Home > Media > News
    NEWS

PT DIRGANTARA INDONESIA TAKE OFF 2015

08 Mei 2012 | 09:21

Budi Santoso:

SENIN 23 APRIL 2012, TEMPO - Lengangnya suasana PT Dirgantara Indonesia, pada awal pekan yang sibuk, ibarat sisa-sisa "tidur panjang" setelah perseroan ini runtuh menyusul krisis ekonomi pada 1997. Dilahirkan oleh B.J. Habibie sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi pada era Soeharto dengan nama Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN), di masa jayanya industri ini pernah amat dibanggakan Indonesia. Sampai kini IPTN, yang beralih nama menjadi PT Dirgantara Indonesia, atau disingkat PT DI, tercatat sebagai satu-satunya industri dirgantara di Asia Tenggara.

Tempo memasuki kompleks PT Dirgantara di Bandung itu pekan lalu dan segera menemukan gedung-gedung senyap, dengan banyak ruang kosong. "Lha, ini kan kompleks untuk 16 ribu orang, dan sekarang hanya ada 3.000-an," Direktur Pengembangan Bisnis dan Teknologi PT DI Dita Ardonni Jafri menjelaskan.

Setelah pemerintah menghentikan bantuan pada 1997, PT DI ambruk. Utangnya bertumpuk, kantongnya kosong, tak ada pekerjaan. Ribuan karyawan diberhentikan. PT DI bahkan sempat dipailitkan oleh Pengadilan Niaga di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, meski putusan itu kemudian dibatalkan.

Upaya bertahan dilakukan melalui bermacam cara: memproduksi alat pembuat panci, memperbaiki pesawat bekas, menjual komponen pesawat, hingga "menyewakan" tenaga kerja profesional mereka ke industri serupa di luar negeri.

Pada awal 2012, PT Dirgantara mencatat langkah baru: mengirim empat CN-235, pesanan pemerintah Korea Selatan. Mereka juga merampungkan tiga CN-235 pesanan TNI Angkatan Laut dan 24 heli Super Puma, yang diorder Eurocopter. Kerja sama dengan Korea Selatan membuat pesawat tempur, melalui program KF-X, yang menelan biaya US$ 8 miliar, sedang digegaskan. Dan, pekan lalu, PT DI membuhul kerja sama mengembangkan pasar Asia-Pasifik dengan Airbus Military, anak perusahaan Airbus.

Alhasil, angin segar pelan-pelan berembus, membangunkan kembali industri ini dari mati suri. Jadwal kerja Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia Budi Santoso menjadi jauh lebih padat. Toh, dia menyempatkan diri menerima wartawan Tempo Purwani Diyah Prabandari, Istiqomatul Hayati, Anwar Siswadi, serta fotografer Aditya Herlambang Putra di kantornya pada Selasa pekan lalu. Dita Ardonni mendampingi Budi sepanjang wawancara, dan menambahkan sejumlah penjelasan.

PT Dirgantara Indonesia disebut-sebut telah bangkit kembali. Anda setuju?

Kalau mau dibilang kebangkitan, mungkin juga tak seperti dulu lagi. Pemerintah dulu membiayai kegiatan PT Dirgantara Indonesia untuk N-250 hingga lebih dari US$ 1 miliar (setara dengan Rp 9,2 triliun lebih).
Kan, akan ada kucuran dana Rp 1 triliun dari pemerintah. Rencananya untuk apa saja?
Akan lebih banyak untuk (pembenahan) sumber daya manusia. Juga agar infrastruktur kami tak ketinggalan zaman, dan lebih efisien. Mesin kami umurnya sudah 20 tahun lebih, ada yang 40 tahun. Jadi tidak bakal kompetitif. Dalam tiga-empat tahun ke depan, sebagian besar insinyur kami pensiun. Kalau tidak (ada) regenerasi, akan hilang semua.
Sumber daya manusia PT DI sekarang kebanyakan di level apa?
Ada 800 insinyur yang berusia di atas 40 tahun. Di bidang produksi mungkin ada 1.200 insinyur. Kami masih memerlukan 400 tenaga insinyur senior, dan 400 yang junior. Untuk mendidik orang sampai bisa ikut satu siklus, diperlukan waktu empat sampai lima tahun. Jika dalam dua tahun ke depan tidak ada program pengembangan, kami bisa habis.
Apa strategi untuk mengatasi problem ini?
Saat (saya) menjadi direktur pada 2007, kami hanya punya uang cukup sampai 2008, dan ada banyak utang. Tak ada pekerjaan (ketika itu). Kalaupun ada, tak berprospek. Maka kami harus mencari-carinya. Yang penting buat PT Dirgantara adalah meneruskannya. Jadi pilihannya dua: kami mendapat pekerjaan, bisa hidup. Kalau tidak dapat, kami mati. Harga (pesawat) kami lebih mahal daripada pesaing.
Seberapa mahal?
Empat pesawat pemerintah Korea Selatan kami jual seharga US$ 94 juta. Ada pesaing menawarkan US$ 80 juta. Airbus Military menawarkan harga US$ 110 juta. Dengan harga tersebut, kami ambil risiko. Kami mengambil radar atau mission system yang murah dari luar negeri. Setelah itu berhasil, kami berpikir, kami bisa bangkit lagi.
Pesanan lain datang dari mana?
Pada 2010, Angkatan Laut memesan tiga buah. Banyak pesanan baru kami terima pada 2012, meski ada promosi pada 2011. Tahun ini ada pembuatan pesawat N295 untuk TNI AU walau itu bukan (kerja) ideal bagi PT Dirgantara.
Kenapa begitu?
Karena desain dan produksi N295 bekerja sama dengan Airbus Military, yang cara kerjanya berbeda dengan kami. Artinya, kami harus belajar lagi. Meski pesawat ini mirip dengan CN-235, badan pesawat N295 diperpanjang dan mesinnya diganti lebih besar. Alhamdulillah, akan ada transfer teknologi untuk program N295.
Seperti apa model kerja sama antara Airbus Military dan PT Dirgantara dalam proyek N295?
Kami ikut pembuatan pesawat kesatu, kedua, ketiga. Untuk komponen, (kontribusi) kami hanya 10-20 persen. Tapi kami akan terus meningkatkannya. Target kami, membuat hingga 50-60 persen komponen untuk pesawat-pesawat berikutnya. Sehingga porsi pekerjaannya sesuai dengan keinginan kami. Dengan Airbus, kami ingin dapat offset 80 persen dari harga pembelian pemerintah. Karena itu, kami harapkan pada 2014 final assembling sudah (dilakukan) di sini.
Apakah PT Dirgantara akan lebih berfokus pada komponen, dan tak lagi menjadi industri pesawat terbang?
Mungkin strategi kami sekarang agak terbalik dibandingkan dengan zaman Pak Habibie (B.J. Habibie). Pak Habibie mendahulukan engineering. Kami tak bisa seperti itu lagi. Yang bisa kami kerjakan adalah memproduksi (pesawat) lebih bagus, mendapatkan banyak pesanan, baru engineer­ing.
Apa saja program kerja PT DI berikutnya?
Kontrak dengan Eurocopter untuk menyediakan pesawat coast guard itu seperti Super Puma yang dimodifikasi. Indonesia membeli enam buah. Nah, kalau kami harus assembling di sini hanya untuk enam pesawat, tidak akan kebayar. Kan, harga yang diminta tidak boleh lebih mahal dari tempat lain.
Bagaimana solusinya?
Saya bilang ke Eurocopter, oke, saya mau kerja sama. Saya menjual pesawat Anda, dan saya dapat sedikit pekerjaan pada pesawat yang enam ini. Tapi saya harus dikasih pekerjaan lain, seperti membikin tailboom (bagian ekor) dan fuselage (badan utama). Kami akhirnya dapat kontrak hingga 125 pesawat sampai tahun 2020.
Berarti PT Dirgantara menjadi dealer?
Ya, kami jadi dealer, tapi mendapat pekerjaan lebih banyak lagi.
Jadi, perseroan ini sekarang masih dalam tahap survival?
Dalam tahap survival, tapi basis perusahaan sudah mulai ada. Dan, yang penting, kami punya aset dan jangan punya utang.
Apakah utang lama sudah lunas?
Akhir tahun lalu. Utang tersebut dikonversi menjadi modal. Jumlahnya sekitar Rp 5 triliun. Sehingga secara bisnis positif. Kami bisa pinjam modal. Kemudian pemerintah memberi tambahan modal Rp 1 triliun.
Untuk bisa bangkit lagi sebagai industri, apa saja apa yang mesti dilakukan?
Problem kami satu, untuk memulai produksi lengkap, kami perlu order minimal 50-60 pesawat dalam kontrak lima sampai enam tahun ke depan. Di Korea Selatan, misalnya, jika pemerintahnya mengatakan membeli helikopter baru, mereka akan memberi jaminan pembelian hingga 400 pesawat.
Di Indonesia bagaimana?
Pemerintah membeli satu atau dua, enam paling banyak. Saat ini PT DI baru survive di tingkat bawah. Basis sebagai perusahaan sudah cukup, yang dua-tiga tahun lalu tidak ada. (Ketika itu) kami mengerjakan apa saja yang bisa: mengirim orang menggarap pesawat di Turki, memodifikasi pesawat di Iran, menjual komponen ke Airbus.
Sejauh ini apa bentuk dukungan pemerintah yang sudah ada?
Sampai sekarang baru ada peraturan pemerintah untuk membentuk Komite Kebijakan Industri Pertahanan. Dua tahun lalu komite itu dibentuk.
Berapa besar order dari pemerintah sejak Komite Kebijakan dibentuk?
Total order mendekati US$ 700 juta. Bandingkan dengan (cara) pemerintah Turki mendukung industri dirgantara mereka: membeli F-16 240 unit dalam sekali pesan untuk 20 tahun. Kalau kita, (pesanan) lima unit saja ribut.

Negara tetangga banyak memesan? Malaysia, misalnya.

Malaysia terakhir tidak memesan karena mereka punya problem anggaran.
Menurut Anda, semaju apa bisnis dirgantara Malaysia?
Mereka tak punya basis industri lengkap mulai desain hingga produksi seperti PT DI. Kita masih bisa lebih dari Malaysia meski di beberapa tempat kita kalah.
Bagaimana dengan kompetisi bisnisnya?
Kalau dilihat dari sisi infrastruktur, Indonesia tidak kompetitif. Tapi kita bisa bersaing karena PT DI punya sumber daya manusia (yang bagus). Pernah ada satu perusahaan Inggris tidak jadi berinvestasi di Indonesia karena di sini mereka tak mendapat apa-apa. Waktu mereka datang ke Malaysia, langsung disediakan hanggar, 30 tahun boleh pakai gratis, dan bebas pajak sekian tahun. Jadi mereka berinvestasi di Malaysia tapi bertanya kepada saya caranya mendapatkan orang Indonesia yang bisa bekerja di sana.
Boleh tahu pendapatan PT DI saat ini?
Penjualan kami sekarang di atas Rp 1 triliun per tahun. Kami baru bisa hidup kalau penjualan di atas Rp 2 triliun per tahun. Dengan Rp 1 triliun, kira-kira kami bikin empat CN-235. Pendapatan rutin kami dari pembuatan komponen. (Nilainya) di atas Rp 200 miliar.
Ada penghasilan lain?
Dari perbaikan dan modifikasi pesawat. Pekerjaan seperti itu menjadi tambahan pendapatan.
Apa rencana jangka panjang PT DI?
Kami ingin tahap survival berakhir pada 2015. Setelah itu, kami akan memproduksi pesawat yang pasarnya cukup besar, salah satunya CN-219. Dalam 50 tahun ke depan kami ingin 50 persen (penghasilan) datang dari komponen dan maintenance pesawat.
Maksud Anda, PT DI bisa take off pada 2015?
Take off pada 2015. Setelah itu, pilihannya dua. Kita terbang tinggi atau hanya menjadi industri komponen. Tapi kami masih mengharapkan kita bisa menjadi industri pesawat. Untuk itu perlu sekitar US$ 4 miliar.
Anda optimistis?
Insya Allah. Kalau harus masuk ke industri pesawat komersial, terus terang kami tak bakal mampu bersaing dengan Boeing atau Airbus. Kami akan bermain di kelas yang mereka tidak tertarik, yakni kelas kecil sampai 40-50 seat. Era pesawat 100 persen desain Indonesia sudah lewat. Prancis juga tidak bisa. Kita harus cari mitra global.
Siapa target pasar yang disasar?
Indonesia.



Budi Santoso
Tempat dan tanggal lahir: Jember, Jawa Timur, 18 Juni 1955

Pendidikan:

  • S-1 Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung (1980)
  • Doktor Robotika Katholieke Universiteit Leuven, Belgia (1987)

    Karier:

  • Presiden Komisaris PT Fanuc GE Automation Bandung (1998-2005)
  • Direktur Utama PT Pindad (1998-2007)
  • Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia (2007-sekarang)

    Penghargaan:

  • Satya Lencana Pembangunan 1997
  • Satya Lencana Pembangunan 2006

  • SUMBER : Tempo
    Back