Home > Media > Press Release
    PRESS RELEASE

MENINJAU PROGRES SERTIFIKASI PESAWAT N219, MENRISTEK DIKTI KUNJUNGI PTDI

27 Pebruari 2017 | 10:08

SIARAN PERS
Bandung, 27 Februari 2017 – Humas PTDI
Pada hari Senin tanggal 27 Februari 2017 bertempat di Ruang Rapat Paripurna GPM Lantai 9 PT Dirgantara Indonesia (Persero), diadakan Acara “Kunjungan Kerja Menristek Dikti Republik Indonesia”. Acara kunjungan kerja ini dihadiri oleh Muhammad Nasir selaku Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi dan Thomas Djamaluddin selaku Kepala LAPAN. Rombongan kunjungan kerja Menristek Dikti ini diterima oleh Direktur Utama PTDI, Budi Santoso beserta jajarannya.

Kunjungan kerja ini untuk melihat perkembangan proses sertifikasi pesawat N219. Pesawat N219 merupakan pesawat penumpang dengan kapasitas 19 penumpang dengan dua mesin turboprop yang mengacu kepada regulasi CASR Part 23. Ide dan desain dari pesawat dikembangkan oleh PTDI dengan pengembangan program dilakukan oleh PTDI dan LAPAN.

Pesawat N219 telah melakukan berbagai pengujian, misalnya electrical grounding bonding test, leak test dan cleaning test di fuel tank, untuk memastikan tidak adanya kebocoran, selain itu telah dilakukan pengujian landing gear drop test dan electrical power test.

Pesawat N219 prototype pertama saat ini masih berjalan proses yang disebut basic airframe dan basic system instalation. Kemudian setelah itu akan melakukan berbagai macam uji fungsi (functional test) untuk memastikan setiap komponen berfungsi dengan baik.

Beriringan dengan penyelesaian basic airframe dan basic system instalation di pesawat, kami juga sedang melakukan wing static test untuk prototype pertama pesawat N219, conformity dengan DGCA Kementerian Perhubungan untuk melakukan proses wing static test juga telah dilakukan.

Wing static test merupakan pengujian struktur sayap pesawat N219 diberi beban limit mencapai 100% bahkan hingga ultimate atau dipatahkan untuk melihat kekuatan maksimum yang dapat ditahan oleh sayap pesawat N219. Data dari wing static test ini dapat menjadi bahan evaluasi engineer PTDI untuk melakukan improvement pada pesawat N219.

“Wing Static Test bisa jadi bahan evaluasi redesain atau melakukan weight reduction, karena kalo lebih dari ultimate belum patah, artinya terlalu kuat kolerasinya terlalu tebal, dampaknya berat, sehingga kita akan mempertipis lagi,” kata Palmana Banandhi, Chief Engineering N219.

Wing Static Test merupakan sebagian dari syarat-syarat teknis sebelum terbang perdana dapat dilaksanakan. Terbang perdana sebuah pesawat baru merupakan sebuah proses engineering dimana pesawat baru dapat diterbangkan apabila seluruh syarat dan permasalahan teknis telah dipenuhi. Terbang perdana pesawat N219 akan dilakukan paling lambat pada pertengahan tahun ini.

Keberhasilan terbang perdana N219 sangat penting artinya bagi PTDI dan bagi Industri Dirgantara Indonesia. Karena merupakan pembuktian bahwa bangsa Indonesia mampu melakukan rancang bangun pesawat yang murni 100% hasil rekayasa anak bangsa.

Setelah terbang perdana, kedua prototype yang dibuat harus melakukan 300 jam terbang Flight Test yang diperlukan agar memberikan bukti akan keselamatan penumpang sesuai yang disyaratkan dalam regulasi CASR 23.

Proses Sertifikasi Pesawat N219 Masih Berjalan

Pesawat N219 adalah pesawat yang benar-benar baru yang sebelumnya hanya berbentuk dokumen rancangan diatas kertas. Pembangunan prototype adalah bagian terpenting dari pengembangan pesawat terbang, dimana seluruh pemikiran dan persepsi rancangan diimplementasikan menjadi sebuah pesawat yang secara fisik berfungsi.

Dalam proses ini pasti terdapat berbagai permasalahan-permasalahan teknis karena komponen pertama kali dibuat. Ini dapat ditemui selama detail part manufacturing maupun integrasi (assembly), baik itu terkait design yang harus diperbaiki maupun tools yang membantu penyelesaian detail part.

Setiap masalah yang timbul harus diselesaikan dengan teliti, tidak hanya barang fisiknya, tapi juga dokumen pendukungnya. Hal ini biasa didalam pembangunan prototype pesawat baru.
Dengan dukungan Direktorat Jenderal Penerbangan Sipil (CGCA) Kementerian Perhubungan Republik Indonesia, proses sertifikasi pesawat N219 berjalan sangat baik. Proses sertifikasi dilakukan pada dua aspek yaitu 1) Aspek design dan analisis 2) Aspek pembangunan fisik pesawat prototype.

Proses sertifikasi untuk aspek design dan analysis, tim Kementerian Perhubungan memeriksa satu persatu dokumen yang dibuat oleh engineer PTDI, penyelesaian satu dokumen bisa membutuhkan beberapa kali pertemuan.

Sedangkan pada aspek fisik prototype, tim kementerian Perhubungan memeriksa part-part yang akan diintegrasikan (assembly), hal ini untuk memastikan bahwa part yang dibuat sudah sesuai dengan desain dari engineer. Mengingat banyaknya dokumen (lebih dari 300 dokumen/buku, dan lebih dari 3000 gambar teknis dan equivalen part yang harus direview.
PTDI juga telah membangun beberapa laboratorium untuk mendukung berbagai macam pengujian, laboratorium yang telah kami bangun diantaranya laboratorium avionic, laboratorium elektrikal power sistem, laboratorium hidrolik dan simulator pesawat N219.

Keunggulan Pesawat N219

Pesawat N219 merupakan pesawat angkut ringan yang memiliki kemampuan dapat beroperasi di daerah penerbangan perintis. Pesawat N219 memiliki keunggulan-keunggulan seperti:
-     Dapat lepas landas dalam jarak pendek
-     Dapat lepas landas dan mendarat di landasan yang tidak beraspal
-     Bisa self starting tanpa bantuan ground support unit
-     Dapat beroperasi dengan ground support equipment yang minim
-     Memiliki kabin terluas dikelasnya dan memiliki biaya yang kompetitif.
-     Dapat terbang rendah dengan kecepatan yang sangat rendah mencapai 59 knots.
-    Multihop Capability Fuel Tank, teknologi yang memungkinkan pesawat tidak perlu mengisi ulang bahan bakar untuk melanjutkan penerbangan ke rute berikutnya.

Pesawat N219 diharapkan mampu menjawab kebutuhan yang melayani operasional bandara perintis dan optimis mampu menguasai pasar pesawat terbang di kelasnya.  

Tentang PT Dirgantara Indonesia (Persero)

PTDI merupakan badan usaha milik negara yang didirikan pada tahun 1976, terletak di Bandung, Indonesia. Produk utama yang dihasilkan adalah pesawat terbang, komponen struktur pesawat terbang, jasa perawatan pesawat terbang dan jasa rekayasa. PTDI telah menyerahkan lebih dari 400 pesawat terbang kepada 49 operator sipil dan militer, di dalam dan luar negeri. PTDI memproduksi berbagai jenis pesawat terbang CN235 dengan type certificate untuk penumpang sipil, kargo, pembuat hujan, transportasi militer, patroli maritim, survei dan pengawas pantai.

Selain itu, PTDI juga menghasilkan berbagai pesawat terbang dengan skema kerjasama produksi dengan para mitra kerja strategis internasional a.l dengan Airbus Defence & Space untuk berbagai varian NC212 dan C295; dengan Airbus Helicopters untuk berbagai varian helicopter AS332, H225/H225M, AS550/555/565 dan AS350/365; serta dengan Bell Helicopter Textron untuk berbagai varian Bell 412.

PTDI membuat dan memproduksi bagian-bagian, komponen-komponen, tools dan fixtures untuk pesawat terbang Airbus A320/321/330/340/350/380. PTDI melayani jasa pemeliharaan, overhaul, perbaikan, alteration, customization dan dukungan pelanggan lainnya untuk setiap produk dirgantara yang dihasilkannya, juga produk non PTDI seperti A320, Fokker100 dan Fokker27. PTDI juga sudah dikenal dengan kemampuannya dalam bidang rekayasa kedirgantaraan antara lain melayani jasa rekayasa dan analisa serta flight simulators.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi :
Irland Budiman    
Manager Hukum dan Humas
PT Dirgantara Indonesia (Persero)
Mobile Phone    : 0811 2038 230
Office Number    : +62 22 6054191
Email : irland@indonesian-aerospace.com

Back