30 Januari 2025

Lisensi Produksi KAAN untuk Indonesia Tak Hanya Tingkatkan Superioritas TNI AU Namun Juga PTDI

ZONAJAKARTA.com - Turki sudah lama menawarkan KAAN sebagai jet tempur generasi kelima produksinya kepada Indonesia.

Indonesia bahkan disarankan untuk memperoleh lisensi produksi KAAN mengingat kemampuannya yang dinilai mampu melebihi F-35.

Kemampuan tersebut tidak hanya meningkatkan superioritas bagi skill tempur TNI AU namun juga posisi PT Dirgantara Indonesia (PTDI) di pasar dirgantara Asia Pasifik.

Sikap Turki yang konsisten dan persisten dalam mengembangkan KAAN bukan tanpa alasan.

Pasalnya Ankara pernah merasakan didepak dari proyek jet tempur generasi kelima F-35 oleh Amerika Serikat lantaran akuisisi sistem pertahanan udara buatan Rusia, S-400 pada pertengahan 2019.

Washington beralasan bahwa keputusan itu diambil lantaran pihaknya tak ingin Moskow memanfaatkan hubungan dengan pelanggannya untuk memperoleh data krusial terkait informasi teknis pesawat buatan Lockheed Martin tersebut, sesuai dengan ketentuan The Countering America's Adversaries Through Sanctions Act (CAATSA).

"Keputusan Turki untuk membeli sistem pertahanan udara S-400 Rusia membuat keterlibatannya dengan F-35 menjadi mustahil. F-35 tidak dapat hidup berdampingan dengan platform pengumpulan intelijen Rusia yang akan digunakan untuk mempelajari kemampuan canggihnya," demikian pernyataan Gedung Putih sebagaimana dikutip ZONAJAKARTA.com dari artikel berjudul "Turkey officially kicked out of F-35 program, costing US half a billion dollars" yang dimuat oleh laman Defense News pada 17 Juli 2019.

Hal inilah yang menjadikan Turki seolah berniat untuk "balas dendam" atas perlakuan Amerika Serikat yang dianggapnya "tidak memiliki dasar kuat".

Sampai pada akhirnya, KAAN sukses menjalani penerbangan perdananya pada 21 Februari 2024 dan memukau publik internasional.

Keberhasilan KAAN yang melakukan uji terbang sejak tahun lalu membuat sikap Amerika Serikat perlahan melunak.

Ini dibuktikan dengan adanya tawaran kepada Turki untuk membeli 40 unit F-16 Viper senilai 23 miliar dolar AS menjelang akhir Januari 2024.

Meski dalam perjalanannya, pesawat tersebut tak jadi dibeli oleh negara besar di kawasan Mediterania itu.

Sudah Ditawarkan Sebelum Penerbangan Perdana

Jauh sebelum penerbangan perdana dilaksanakan, Turki sudah lebih dulu melakukan penawaran KAAN kepada Indonesia.

Ketika ditawarkan pada tahun 2023, Presiden Prabowo yang saat itu masih menjabat sebagai Menteri Pertahanan (Menhan) RI di bawah kepemimpinan Jokowi sudah menyatakan ketertarikannya terhadap jet tempur generasi kelima itu.

"Kita sedang menjajaki kerja sama dengan Turki untuk pengembangan jet tempur generasi kelima," kata Presiden Prabowo (saat masih menjabat sebagai Menhan RI) melalui sebuah tayangan video yang diunggah kanal YouTube Garuda TV pada 16 Juni 2023.

Akan tetapi sampai dengan saat ini, belum ada tanda-tanda keseriusan Indonesia untuk mengajukan pembelian KAAN yang sudah ditawarkan berkali-kali.

Apalagi sepanjang 2022-2024, pemerintah lebih fokus untuk menyelesaikan proses transaksi 42 unit Rafale dengan nilai kontrak sebesar 8,1 miliar dolar AS.

Harga Mahal Namun Tawarkan Double Benefit untuk Indonesia

Jika ditinjau dari segi harga, satu unit KAAN mungkin akan terasa mahal jika Indonesia membelinya yakni pada kisaran 100 juta dolar AS.

Angka ini mendekati F-35 yang dibanderol pada kisaran 82,4 hingga 102,1 juta dolar AS namun sangat terpaut jauh dari Su-75 yang hanya dipatok sekira 30 juta dolar AS.

Namun apabila ditinjau dari berbagai sisi, memilih produk buatan Turki sebagai jet tempur generasi kelima pilihan untuk NKRI akan mendapat double benefit yang sangat berguna bagi negeri ini.

Tidak hanya memperkecil kesenjangan skill tempur TNI AU dengan Angkatan Udara Republik Singapura (RSAF) yang sudah lebih dulu memiliki F-35.

Tetapi juga useful bagi PTDI yang ingin terus bertumbuh dan berkembang.

Ini sangat ditopang dengan adanya dukungan dari Presiden Prabowo ketika mengunjungi Turki sebelum dilantik memimpin negeri ini.

"Kunjungan kerja Menhan Prabowo ke Turki menghasilkan beberapa komitmen kerja sama industri pertahanan, di antaranya joint development jet tempur generasi kelima, kapal perang fregat, dan helikopter," tulis akun X @KemhanRI pada 22 Agustus 2024.

Bagi TNI AU, keberadaan lisensi produksi KAAN untuk Indonesia memudahkan mereka untuk memperoleh pasokan armada tempur udara dengan cepat dan efisien.

Apalagi jika bicara situasi di kawasan Indo-Pasifik yang sangat tidak menentu.

Sementara dari sisi PTDI, mereka bisa memperoleh kesempatan meningkatkan kapasitasnya merakit pesawat kelas dunia seiring dengan dibukanya kantor cabang Turkish Aerospace Industries (TAI) di Bandung, Jawa Barat yang bahkan berada dalam satu kompleks.

Keinginan ini sangat masuk akal mengingat pemerintah turut mengupayakan adanya transfer teknologi dalam setiap pembelian alutsista dari luar negeri tak terkecuali untuk jet tempur generasi kelima.

Jika ini terealisasi, PTDI akan semakin superior sebagai pemain industri dirgantara paling diperhitungkan di Asia Pasifik setidaknya untuk kawasan ASEAN.

Sebab hal tersebut membuka jalan bagi sejumlah negara tetangga seperti Malaysia, Brunei Darussalam, bahkan Singapura yang sudah menggunakan F-35.

Dan pastinya, kepemilikan lisensi produksi KAAN berpotensi besar meningkatkan penerimaan devisa negara dari sektor industri pertahanan.

Source: https://www.zonajakarta.com/nasional/67314445214/lisensi-produksi-kaan-untuk-indonesia-tak-hanya-tingkatkan-superioritas-tni-au-namun-juga-ptdi

26 Maret 2026
55 Tahun C-212 Aviocar: Sang Legenda STOL yang Kini Menjelma Jadi NC-212i di Tangan Indonesia

13 Maret 2026
PT DI Berbagi Jelang Idulfitri 2026

10 Maret 2026
PTDI Salurkan 880 Paket Sembako Lewat TJSL Ramadan

08 Maret 2026
PTDI Kembangkan Budidaya Sorgum di Jatigede Sumedang

08 Maret 2026
PT Dirgantara Indonesia Kembangkan Sorgum sebagai Pangan Alternatif di Jawa Barat

08 Maret 2026
Harapan Baru untuk Perkuat Ketahanan Pangan Nasional

Pencarian Berita