Buku ini lahir dari sebuah keprihatinan serta niatan perubahan yang dilakukan PT. Dirgantara Indonesia membangun paradigma baru. Paradigma baru dari industri berorientasi penguasaan teknologi dengan dukungan total pemerintah menuju industri yang lebih berorientasi bisnis.

          Sebagai suatu industri yang mengemban misi di atas ketika itu, perusahaan ini memang membutuhkan energi awal yang besar. Sehingga dalam perjalanannya membuat orang terkejut, membuat orang mempertanyakan, dan bahkan senantiasa industri ini digugat.

          Kendati demikian, industri ini telah berdiri dan kini merupakan aset nasional yang secara nyata telah memberikan kontribusi dalam penguasaan teknologi (cash flow teknologi) , walau belum dari sisi ekonomi (cash flow ekonomi).

          Di samping itu tentunya harus disadari bahwa perjalanan PT. Dirgantara Indonesia tidak bisa terlepas dari akar sejarah yang telah dirintis para pelopor - sebagai perjalanan fase pendahuluan -, baik mereka yang bergerak di belakang layar maupun pelopor yang sudah kita kenal, seperti Wiweko Soepono, Nurtanio Pringgoadisurjo, Agustinus Adisutjipto, maupun BJ. Habibie. Selanjutnya ada empat tonggak penting lagi dalam perjalanan fase berikut - pada tahun 1976 - ketika pemerintah memberi dukungan penuh bagi pendirian dan pembangunan industri pesawat terbang ini selama periode 20 tahun.

          Tonggak pertama, ketika aset LIPNUR - TNI-AU dengan ATTP - Pertamina dilebur dan menjadi Industri Pesawat Terbang Nurtanio, 23 Agustus 25 tahun lalu. Industri ini menjadi salah satu kekuatan dirgantara nasional. Dari situlah tonggak kesejarahan industri pesawat terbang modern selanjutnya dibangun untuk menghadapi tantangan jaman serta dipacu percepatannya. Sebagian hasilnya adalah penguasaan teknologi pembuatan pesawat terbang melalui metoda " progressive manufacturing program".

          Disusul tonggak kedua, ketika hadir pesawat baru CN-235 (kerjasama disain dan produksi dengan CASA). Tidak bisa dipungkiri kini pesawat serbaguna ini banyak digunakan untuk transport militer, maupun misi khusus yang banyak dioperasikan di berbagai negara. Di sini kemampuan merancang, mengintegrasi, serta mengoptimasi komponen dalam suatu sistem produk baru; juga kemampuan pengujian dan sertifikasi produk rancangan baru mulai dikuasai.

          Tonggak ketiga, ketika rancangbangun dilanjutkan terbang perdana N250. Program ini telah menghasilkan temuan-temuan tertentu dalam teknologi pesawat terbang.

          Itulah tiga tonggak utama yang dicapai industri ini - di bidang penguasa-an teknologi yang teraplikasikan dalam bidang disain, manufacturing, quality assurance, product support, maintenance & overhaul dengan pengakuan dari pihak otoritas dalam dan luar negeri - dalam kurun waktu 25 tahun. Kenyataan-kenyataan di atas mau tidak mau telah menjadikan Indonesia ada dalam peta teknologi kedirgantaraan dunia.

          Dalam perjalanan sebuah industri atau perusahaan, pencapaian di atas boleh jadi baru separuh jalan. Karena separuhnya lagi adalah bagaimana produk-produk industri ini bisa diserap serta memenuhi kebutuhan pasar. Inilah tonggak keempat, di mana PT. Dirgantara Indonesia didorong makin mempercepat perubahan paradigmanya ketika krisis ekonomi melanda negeri ini.

          Kehadiran buku ini di antaranya hendak menyajikan upaya-upaya membangun masa depan dengan berbasis pada sejarah, pencapaian penguasan teknologi, serta tantangan dan peluang berkait dengan perubahan-perubahan mendasar di lingkungan strategis. Melalui buku "25 Tahun PT. Dirgantara Indonesia - Membuka Paradigma Baru" ini, kami mencoba menampilkan gambaran utuh serta fakta yang mencakup perpektif sejarah, upaya-upaya ke depan, pandangan, harapan serta tanggapan para mitra terhadap PT. Dirgantara Indonesia dalam menata kembali masa depan serta dalam rangka memberikan nilai tertentu bagi para mitranya.

          Kami menyadari sulit bagi kami menyajikan buku yang begitu sempurna dengan kendala situasi dan waktu yang tersedia. Kami sadari, masih banyak fakta yang mungkin masih tercecer. Harapan kami dalam kesempatan lain hal-hal tersebut dapat dilengkapi dan diungkap kepada sidang pembaca.

          Terwujudnya buku ini tentunya atas dukungan semua pihak : direksi, mitra kerja, serta para narasumber yang telah memberikan pemikiran, pandangan, tanggapan bagi PT. Dirgantara Indonesia.

          Selain itu, secara khusus terima kasih kami sampaikan kepada Bpk. Ashadi Tjahyadi yang dalam kesibukannya bersedia selaku narasumber. Tiada gading yang tak retak.

          Akhirnya, Dirgahayu, PT. Dirgantara Indonesia. Keyakinanmu akan membawamu kepada tujuan. Semoga.

Bandung, Agustus 2001
Penanggungjawab
Pudji Sulaksono
Editor
Purwono, Lili Irahali, Hendarmin Djarab.