PENDIDIKAN REAL TIME SOFTWARE ENGINEERING
UNTUK KARYAWAN PT. DIRGANTARA INDONESIA

Inggriani Liem dan Hari Muhammad


Abstrak

Tulisan ini dibuat berdasarkan pengamatan terhadap problematika sehubungan dengan penyediaan SDM untuk industri manufaktur dirgantara dan pengalaman pelaksanaan Program Studi Magister Informatika Bidang Khusus Rekayasa Perangkat Lunak Waktu-Nyata (Real Time Software Engineering, RTSE), selanjutnya disebut sebagai Program Studi S2-RTSE. Program ini merupakan kerjasama antara PT Dirgantara Indonesia (d/h PT IPTN) dengan Departemen Teknik Informatika Institut Teknologi Bandung dan Universite Thomson Perancis. Program Studi S2-RTSE tersebut telah dilaksanakan untuk tiga angkatan bagi karyawan PT Dirgantara Indonesia, pada perioda 1997 s/d 2001, dengan populasi tiap angkatan sebanyak 20 (duapuluh) mahasiswa. Berdasarkan pengalaman yang sudah dilakukan itu, kami mencoba memberikan saran-saran untuk pemenuhan kebutuhan sumber daya manusia yang menguasai bidang Software Engineering untuk industri manufaktur dirgantara di masa yang akan datang.

1. Latar Belakang
          Pesawat udara merupakan suatu sistem yang terdiri atas beberapa subsistem atau komponen, dan setiap komponen dibagi lagi menjadi beberapa elemen. Setiap komponen atau elemen merupakan sub-sub-sistem sendiri seperti misalnya: subsistem pembangkit listrik, subsistem roda pendarat, subsistem propulsi, subsistem kendali terbang, subsistem avionika dan sub-sub-sistem lainnya. Sub-sub-sistem tersebut pada umumnya terdiri dari perangkat-perangkat hardware, software dan firmware yang sangat kompleks dan menuntut kehandalan tinggi karena menyangkut keselamatan manusia. Perangkat semacam ini menuntut proses rekayasa yang sangat terkendali dan harus memenuhi kualitas tertentu.

          Tulisan ini hanya akan difokuskan kepada masalah software, karena penggunaan software atau perangkat lunak di lingkungan industri dirgantara pada saat ini semakin kompleks dengan makin pesatnya perkembangan komputer dan teknologi pesawat udara. Hal ini menyebabkan penanganan proses di dalam suatu industri dirgantara seperti proses rancang bangun pesawat udara menuntut suatu formalisasi dokumentasi yang lengkap dan konsisten yang pada akhirnya akan membantu memudahkan industri manufaktur pesawat udara seperti PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dalam proses perolehan sertifikasi produk [2].

1.1 Nilai Tambah Pesawat Udara Karena Software
          Pada pesawat udara komersiil, dimana pesawat lebih utama digunakan oleh airliner sebagai alat angkut penumpang, nilai peralatan avionika bisa mencapai 30% dari total harga pesawat udara. Sedangkan pada pesawat militer, peralatan avionika bisa mencapai 30% sampai dengan 70% dari total harga pesawat udara. Pada beberapa aplikasi khusus, nilai peralatan avionika ini malah bisa mencapai 100% hingga 300% dari harga pesawat itu sendiri.

          Yang sangat menarik dari permintaan pasar, adalah harga jual produk yang bisa berlipat dari 100% hingga 300% jika pesawat dapat diproduksi dengan kemampuan misi yang khusus [1]. Kemampuan khusus ini biasanya dapat diperoleh dengan lebih mudah dari perubahan software pada sistem atau subsistem pesawat udara seperti sistem avionika. Perubahan software tentunya harus diikuti dengan proses perubahan yang terkendali dan traceable. Hal ini tentunya memerlukan sumber daya manusia (SDM) dengan kemampuan software engineering yang memenuhi kriteria sebagai software engineer.

          Yang menjadi masalah bagi PT DI pada saat ini adalah masih kurangnya sumber daya manusia (SDM) yang mempunyai kemampuan bidang software engineering, sehingga kadang kala harus melakukan outsourcing ke luar negeri. Sebenarnya kekurangan SDM itu bukan disebabkan oleh ketidak-mampuan SDM yang ada, tetapi karena belum adanya pembekalan pengetahuan dalam bentuk pendidikan dan pelatihan yang memadai, khususnya dalam bidang software engineering.

1.2 Kebutuhan SDM Industri Manufaktur Dirgantara
          Industri dirgantara merupakan suatu industri yang melibatkan banyak tenaga kerja dari semua jenjang pendidikan formal: Sekolah Menengah Kejuruan, Program Pendidikan Diploma, Program Pendidikan Strata-1, Strata-2 sampai dengan Strata-3. Semua tenaga kerja tersebut akan mengambil bagian dalam industri dirgantara sebagai teknisi, engineer, atau tenaga peneliti untuk keperluan proses rancang bangun dan produksi pesawat udara.

          Proses rancang bangun pesawat udara merupakan proses multidisiplin dari berbagai bidang keilmuan seperti: aerodinamika, struktur, material. dinamika dan sistem kendali terbang, prestasi terbang dan sistem-sistem pesawat udara seperti sistem avionika, sistem elektrikal, sistem pembangkit listrik, sistem propulsi dan lain sebagainya. Industri seperti ini dicirikan pula dengan tersedianya tenaga-tenaga ahli pada masing-masing bidang seperti tersebut di atas [2]. Dengan hanya memperhitungkan tenaga ahli pada bidang engineering (yang hampir semuanya sekarang mempunyai kandungan software), maka kebutuhan SDM kelompok tersebut adalah sekitar lima belas hingga dua puluh persen dari populasi seluruh karyawan.

          Penyediaan tenaga ahli multidisplin tersebut mustahil dilakukan oleh industri itu sendiri. Pada pihak lain, lembaga pendidikan (Perguruan Tinggi) dengan segala keterbatasannya juga tidak mungkin menyediakan lulusan yang siap pakai seperti yang dituntut oleh industri dirgantara.

          SDM pada industri manufaktur dirgantara, khususnya kelompok rekayasa, akan dimonopoli oleh sarjana dengan latar belakang bidang kedirgantaraan dan bidang terkait dengan sistem kedirgantaraan. Jika dikaitkan dengan kegiatan utama rancang bangun pesawat udara yang dimulai dengan perhitungan numerik, uji model pesawat udara di terowongan angin dan uji terbang prototipe pesawat udara sampai akhirnya memperoleh sertifikasi, maka seluruh kegiatan tersebut memerlukan perangkat lunak dengan standar industri, baik dalam bentuk paket yang sudah jadi maupun yang dikembangkan sendiri oleh rekayasawan yang bekerja pada industri pembuat pesawat udara tersebut.

          Penggunaan perangkat lunak dalam menunjang kegiatan utama industri dirgantara menjadi semakin luas yang pada akhirnya pengembangan suatu perangkat lunak menjadi suatu proses yang kompleks dan memerlukan penanganan manajerial tersendiri. Sayangnya, rekayasawan yang terlibat dalam rancang bangun, pengujian dan sertifikasi pesawat udara kurang dibekali tentang konsep software engineering, sehingga penanganan software masih dilakukan dengan cara yang tidak mengikuti standar industri.

          Oleh karena itu, perlu pendekatan multidisiplin untuk menyiapkan SDM yang handal pada bidang-bidang utama keilmuan dari industri dirgantara dan mengerti tentang konsep software egineering (karena industri dirgantara sarat dengan software), yaitu dengan menerapkan pendidikan software engineering di lingkungan industri [2].

1.3 Masalah Pendidikan di Indonesia Saat ini
          Masalah utama dalam sistem pendidikan Indonesia pada saat ini adalah belum adanya suatu sistem pendidikan yang multidisplin dalam satu strata (misalnya kemampuan di bidang Aeronautika dan Informatika). Seseorang yang ahli di bidang informatika (ilmu komputer, bahkan Software Engineering) belum cukup memadai untuk mulai berkarir dan bekerja di Industri Dirgantara. Sebaliknya, seorang sarjana bidang lain (engineer bidang mekanikal, elektrikal, elektronika, bahkan aeronautika) pada umumnya belum mendapatkan latar belakang pengetahuan (dan apalagi pengalaman) di bidang informatika.

          Jenjang Pendidikan Sarjana (Strata-1) yang mencakup bidang multidisplin tidak mungkin dapat dilaksanakan dalam kurikulum selama 4 tahun dengan beban 144 sks seperti yang ada di Indonesia saat ini. Ini merupakan kendala utama dalam penyediaan SDM yang siap pakai di industri pada umumnya, dan industri dirgantara secara khusus. Pendidikan Pascasarjana (Srata-2) yang memberikan bekal pengetahuan komplementer dengan pengetahuan dasar yang dipunyai oleh peserta dari S1 biasanya merupakan alternatif solusi untuk mempunyai pengetahuan multidisplin.

          Pendidikan Pascasarjana S2 yang dibuka secara reguler dan untuk umum yang diselenggarakan oleh institusi pendidikan, tidak memungkinkan untuk mendidik tenaga siap pakai. Penyebabnya antara lain adalah:

  • Dari segi peserta, mereka beraneka ragam latar belakangnya atau mendapat pendidikan S1 dengan hanya satu disiplin ilmu

  • Dari segi tujuan akhir para lulusan, pada umumnya mereka masih belum mempunyai pekerjaan yang pasti dan belum memilih lapangan kerja setelah lulus.

          Program Pendidikan S2 untuk umum (reguler) pada hakekatnya juga bersifat bebas dan tidak terikat ke suatu produk tertentu. Mengajarkan salah satu merk spesifik suatu peralatan atau teknologi yang dipakai tidak dimungkinkan dalam program seperti tersebut. Inilah dilema utama bidang pendidikan teknik (khususnya Teknik Informatika) saat ini karena perubahan terus menerus terjadi dan tenaga pengajar atau institusi pendidikan harus terus menerus mengikuti perkembangan teknologi.

1.4 Peranan Komputer dalam Industri Dirgantara
          Dalam suatu industri dirgantara, penggunaan komputer sebagai penunjang bisnis perusahaan harus dibedakan menjadi dua kategori utama, yaitu komputer sebagai pemroses data/sistem informasi yang tidak berhubungan langsung dengan proses rancang bangun pesawat udara, dan komputer sebagai tools pendukung proses rancang bangun dan produksi pesawat udara.

          Pembedaan ini sebenarnya sudah dilakukan dengan jelas dengan adanya divisi IT dengan Pusat Komputer di PT DI yang fokusnya mengolah data penunjang (kepegawaian, keuangan, inventory, scheduling, time keeping dan sejenisnya). Menyediakan tenaga SDM untuk divisi ini mungkin tidak terlalu masalah dan dapat diambil dari lulusan program diploma/perguruan tinggi umum yang memberikan dasar tentang Sistem Informasi.

          Komputer sebagai pendukung proses rancang bangun dan produksi pesawat udara membutuhkan tenaga SDM berkualifikasi yang lebih sulit untuk disediakan oleh program diploma/perguruan tinggi yang ada di Indonesia dengan penyelenggaraan pendidikan untuk umum secara reguler. Banyak engineer yang bekerja di lingkungan Direktorat Teknologi dan Direktorat Produksi PT DI yang seharusnya menghasilkan software atau perangkat lunak (bukan hanya mampu membuat program komputer), tetapi mereka belum memenuhi kualifikasi sebagai software engineer [3]. Sebaliknya, seseorang lulusan Teknik Informatika akan canggung dan belum mempunyai bekal yang memadai dalam bekerja di bidang ini dimana sebenanrnya komputer adalah tools dalam proses rancang bangun dan produksi pesawat udara.

1.5 Perbedaan antara Pendidikan dan Pelatihan
          Pendidikan formal yang umum belum cukup memadai untuk membekali pesertanya dengan pengetahuan praktis dan spesifik mengenai suatu produk tertentu (dalam bidang software misalnya untuk dapat menguasai suatu software tools secara mendalam seperti CATIA, CAD/CAM). Pelatihan untuk produk tertentu akan dapat dengan cepat dan baik diserap jika dasar pengetahuan yang dipunyai sudah dalam taraf tertentu. Keywords: pelatihan untuk hal spesifik harus merupakan komplemen pendidikan formal.

          Dalam rangka memenuhi kebutuhan tenaga kerjanya, PT DI sebenarnya telah mengadakan beberapa program pelatihan. Untuk tenaga teknisi, PT DI memiliki Pusat Pendidikan dan Pelatihan bagi karyawan lulusan SMU atau program Diploma. Untuk tenaga engineer, khususnya di lingkungan Direktorat Teknologi dilakukan pelatihan dasar tentang pesawat udara (basic aircraft training), yang diberikan secara 'in house' oleh dan untuk karyawan di lingkungan Direktorat Teknologi. Pelatihan 'in house' ini sepertinya belum bisa memberikan dampak nyata ke pihak perusahaan. Hal ini mungkin disebabkan karena belum adanya apresiasi langsung terhadap hasil 'in house' training tersebut. Pada umumnya apresiasi perusahaan kepada karyawan masih dilatarbelakangi atas dasar gelar akademik yang dimiliki karyawan tersebut. Hasil-hasil pelatihan (kadang diberikan dalam bentuk sertifikat) dinilai karyawan masih belum memiliki nilai tambah, sehingga program pelatihan kurang menarik dibanding dengan program pendidikan yang bergelar.

1.6 Perlunya Pendidikan Spesifik Software Engineering Kedirgantaraan
          Di bidang dirgantara, telah dikenal adanya pendidikan yang sangat spesifik dan bahkan dimulai dari jalur Pendidikan Menengah seperti STM Penerbangan, pendidikan Diploma seperti PLP Curug (sekarang menjadi Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia, STPI) dan pendidikan Sarjana Aeronautika dan Astronautika. Kebutuhan tenaga engineer industri manufaktur dirgantara begitu beragam cakupannya dan dalam beberapa bidang bahkan sangat spesifik. Hal inilah yang menjadikan suatu kendala pendidikan, yaitu tidak mungkin membentuk suatu pendidikan yang sangat khusus untuk setiap bidang kebutuhan industri tertentu.

          Pendidikan yang berkesinambungan yang mencakup multidisiplin sangat diperlukan, sehingga seorang engineer di bidang industri dirgantara akan mempunyai wawasan bidang dirgantara sekaligus tahu tentang software engineering. Sekali lagi perlu ditekankan di sini, bahwa industri dirgantara sangat sarat dengan software, sehingga SDM pada industri ini harus mempunyai kemampuan yang handal baik dalam bidang dirgantara maupun bidang software engineering. Dapat dikatakan bahwa tenaga SDM untuk level engineer dan yang lebih tinggi kualifikasinya, harus memiliki wawasan konseptual dan sekaligus praktek yang seimbang.

1.7 Pentingnya Penerapan Software Engineering dan Standard dalam Industri Dirgantara
          Menurut IEEE: (Std 610.12-1990): Software Engineering is (1)The Application of a systematic, disciplined, quantifiable approach to the development, operation, and maintenance of software; that is, the application of engineering to software (2)The study of approaches as in(1).

          Dalam industri dirgantara, semua software yang dibuat harus dikembangkan dengan proses rekayasa yang memenuhi syarat, dan disertai dengan dokumentasi yang sangat ketat. Semua software bahkan harus lolos proses sertifikasi dan audit menyeluruh yang harus dilakukan dengan standard pengembangan software.

          PT Dirgantara Indonesia telah mengadopsi standard yang khusus untuk pesawat udara, dan tentunya diharapkan bahwa semua software engineer yang terlibat dalam proses pembuatan pesawat udara menguasai dan dapat memenuhi standard dokumentasi [5]. Aplikasi suatu standard bukan suatu perkara yang mudah, karena membutuhkan disiplin yang tinggi dari tenaga manusia pelaksananya. Di lain pihak, adanya standards mempermudah penyiapan tenaga kerja karena sudah mengacu ke sesuatu yang baku.

2. Program Penyiapan Tenaga Software Engineer Bagi PT DI
          Dalam rangka menunjang penyiapan tenaga SDM yang mampu di bidang rekayasa perangkat lunak (software engineering), maka PT Dirgantara Indonesia bersama dengan Institut Teknologi Bandung dan Universite Thomson-Perancis telah bekerjasama dalam mengadakan program pendidikan tingkat Pasca Sarjana S2. Program pendidikan S2 ini bertujuan untuk memberi bekal pengetahuan dan praktek mengenai rekayasa perangkat lunak, khususnya perangkat lunak yang mempunyai aspek waktu nyata (Real Time Softtware Engineering, RTSE) [6].

2.1 Tujuan Program
          Dalam kurikulum Pasca Sarjana ITB, dituliskan bahwa Program Studi Magister Informatika Bidang Khusus Rekayasa Perangkat Lunak ini bertujuan menghasilkan lulusan yang mampu:

  • Mengembangkan bidang keahliannya masing-masing dengan memanfaatkan ilmu dan teknologi informatika.

  • Mengembangkan teknologi perangkat lunak komputer dalam rangka mengembangkan perangkat lunak aplikasi waktu-nyata di bidang keahliannya masing-masing.

  • Menjembatani ahli informatika dengan ahli di bidang ilmu lain.

          Ketiga tujuan tersebut secara spesifik dalam pelaksanaan Program S2-RTSE telah diterapkan dalam bidang "lain" yaitu bidang yang berkaitan dengan industri dirgantara.

2.2 Kurikulum
          Titik berat program pendidikan ini adalah ilmu dan teknik informatika, khususnya Rekayasa Perangkat Lunak Waktu-Nyata. Untuk itu materi pendidikan ditekankan untuk menunjang aspek pengembangan perangkat lunak waktu-nyata, antara lain : pemrograman terstruktur, pemrograman sistem, dan arsitektur komputer. Di samping itu, materi pendidikan adalah Metodologi Rekayasa Perangkat Lunak Waktu-Nyata, mencakup aspek yang menentukan keberhasilan perancangan, pengembangan, pengoperasian dan perawatan perangkat lunak waktu-nyata. Dan bagaimana merekayasa sistem waktu-nyata yang didukung oleh perangkat lunak tersebut.

          Dalam program S2-RTSE yang telah dilaksanakan, matakuliah pilihan pada Kurikulum dirancang secara khusus untuk memenuhi kebutuhan SDM dibidang rekayasa perangkat lunak yang spesifik untuk industri dirgantara.

          Dalam waktu yang terbatas dan singkat, diharapkan perolehan pengetahuan dan praktek para lulusan dapat semaksimal mungkin dan hasilnya langsung dapat dimanfaatkan perusahanaan (dalam hal ini PT DI).

          Komposisi kurikulum yang telah diterapkan untuk Programn S2-RTSE bagi karyawan PT DI tersebut adalah :

  • matakuliah bidang Software Engineering, yang mencakup semua siklus hidup perangkat lunak disertai dengan project managementnya

  • matakuliah mengenai topik khusus industri dirgantara seperti Flight Dynamics, Flight Control Systems, Aircraft Systems. Pemilihan matakuliah topik khusus industri dirgantara ini dikaitkan dengan aspek waktu nyata yang selalu ditemui pada sistem-sistem tersebut

  • matakuliah untuk mengerjakan proyek akhir, yang topiknya berasal dari PT DI dan dibimbing bersama oleh dosen dari ITB dan dari PT DI. Dalam kerangka program Pasca Sarjana S2 ITB, kegiatan proyek akhir ini dikerjakan sebagai Tesis Magister. Hal yang spesifik dari tesis mahasiswa RTSE dibadingkan dengan mahasiswa S2 reguler adalah keharusan untuk membuat Dokumen Teknik yang berkaitan dengan pengembangan software, yang sesuai dengan standard dokumentasi yang disetujui bersama oleh PT DI dan ITB.

          Secara lengkap, kurikulum dan jam kuliah dapat dilihat pada lampiran A.

2.3 Pelaksanaan
          Program pendidikan Pasca Sarjana S2 RTSE diselenggarakan selama 2 (dua) tahun akademik, yang terdiri dari 4 (empat) semester dengan jumlah beban akademik 36 Satuan Kredit Semester (SKS).

          Selama waktu pendidikan tersebut, mahasiswa yang merupakan karyasiswa dari PT DI harus mempergunakan waktunya secara full time seperi layaknya jam kerja di perusahaan. Perkuliahan dilaksanakan mulai pukul 08:00-15:00 setiap hari mulai dari hari Senin s/d Jumat. Semua fasilitas (komputer, software, peralatan lain yang diperlukan) disediakan oleh penyelenggara pendidikan (dalam hal ini Departemen Informatika ITB).

          Untuk memenuhi kebutuhan spesifik PT DI, matakuliah Pilihan ditentukan secara spesifik dan harus diikuti oleh semua peserta, dan semua kuliah yang ada pada kurikulum diorganisasi per modul, sehingga lebih mendekati situasi kerja dibandingkan situasi studi seperti layaknya pendidikan S2 untuk umum yang diselenggarakan secara reguler mengikuti kalender akademik di suatu universitas. Dengan sistem modul ini, peserta mengkonsentrasikan diri pada satu topik pada suatu waktu tertentu. Matakuliah pilihan dan Modul yang didefinisikan untuk Program S2-RTSE yang sudah dilaksanakan juga dapat dilihat pada Lampiran-A.

          Pada saat pengerjaan proyek akhir/tesis, karena topiknya berasal dari kebutuhan PT DI, karyasiswa bekerja di PT DI dan juga di ITB tergantung kebutuhan saat itu. Pekerjaan yang membutuhkan komunikasi intensif dengan Tutor atau membutuhkan peralatan yang khusus, maka dikerjakan di PT DI, sedangkan pekerjaan yang lebih bersifat akademik dan berhubungan dengan literatur serta penulisan laporan dikerjakan di ITB. Pengerjaan proyek akhir/tesis dikendalikan sepenuhnya sesuai dengan disiplin yang dituntut seperti pada metodologi rekayasa perangkat lunak. Review formal tentang hasil pekerjaan karyasiswa dilakukan secara terjadwal sesuai dengan schedule yang sangat ketat, yang telah disusun sejak awal pengerjaan proyek akhir/tesis.

          Dengan komposisi kurikulum dan pelaksanaan pendidikan S2 RTSE tersebut, maka pengajar harus memenuhi kualifikasi standar industri dan juga akademik. Pada pelaksanaan program tersebut, dibentuk adanya suatu "Board of Thesis" yang mewakili ahli di bidang masing-masing, yang akan menangani mulai dari penentuan topik proyek akhir/tesis, proses pelaksanaannya sampai dengan proses pertanggung-jawabannya di akhir pada saat sidang tesis.

2.4 Peserta
          Peserta program pendidikan S2 RTSE tersebut dipilih berdasarkan proses seleksi yang diadakan bersama oleh ITB dan PT DI. Materi seleksi adalah Test Potensial Akademik, Matematika, Arsitektur Komputer dan Pemrograman. Dengan berbagai keterbatasan yang ada, maka program pendidikan S2 RTSE baru bisa dilaksanakan untuk tiga angkatan dengan populasi karyasiswa sebanyak 20 (duapuluh) untuk setiap angkatan. Untuk ketiga angkatan tersebut, peserta program ini sebagian besar adalah karyawan dari lingkungan Direktorat Teknologi PT DI yang telah lolos seleksi.

2.5 Lulusan
          Program Magister Informatika Bidang Khusus Rekayasa Perangkat Lunak Waktu-Nyata (Program S2 RTSE) tersebut secara khusus telah diselenggarakan untuk karyawan PT DI sejak tahun 1997 selama 3 tahun berturut-turut dan menghasilkan 52 lulusan, dengan distribusi kelulusan seperti yang diberikan pada Tabel 1.

AngkatanJumlah PesertaMemperoleh Gelar MagisterMemperoleh Sertifikat
1/1997202020
2/1998201720
3/1999201515

Tabel 1. Rekapitulasi Peserta dan Lulusan Program S2-RTSE

          Pada akhir studi, mahasiswa dapat memperoleh gelar akademik magister dari ITB dan sertifikat dari universite Thomson. Gelar magister diberikan bagi peserta yang memenuhi persyaratan akademik (penulisan tesis), dan sertifikat diberikan bagi peserta yang telah lulus dan menyelesaikan semua modul serta pengerjaan proyek akhir dalam bentuk dokumentasi teknik yang berkaitan dengan pengembangan software.

          Hasil lulusan dari tiga angkatan Program S2-RTSE tersebut kini telah bekerja kembali di PT DI, terutama di lingkungan Direktorat Teknologi. Pada umumnya, mereka kembali ke departemen asal masing-masing seperti sebelum mereka mengikuti program pendidikan S2 RTSE.

          Beberapa masukan telah diperoleh, yaitu apresiasi dari pihak Thomson Perancis dalam mempekerjakan beberapa lulusan dan Tutor yang pernah terlibat dalam program ini. Dengan pengenalan metodologi dan dokumentasi standard yang seragam, integrasi seseorang ke dalam sebuah tim kerja yang sudah berjalan tidak perlu membutuhkan waktu adaptasi yang lama.

3. Lesson Learned dan Saran-saran
          Berdasarkan pengalaman pelaksanaan program pendidikan S2 RTSE tersebut, pada bagian ini disampaikan beberapa saran yang mungkin dapat menjadi masukan bagi pihak manajemen PT Dirgantara Indonesia di masa yang akan datang.

3.1 Masih diperlukan Pendidikan "sejenis" Program S2-RTSE
          Program pendidikan S2 yang sejenis dengan yang pernah dilaksanakan masih perlu diadakan, jika pola pendidikan Sarjana (terutama S1) di Indonesia masih seperti yang ada sekarang ini. Keuntungan dari program pendidikan yang diadakan secara khusus untuk suatu instansi adalah:

  • Peserta memiliki bidang kerja yang relatif "seragam" (dalam hal ini industri manufaktur dirgantara), meskipun latar belakang pendidikan S1 peserta berlainan

  • Tujuan pendidikan dapat lebih spesifik ke bidang/industri tertentu, sehingga waktu studi yang hanya 2 tahun dapat dimanfaatkan secara lebih efisien oleh industri dalam pengembangan SDM

  • Tutor dari Industri yang dilibatkan dalam program seperti ini ternyata juga secara tidak langsung dilibatkan dalam proses belajar, sehingga kemampuan Tutor juga bertambah

          Dengan telah dihasilkannya 52 (limapuluh dua) orang lulusan program S2 RTSE tersebut, setidaknya kebutuhan akan SDM berkualifikasi dalam bidang kedirgantaraan yang mengerti tentang software engineering sudah berkurang, namun masih dibutuhkan tenaga dengan kualifikasi yang lebih spesifik dalam sub bidang lain (bukan hanya aspek Real Time Software Engineering saja).

          Jika hal ini yang merupakan kebutuhan, maka disarankan agar PT DI tetap melakukan program pendidikan S2 sejenis bagi beberapa karyawannya, dengan harapan ada perlakuan khusus untuk matakuliah topik industri serta dan masalah tesis/proyek akhir sehingga hasil tesis/proyek akhir dapat langsung berguna bagi perusahaan.

3.2 Problematika Karyasiswa
          Pendidikan Program S2-RTSE yang telah diselenggarakan pada umumnya diikuti oleh karyawan yang sudah (lama) bekerja di lapangan dan bukan "fresh graduate". Kami menyebut karyawan yang juga berstatus mahasiswa ini sebagai karyasiswa, karena mereka berstatus sebagai karyawan dan juga sebagai mahasiswa. Sebagai mahasiswa mereka harus mentaati peraturan akademik, dan sebagai karyawan mereka masih harus memenuhi beberapa ketentuan perusahaan.

          Peraturan yang spesifik dan tidak menimbulkan konflik serta mekanisme pengendalian yang dilakukan oleh dua pihak (ITB dan PT DI) perlu diterapkan dengan baik. Misalnya masalah kehadiran karena peserta sesekali bekerja/belajar di kampus dan kadang harus berada di PT DI. Menurut pengalaman, karyasiswa semacam ini lebih sulit untuk adaptasi pada program S2 dibadingkan dengan seorang lulusan S1 yang belum terlalu lama bekerja di industri.

3.3 Perlu mendorong karyawan untuk memperoleh Sertifikasi
          Pendidikan formal biasanya hanya memberikan ijasah atau gelar akademik dan kurang mempunyai bobot professional. Dalam karirnya sebagai karyawan, ada baiknya setelah pengakuan akan ijasah formal, perusahaan juga memberikan apresiasi (kredit) terhadap sertifikat-sertifikat profesional asalakan sertifikat tersebut mempunyai kualifikasi yang diakui (secara Nasional maupun Internasional) dan dapat dipertanggung jawabkan. Dalam kasus program S2 RTSE ini, selain gelar akademik Magister, peserta juga memperoleh sertifikat dari Universite Thomson-Perancis.

          Organisasi seperti IEEE telah memulai memberikan sertifikat profesional di bidang software engineering mulai tahun 2001 dengan berbagai persyaratan yang harus dipenuhi oleh pemohon [4]. Di tingkat Nasional, hal semacam ini belum ada dan masih perlu dirintis. Apa yang dipaparkan di referensi [2] mengenai model pendidikan yang disarankan (model pendidikan dengan gelar akademik, model pendidikan melalui pelatihan bersertifikat), sangat relevan untuk digaris-bawahi dan mulai dilaksanakan.

3.4 Potensi Untuk Partisipasi di Pasar Global Dalam Bidang SWE
          SDM adalah salah satu sumberdaya yang dapat dijual oleh Indonesia pada era perdagangan global. Dengan nilai tambah yang luar biasa ketika kemampuan rancang bangun pesawat udara diubah untuk keperluan rancang bangun sistem pesawat udara yang spesifik, khususnya yang sarat dengan software, maka sebenarnya Indonesia berpotensi untuk berpartisipasi dalam pasar global industri dirgantara. Kami percaya bahwa kemampuan karyawan PT DI tidak kalah dibandingkan dengan kemampuan bangsa lain (hal ini telah dibuktikan dari komentar dari pihak Perancis/Thomson). Dalam hal ini peningkatan kemampuan karyawan yang memang berpotensi sangat perlu. Jika untuk sementara waktu kemampuan SDM yang mahir dalam bidang software engineering belum dapat dimanfaatkan secara optimal di PT DI (terutama di masa krisis seperti saat ini), maka SDM tersebut dapat 'disewakan' ke pihak lain di luar negeri atau dengan cara mengambil pekerjaan dari luar negeri untuk dilaksanakan/dikerjakan di PT DI [7]. Pekerjaan yang dapat dilaksanakan oleh para software engineers PT DI tentunya tidak perlu dalam bidang dirgantara saja, tetapi dapat berupa bidang-bidang yang merupakan 'spin off' dari kegiatan rancang bangun pesawat udara.

3.5 Institusi Pendidikan Perlu Umpan Balik dari Industri
          Penerapan program pendidikan S2 RTSE ini di ITB merupakan program pendidikan S2 dengan 'pola baru'. Meskipun pola tersebut sudah 'well established' di universite Thomson-Perancis, di ITB masih perlu elavuasi lebih lanjut. Dalam hal ini umpan balik dari alumni peserta program S2 RTSE, khususnya yang berkaitan dengan proses pendidikan, sangat diharapkan dan diperlukan bagi pihak institusi pendidikan.



***

Biodata
Inggriani Liem dan Hari Muhammad

Anggota Board of Thesis Program Pascasarjana Rekayasa Perangkat Lunak Waktu Nyata Departmen Teknik Informatika, Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesa 10, Bandung 40132, Indonesia E-mail: inge@informatika.org, harmad@ae.itb.ac.id.