20 Februari 2025

Drone Wulung Karya Anak Bangsa Indonesia Bakal PTDI Sempurnakan dengan Kolaborasi Sama Milkor Afrika

ZONAJAKARTA.COM- PT Dirgantara Indonesia (PTDI) adalah salah satu perusahaan Indonesia yang ikut unjuk gigi di ajang IDEX 2025 di Abu Dhabi Uni Emirat Arab (UEA).

PTDI berpartisipasi dalam International Defence Exhibition (IDEX) 2025, pameran pertahanan bergengsi di Timur Tengah yang berlangsung pada 17-21 Februari 2025 di Abu Dhabi National Exhibition Centre (ADNEC), Abu Dhabi.

Di bawah naungan Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI dan dukungan penuh dari Duta Besar RI untuk Uni Emirat Arab (UEA), Husin Bagis, PTDI hadir dalam booth Indonesia Defence Industries bersama anggota Holding Defend ID dan industri pertahanan swasta lainnya.

Direktur Utama PTDI, Gita Amperiawan dan Direktur Niaga, Teknologi dan Pengembangan PTDI, Moh Arif Faisal, turut hadir dalam pameran ini.

Dikutip Zonajakarta.com dari rilis resmi PTDI pada 18 Februari 2025, pada kesempatan hari pertama IDEX 2025, Duta Besar RI untuk UEA, Husin Bagis dan Sekretaris Direktur Jenderal Potensi Pertahanan (Dirjen Pothan) Kemhan RI, Brigjen TNI Heri Pribadi berkunjung ke booth Indonesia Defence Industries yang berisikan berbagai produk unggulan Defend ID, dimana produk dari PTDI adalah pesawat CN235-220, NC212i dan N219, serta Urban Air Mobility (UAM) produk kolaborasi yang digagas oleh PT Vela Prima Nusantara (Vela) yang menawarkan solusi mobilitas udara masa depan yang lebih efisien dan ramah lingkungan.

Partisipasi PTDI dalam IDEX 2025 merupakan bagian dari upaya untuk mempertahankan eksistensi di pasar global, memperkuat kerja sama dengan beberapa strategic partner, serta menjajaki peluang kontrak dan pekerjaan baru guna mendorong peningkatan capaian dan prestasi PTDI dalam mencapai target yang telah ditetapkan.

Selain menjalin kerja sama strategis dengan mitra di wilayah Timur Tengah, PTDI juga memperluas sinerginya dengan industri pertahanan global lainnya.

Pada kesempatan IDEX 2025 kali ini, PTDI dan Milkor – Perusahaan asal Afrika Selatan yang berfokus pada solusi pertahanan di udara, darat dan laut, menyepakati Non-Disclosure Agreement (NDA) untuk eksplorasi kolaborasi yang lebih strategis, yaitu joint development untuk produk Unmanned Aerial Vehicle (UAV) kelas ringan dan sedang.

"Dalam hal ini, Milkor akan mendukung PTDI dalam melakukan improvement kemampuan UAV produksi PTDI, yaitu Wulung dan MALE," jelas PTDI dalam rilis resminya.

Jauh sebelum mengembangkan UAV Elang Hitam, PTDI dan BPPT sebenarnya sudah mengembangkan drone Wulung duluan.

Wulung merupakan program drone atau UAV pengintai yang dikembangkan Indonesia.

UAV Wulung bisa digunakan untuk tujuan sipil maupun militer.

Semisal untuk sipil UAV Wulung berfungsi pemantuan daerah rawan kebakaran atau kemacetan.

Lantas untuk militer Wulung bisa digunakan sebagai UAV intai.

Wulung adalah drone yang dikembangkan bersama oleh PT Dirgantara Indonesia (PTDI), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pertahanan.

Drone Wulung Karya Anak Bangsa Indonesia Bakal PTDI Sempurnakan dengan Kolaborasi Sama Milkor Afrika

Drone Wulung Karya Anak Bangsa Indonesia Bakal PTDI Sempurnakan dengan Kolaborasi Sama Milkor Afrika ( )

Drone ini telah berhasil mendapatkan sertifikat tipe (Type Certificate) dari Indonesian Military Airworthiness Authority (IMAA).

Dengan dikeluarkannya Type Certificate tersebut, maka Wulung telah memenuhi ketentuan/aturan kelaikan udara.

Melansir situs resmi PTDI, Wulung dirancang sebagai sebuah drone dengan kemampuan autopilot, menggunakan konsep modular composite structure, ruang akses yang luas dan perakitan yang cepat dan mudah.

Wulung mempunyai bobot maksimal 125 kg, kapasitas tangki bahan bakar 35 liter, dan menggunakan single piston engine tipe pusher bertenaga 22 Horsepower (Hp).

Dengan sistem autopilot yang terintegrasi di pesawat, Wulung dapat melakukan misi secara automatis.

Misi Utama Wulung adalah Intelejen (Intelligence), Pengawasan (Surveillance), Pengintaian (Reconnaisance) atau dikenal dengan ISR.

Wulung diproduksi dengan menggunakan proses pembuatan dan komponen yang sesuai dengan standar industri penerbangan dan sesuai dengan kualifikasi yang berlaku untuk produk pesawat terbang.

Pengembangan awal Wulung dimulai oleh BPPT bersama Balitbang Kemhan sebagai lembaga riset yang melakukan penelitian dan pengembangan Wulung dari desain awal, purwarupa sampai uji terbang.

Drone hasil pengembangan BPPT tersebut selanjutnya diserahkan ke PTDI sebagai industri yang memiliki Sertifikat Organisasi Rancang Bangun (Design Organization Approval) untuk diproduksi sesuai dengan prosedur standar industri penerbangan.

PTDI bersama Balitbang Kemhan melakukan beberapa perubahan desain drone yang telah dikembangkan BPPT.

Perubahan yang dilakukan meliputi konsep struktur, material yang digunakan, sistem avionik dan mission payload system.

Selain itu, Wulung juga menambahkan fitur transponder untuk memenuhi regulasi keselamatan penerbangan.

Transponder adalah alat yg dipasang di pesawat yang berguna untuk memberikan data (posisi, ketinggian) kepada Radar sebagai alat bantu ATC dalam memberikan pelayanan lalu lintas udara.

PTDI melakukan persiapan proses produksi PTTA Wulung sejak 2014.

Wulung menjalani berbagai uji baik ground test maupun flight test untuk mendapatkan sertifikat tipe.

Uji terbang pertama dilakukan pada tanggal 9 Mei 2015 di Bandara Nusawiru, Pangandaran, Jawa Barat.

Wulung telah melakukan 13 kali uji terbang sertifikasi.

Uji terbang ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan terbang, kemampuan mission payload yaitu kamera FLIR (Forward Looking Infrared), dan memastikan bahwa seluruh komponen dan peralatan Ground Control Station PTTA Wulung berjalan dengan baik.

Dengan didapatkannya Type Certificate dari Indonesian Military Airworthiness Authority (IMAA), Wulung telah memenuhi regulasi dan siap untuk diproduksi.

Untuk satu unit Wulung siap terbang dibutuhkan waktu enam minggu, dengan estimasi tiga minggu untuk produksi struktur, satu minggu untuk integrasi dan dua minggu untuk testing seperti ground test, kalibrasi, dan berbagai macam pengujian lainnya.

Tahap produksi massal untuk Wulung dimulai pada awal Mei 2016.

Kala itu, ada 3 (tiga) unit Wulung bakal yang sudah dipesan, yakni dari Kementerian Pertahanan.

Wulung yang dihasilkan saat ini kualitasnya sudah baik dan sesuai dengan spesifikasi yang diminta TNI AU.

UAV Wulung pun sudah diproduksi massal meski seri berikutnya tetap mengalami penyempurnaan.

Akan tetapi tetap saja ada beberapa kelemahan di Wulung.

Salah satunya soal mesin.

Wulung bisa terbang sampai 73 km jauhnya namun mesin UAV itu berisik.

Padahal wahana seperti UAV mesti sesenyap mungkin agar keberadaannya tak diketahui musuh.

Hal inilah yang jadi perhatian media asing.

"Indonesia tengah mengembangkan UAV-nya sendiri.

Baru-baru ini, Indonesia mengundang media untuk melakukan uji terbang UAV Wulung.

Pesawat ini memiliki berat 120 kg (264 pon) dengan lebar sayap 6,36 meter (19,7 kaki), kecepatan jelajah 111 kilometer per jam, dan daya tahan empat jam.

Mesinnya sangat berisik dan saat ini Wulung hanya dapat beroperasi sejauh 73 kilometer dari stasiun pengendali daratnya.

Semua itu dapat ditingkatkan, karena UAV yang sangat mirip di negara lain telah melakukan hal yang sama," jelas Strategy Page dalam artikelnya berjudul 'Warplanes: Indonesia Develops UAVs' pada 28 Oktober 2012.

Tak heran jika kini PTDI menggandeng Milkor Afrika Selatan yang sudah lebih berpengalaman mengembangkan UAV.

Source: https://www.zonajakarta.com/nasional/67314587867/drone-wulung-karya-anak-bangsa-indonesia-bakal-ptdi-sempurnakan-dengan-kolaborasi-sama-milkor-afrika?page=5

22 April 2026
Kick Off Pembaharuan Infrastruktur SAP dan DRC untuk N219 dan Produk Pesawat Lainnya

21 April 2026
PTDI Perkuat Peran Strategis di Malaysia melalui DSA 2026

21 April 2026
PTDI menawarkan roket 70 mm untuk kebutuhan regional di DSA 2026

21 April 2026
PTDI Tampil Beda di DSA 2026, Kunci Pasar Malaysia

21 April 2026
Dari Lisensi Belgia ke Kemandirian: PTDI Tawarkan Roket 70mm dalam Ajang DSA 2026

21 April 2026
PTDI Perkuat Jejak di Malaysia Lewat DSA 2026, Tawarkan Solusi Pertahanan End-to-End

Pencarian Berita