16 Juli 2026
PTDI Siapkan Produksi 110 Pesawat, Kertajati Majalengka Dijadikan Basis Industri Dirgantara
DESKJABAR – PT Dirgantara Indonesia (PTDI) menjadikan
Bandara Kertajati Majalengka sebagai tempat peningkatan produksi pesawat CN235
dan N219 dengan target 110 unit. Ekspansi bisnis produksi pesawat dilakukan
PTDI dengan bermitra BIJB pada sisi barat bandara.
Bandara Kertajati Majalengka tak hanya diproyeksikan sebagai
pusat transportasi udara. Ke depan, kawasan ini juga akan dikembangkan menjadi
basis industri dirgantara nasional yang mencakup manufaktur pesawat, pusat
perawatan pesawat (Maintenance, Repair and Overhaul/MRO), aerostructure, hingga
pengembangan pesawat tanpa awak atau Unmanned Aerial System (UAS).
Langkah tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota
Kesepahaman (MoU) antara PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dan PT Bandarudara
Internasional Jawa Barat (Perseroda) atau BIJB mengenai pengembangan kawasan
sisi barat Bandara Kertajati sebagai kawasan industri kedirgantaraan.
Perkuat daya saing penerbangan nasional Nota Kesepahaman
ditandatangani Direktur Utama PTDI Gita Amperiawan dan Pelaksana Tugas Direktur
BIJB Ronald H. Sinaga di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur
dan Pembangunan Kewilayahan, Jakarta, Rabu, 16 Juli 2026. Penandatanganan
tersebut disaksikan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan
Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Wakil Menteri Perhubungan Suntana,
serta Bupati Majalengka Eman Suherman. Menko Infrastruktur dan Pembangunan
Kewilayahan AHY mengatakan, kerja sama tersebut merupakan bagian dari komitmen
pemerintah menjadikan Kertajati sebagai salah satu pusat industri dirgantara
nasional.
"Pemerintah tidak hanya terus mengupayakan peningkatan
aktivitas penerbangan di Bandara Kertajati, tetapi juga mendorong lahirnya
ekosistem industri dirgantara yang terintegrasi. Tinggal bagaimana kita
menciptakan pasarnya," ujar AHY.
Dalam tahap awal, PTDI dan BIJB akan mengoptimalkan
fasilitas yang telah tersedia, termasuk landasan pacu (runway) Bandara
Kertajati, untuk mendukung uji terbang berbagai produk PTDI. Produk tersebut
meliputi pesawat sayap tetap (fixed wing), helikopter (rotary wing), hingga
pesawat tanpa awak (UAS) untuk kebutuhan pertahanan maupun komersial.
Layanan operasional pesawat
Pengembangan kawasan industri ini juga menjadi bagian dari
strategi PTDI dalam memperkuat layanan kedirgantaraan secara menyeluruh, mulai
dari pengujian, sertifikasi, pemeliharaan, dukungan purna jual, hingga layanan
sepanjang siklus operasional pesawat (life cycle support).
Direktur Utama PTDI Gita Amperiawan, saat membacakan
sambutan Kepala Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI
Danantara), menyatakan optimistis Kertajati akan berkembang menjadi pusat
industri dirgantara nasional.
"Kami sangat yakin di Kertajati ini bisa dibangun suatu
industri kedirgantaraan nasional yang tangguh. Di sana ada manufaktur, ada MRO,
ada aerostructure, dan tentunya ini akan menjadi suatu kolaborasi antara
industri, pemerintah, pemerintah daerah, dan global partner," katanya.
Pengembangan kawasan industri di Bandara Kertajati juga
menjadi langkah strategis PTDI untuk meningkatkan kapasitas produksi
perusahaan. Hal itu sejalan dengan penugasan pengadaan 80 unit pesawat CN235
dan 30 unit pesawat N219, sehingga total mencapai 110 unit pesawat. Selain
mendukung peningkatan kapasitas produksi, kawasan industri tersebut diharapkan
dapat mempercepat komersialisasi pesawat N219 sekaligus memperkuat kesiapan
sarana dan prasarana produksi PTDI dalam memenuhi kebutuhan industri kedirgantaraan
nasional. Dengan sinergi tersebut, Kertajati diharapkan tidak hanya menjadi
gerbang transportasi udara di Jawa Barat, tetapi juga berkembang sebagai pusat
manufaktur dan layanan industri dirgantara yang mampu memperkuat daya saing
Indonesia di sektor penerbangan. ***
Source: https://deskjabar.pikiran-rakyat.com/ekbis/pr-11310336459/ptdi-siapkan-produksi-110-pesawat-kertajati-majalengka-dijadikan-basis-industri-dirgantara?page=all