih dan dunia penerbangan Indonesia menanti hadirnya pesawat N-250 dan N-2130 yang dapat dipakai oleh seluruh perusahaan penerbangan di Indonesia.
***
Biodata
Wahyu Hidayat
Beliau lahir di Madiun 3 Juli 1954 ini, menjalani pendidikannya, SD hingga SMA (SMA Negeri IV), di Jakarta. Lulus SMA, ia kemudian menempuh pendidikan ke Fakultas Ekonomi di Universiatas Gajah Mada Yogyakarta (lulus 1979). Bapak tiga anak ini juga sempat memperdalam kemampuannya di bidang bisnis ke Universitas Birmingham, Inggris, dan meraih diploma bidang development finance pada 1984. Karir Wahyu Hidayat mulai bersinar ketika Departemen Keuangan yang dimasukinya pada 1980, menempatkannya sebagai staf pada Ditjen Moneter Dalam Negeri, Direktorat Pembinaan Kekayaan Negara. Di sana beberapa jabatan penting pernah diembannya. Terakhir, antara 1992-1995, ia menjabat kepala Sub-Direktorat Perencanaan Perusahaan, Direktorat Perusahaan Jasa Keuangan, Ditjen Pembinaan BUMN, yang bertanggung-jawab terhadap BUMN di bawah Departemen Keuangan dan BUMN jasa-jasa lainnya. Ia pernah pula menjadi komisaris pada PT Industri Kapal Indonesia, sekretaris pada Dewan Komisaris Bank Rakyat Indonesia, dan anggota Dewan Komisaris PT Adhi Karya. Wahyu juga mengajar di berbagai lembaga dan instansi. Ketua INACA sejak November 1999.
|