02 September 2026

Reporter Cilik Mengintip Dunia Dirgantara

Hi, Hi, Sahabat Medi!

Izinkan saya memperkenalkan diri, nama saya Nathanael Darius Surya Manrangnuang. Kalian bisa memanggil saya Dar atau Darius. Nah, saya akan bercerita tentang kegiatan dan hal-hal menarik selama proses wawancara dengan PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Yuk, disimak baik-baik!

Sesi wawancara ini berlangsung di salah satu industri pesawat terbang terkemuka di Indonesia, bahkan salah satu yang terbesar di Asia Tenggara, yaitu PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Saya senang sekali. Bayangkan bisa melihat langsung jenis-jenis pesawat yang dikembangkan oleh PTDI, bahkan bertemu dengan para direktur dan orang-orang yang menjalankan industri PTDI hingga saat ini!

Kunjungan Pabrik PTDI

Alhamdulillah, pada hari itu saya terpilih menjadi Repcil (Reporter Cilik) dan mendapat kesempatan untuk mengikuti kunjungan pabrik ke PTDI.

Coba hitung! Berapa persenkah saya dan 49 peserta lainnya yang terpilih dari 127 pendaftar?

Kunjungan pabrik ini diawali dengan briefing kepada kami, para Repcil, agar kami tahu kegiatan apa saja yang akan dilaksanakan. Kami juga diberi camilan, rompi, topi, pulpen, dan kertas untuk mencatat apa yang dipaparkan.

Kami yang berjumlah 50 orang kemudian dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing sekitar 17 orang. Pembagian ini dilakukan agar saat naik Bandros, kendaraannya tidak terlalu penuh dan sesak.

Kami naik Bandros dan menuju ke Ruang Mockup atau Gedung Nurtanio. Di sana, kami belajar tentang jenis-jenis pesawat yang diproduksi PTDI, seperti NC212i dan CN235-220, serta pesawat yang sedang dalam pengembangan, yaitu N219. Sungguh, pengalaman seperti ini membuat saya semakin bersemangat!

Kami juga dijelaskan bahwa setiap pesawat memiliki fungsi yang berbeda-beda. Ada yang digunakan untuk evakuasi korban bencana, mengangkut kargo, melakukan air drop, menjalankan misi pertahanan, hingga mengangkut penumpang.

Terakhir, kami berfoto bersama di Ruang Mockup lalu melanjutkan ke lokasi berikutnya. Kami tiba di FAL (Final Assembly Line). FAL adalah tempat komponen-komponen pesawat dirakit menjadi pesawat yang utuh sesuai dengan fungsinya. Pesawat harus dirakit sepenuhnya dan memenuhi standar kualitas sebelum masuk ke tahap pengujian.

Sesi Wawancara

Sesi wawancara pun dimulai. Kami bertemu dengan Pak Andrie, seorang karyawan PTDI yang sudah lama mengabdi dan bekerja sebagai supervisor. Saya dan anggota kelompok saya mengajukan beberapa pertanyaan.

"Apa yang membuat Bapak ingin bekerja di industri pesawat terbang seperti PT Dirgantara Indonesia?"

Beliau bercerita bahwa saat remaja, ia terinspirasi oleh salah satu presiden terbaik Indonesia, yaitu B.J. Habibie. Sejak kecil, ia juga sering melihat pesawat terbang, yang kemudian menumbuhkan minatnya pada bidang permesinan.

Ia belajar dengan tekun di bidang teknik mesin hingga akhirnya diterima sebagai supervisor di PTDI.

Di awal kariernya, ia sering menghadapi berbagai tantangan. Kualitas pesawat harus selalu dijaga, sementara koordinasi dan komunikasi yang kurang baik pada awalnya membuatnya kesulitan menjalankan tugas sebagai supervisor.

Namun, seiring berjalannya waktu, ia menjadi terbiasa menghadapi masalah dan menganggapnya sebagai bagian dari pekerjaan. Tetapi menurutnya, terbiasa menghadapi masalah bukan berarti kita boleh menganggapnya remeh, sekecil apa pun masalah itu.

Setelah sesi wawancara dengan karyawan PTDI ini selesai, kami kembali ke Auditorium B.J. Habibie.

Wawancara dengan Para Direktur

Akhirnya, setelah menunggu cukup lama, kami sampai pada sesi wawancara utama: mewawancarai para direktur PTDI.

Para direktur PTDI datang dengan senyum lebar sebelum duduk di sofa yang telah disediakan.

Ibu Dihas, Direktur Keuangan dan Sumber Daya Manusia, memperkenalkan diri dan menjelaskan tugasnya. Tanggung jawabnya meliputi memastikan karyawan merasa nyaman bekerja di PTDI, mengelola keuangan, serta memberikan bimbingan kepada para karyawan.

Ibu Dihas juga menjelaskan bahwa menjadi seorang direktur membutuhkan nilai-nilai inti yang kuat, seperti kedisiplinan, komitmen tinggi, dan kejujuran. Beliau menyebutkan bahwa kita harus menumbuhkan kemandirian agar nilai-nilai tersebut lebih mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Berikutnya adalah Direktur Produksi, Pak Dena. Beliau menjelaskan bahwa tugasnya sebagai Direktur Produksi adalah memastikan seluruh produk pesawat yang diproduksi PTDI memenuhi standar keselamatan.

Beliau juga memastikan komunikasi dan koordinasi antar tim berjalan lancar, sehingga seluruh karyawan PTDI—seperti teknisi mekanik dan elektronik—dapat bekerja sama tanpa adanya konflik.

Akhirnya, sesi tanya jawab pun dimulai.

Malik, salah satu peserta Repcil, mengajukan pertanyaan. Pak Dena menjawab dan menjelaskan bahwa N219, salah satu pencapaian yang paling dibanggakan PTDI, merupakan pesawat yang dirancang sendiri oleh PTDI dan menjadi kebanggaan nasional bagi Indonesia.

N219 tergolong pesawat berukuran kecil, dengan kapasitas 19 penumpang. Ukuran ini berbeda dengan pesawat komersial besar yang biasa terlihat di bandara-bandara utama, seperti Boeing 747, yang mampu mengangkut ratusan penumpang.

Meski begitu, N219 memiliki keunggulan penting, salah satunya adalah kemampuan mendarat di landasan pacu pendek, sekitar 700 meter. Pak Dena juga menyebutkan bahwa N219 nantinya akan memiliki kemampuan amfibi, sehingga dapat beroperasi di atas air.

Setelah beberapa pertanyaan lagi, sesi wawancara bersama Pak Dena dan Ibu Dihas pun berakhir.

Terima kasih, Pak Dena dan Ibu Dihas!

Kami sungguh bersyukur atas kesempatan untuk mengunjungi perusahaan kedirgantaraan seperti PT Dirgantara Indonesia. Meskipun waktu kami di PTDI singkat, kami mendapatkan banyak pelajaran dan nasihat berharga—terutama mengenai bagaimana PTDI beroperasi dan terus mengembangkan pesawat seperti NC212i, CN235-220, serta yang menjadi sorotan para direktur, yaitu N219.

Melalui kegiatan ini, cita-cita saya untuk menjadi seorang insinyur mesin semakin kuat, memotivasi saya untuk belajar giat dan meraih tujuan saya di masa depan.

Terima kasih, PT Dirgantara Indonesia... terbang tinggi bersama PTDI!

Terima kasih juga, Media Indonesia! Sahabat Medi!

Izinkan saya memperkenalkan diri, nama saya Nathanael Darius Surya Manrangnuang. Kalian bisa memanggil saya Dar atau Darius. Nah, saya akan bercerita tentang kegiatan dan hal-hal menarik selama proses wawancara dengan PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Yuk, disimak baik-baik!

Sesi wawancara ini berlangsung di salah satu industri pesawat terbang terkemuka di Indonesia, bahkan salah satu yang terbesar di Asia Tenggara, yaitu PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Saya senang sekali. Bayangkan bisa melihat langsung jenis-jenis pesawat yang dikembangkan oleh PTDI, bahkan bertemu dengan para direktur dan orang-orang yang menjalankan industri PTDI hingga saat ini!

Kunjungan Pabrik PTDI

Alhamdulillah, pada hari itu saya terpilih menjadi Repcil (Reporter Cilik) dan mendapat kesempatan untuk mengikuti kunjungan pabrik ke PTDI.

Coba hitung! Berapa persenkah saya dan 49 peserta lainnya yang terpilih dari 127 pendaftar?

Kunjungan pabrik ini diawali dengan briefing kepada kami, para Repcil, agar kami tahu kegiatan apa saja yang akan dilaksanakan. Kami juga diberi camilan, rompi, topi, pulpen, dan kertas untuk mencatat apa yang dipaparkan.

Kami yang berjumlah 50 orang kemudian dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing sekitar 17 orang. Pembagian ini dilakukan agar saat naik Bandros, kendaraannya tidak terlalu penuh dan sesak.

Kami naik Bandros dan menuju ke Ruang Mockup atau Gedung Nurtanio. Di sana, kami belajar tentang jenis-jenis pesawat yang diproduksi PTDI, seperti NC212i dan CN235-220, serta pesawat yang sedang dalam pengembangan, yaitu N219. Sungguh, pengalaman seperti ini membuat saya semakin bersemangat!

Kami juga dijelaskan bahwa setiap pesawat memiliki fungsi yang berbeda-beda. Ada yang digunakan untuk evakuasi korban bencana, mengangkut kargo, melakukan air drop, menjalankan misi pertahanan, hingga mengangkut penumpang.

Terakhir, kami berfoto bersama di Ruang Mockup lalu melanjutkan ke lokasi berikutnya. Kami tiba di FAL (Final Assembly Line). FAL adalah tempat komponen-komponen pesawat dirakit menjadi pesawat yang utuh sesuai dengan fungsinya. Pesawat harus dirakit sepenuhnya dan memenuhi standar kualitas sebelum masuk ke tahap pengujian.

Sesi Wawancara

Sesi wawancara pun dimulai. Kami bertemu dengan Pak Andrie, seorang karyawan PTDI yang sudah lama mengabdi dan bekerja sebagai supervisor. Saya dan anggota kelompok saya mengajukan beberapa pertanyaan.

"Apa yang membuat Bapak ingin bekerja di industri pesawat terbang seperti PT Dirgantara Indonesia?"

Beliau bercerita bahwa saat remaja, ia terinspirasi oleh salah satu presiden terbaik Indonesia, yaitu B.J. Habibie. Sejak kecil, ia juga sering melihat pesawat terbang, yang kemudian menumbuhkan minatnya pada bidang permesinan.

Ia belajar dengan tekun di bidang teknik mesin hingga akhirnya diterima sebagai supervisor di PTDI.

Di awal kariernya, ia sering menghadapi berbagai tantangan. Kualitas pesawat harus selalu dijaga, sementara koordinasi dan komunikasi yang kurang baik pada awalnya membuatnya kesulitan menjalankan tugas sebagai supervisor.

Namun, seiring berjalannya waktu, ia menjadi terbiasa menghadapi masalah dan menganggapnya sebagai bagian dari pekerjaan. Tetapi menurutnya, terbiasa menghadapi masalah bukan berarti kita boleh menganggapnya remeh, sekecil apa pun masalah itu.

Setelah sesi wawancara dengan karyawan PTDI ini selesai, kami kembali ke Auditorium B.J. Habibie.

Wawancara dengan Para Direktur

Akhirnya, setelah menunggu cukup lama, kami sampai pada sesi wawancara utama: mewawancarai para direktur PTDI.

Para direktur PTDI datang dengan senyum lebar sebelum duduk di sofa yang telah disediakan.

Ibu Dihas, Direktur Keuangan dan Sumber Daya Manusia, memperkenalkan diri dan menjelaskan tugasnya. Tanggung jawabnya meliputi memastikan karyawan merasa nyaman bekerja di PTDI, mengelola keuangan, serta memberikan bimbingan kepada para karyawan.

Ibu Dihas juga menjelaskan bahwa menjadi seorang direktur membutuhkan nilai-nilai inti yang kuat, seperti kedisiplinan, komitmen tinggi, dan kejujuran. Beliau menyebutkan bahwa kita harus menumbuhkan kemandirian agar nilai-nilai tersebut lebih mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Berikutnya adalah Direktur Produksi, Pak Dena. Beliau menjelaskan bahwa tugasnya sebagai Direktur Produksi adalah memastikan seluruh produk pesawat yang diproduksi PTDI memenuhi standar keselamatan.

Beliau juga memastikan komunikasi dan koordinasi antar tim berjalan lancar, sehingga seluruh karyawan PTDI—seperti teknisi mekanik dan elektronik—dapat bekerja sama tanpa adanya konflik.

Akhirnya, sesi tanya jawab pun dimulai.

Malik, salah satu peserta Repcil, mengajukan pertanyaan. Pak Dena menjawab dan menjelaskan bahwa N219, salah satu pencapaian yang paling dibanggakan PTDI, merupakan pesawat yang dirancang sendiri oleh PTDI dan menjadi kebanggaan nasional bagi Indonesia.

N219 tergolong pesawat berukuran kecil, dengan kapasitas 19 penumpang. Ukuran ini berbeda dengan pesawat komersial besar yang biasa terlihat di bandara-bandara utama, seperti Boeing 747, yang mampu mengangkut ratusan penumpang.

Meski begitu, N219 memiliki keunggulan penting, salah satunya adalah kemampuan mendarat di landasan pacu pendek, sekitar 700 meter. Pak Dena juga menyebutkan bahwa N219 nantinya akan memiliki kemampuan amfibi, sehingga dapat beroperasi di atas air.

Setelah beberapa pertanyaan lagi, sesi wawancara bersama Pak Dena dan Ibu Dihas pun berakhir.

Terima kasih, Pak Dena dan Ibu Dihas!

Kami sungguh bersyukur atas kesempatan untuk mengunjungi perusahaan kedirgantaraan seperti PT Dirgantara Indonesia. Meskipun waktu kami di PTDI singkat, kami mendapatkan banyak pelajaran dan nasihat berharga—terutama mengenai bagaimana PTDI beroperasi dan terus mengembangkan pesawat seperti NC212i, CN235-220, serta yang menjadi sorotan para direktur, yaitu N219.

Melalui kegiatan ini, cita-cita saya untuk menjadi seorang insinyur mesin semakin kuat, memotivasi saya untuk belajar giat dan meraih tujuan saya di masa depan.

Terima kasih, PT Dirgantara Indonesia... terbang tinggi bersama PTDI!

Terima kasih juga, Media Indonesia!

Beliau juga memastikan komunikasi dan koordinasi antar tim berjalan lancar, sehingga seluruh karyawan PTDI—seperti teknisi mekanik dan elektronik—dapat bekerja sama tanpa adanya konflik.


Akhirnya, sesi tanya jawab pun dimulai.


Malik, salah satu peserta Repcil, mengajukan pertanyaan. Pak Dena menjawab dan menjelaskan bahwa N219, salah satu pencapaian yang paling dibanggakan PTDI, merupakan pesawat yang dirancang sendiri oleh PTDI dan menjadi kebanggaan nasional bagi Indonesia.


N219 tergolong pesawat berukuran kecil, dengan kapasitas 19 penumpang. Ukuran ini berbeda dengan pesawat komersial besar yang biasa terlihat di bandara-bandara utama, seperti Boeing 747, yang mampu mengangkut ratusan penumpang.


Meski begitu, N219 memiliki keunggulan penting, salah satunya adalah kemampuan mendarat di landasan pacu pendek, sekitar 700 meter. Pak Dena juga menyebutkan bahwa N219 nantinya akan memiliki kemampuan amfibi, sehingga dapat beroperasi di atas air.


Setelah beberapa pertanyaan lagi, sesi wawancara bersama Pak Dena dan Ibu Dihas pun berakhir.


Terima kasih, Pak Dena dan Ibu Dihas!


Kami sungguh bersyukur atas kesempatan untuk mengunjungi perusahaan kedirgantaraan seperti PT Dirgantara Indonesia. Meskipun waktu kami di PTDI singkat, kami mendapatkan banyak pelajaran dan nasihat berharga—terutama mengenai bagaimana PTDI beroperasi dan terus mengembangkan pesawat seperti NC212i, CN235-220, serta yang menjadi sorotan para direktur, yaitu N219.


Melalui kegiatan ini, cita-cita saya untuk menjadi seorang insinyur mesin semakin kuat, memotivasi saya untuk belajar giat dan meraih tujuan saya di masa depan.


Terima kasih, PT Dirgantara Indonesia... terbang tinggi bersama PTDI!


Terima kasih juga, Media Indonesia! bimbingan kepada para karyawan.

Ibu Dihas juga menjelaskan bahwa menjadi seorang direktur membutuhkan nilai-nilai inti yang kuat, seperti kedisiplinan, komitmen tinggi, dan kejujuran. Beliau menyebutkan bahwa kita harus menumbuhkan kemandirian agar nilai-nilai tersebut lebih mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Berikutnya adalah Direktur Produksi, Pak Dena. Beliau menjelaskan bahwa tugasnya sebagai Direktur Produksi adalah memastikan seluruh produk pesawat yang diproduksi PTDI memenuhi standar keselamatan.

Beliau juga memastikan komunikasi dan koordinasi antar tim berjalan lancar, sehingga seluruh karyawan PTDI—seperti teknisi mekanik dan elektronik—dapat bekerja sama tanpa adanya konflik.

Akhirnya, sesi tanya jawab pun dimulai.

Malik, salah satu peserta Repcil, mengajukan pertanyaan. Pak Dena menjawab dan menjelaskan bahwa N219, salah satu pencapaian yang paling dibanggakan PTDI, merupakan pesawat yang dirancang sendiri oleh PTDI dan menjadi kebanggaan nasional bagi Indonesia.

N219 tergolong pesawat berukuran kecil, dengan kapasitas 19 penumpang. Ukuran ini berbeda dengan pesawat komersial besar yang biasa terlihat di bandara-bandara utama, seperti Boeing 747, yang mampu mengangkut ratusan penumpang.

Meski begitu, N219 memiliki keunggulan penting, salah satunya adalah kemampuan mendarat di landasan pacu pendek, sekitar 700 meter. Pak Dena juga menyebutkan bahwa N219 nantinya akan memiliki kemampuan amfibi, sehingga dapat beroperasi di atas air.

Setelah beberapa pertanyaan lagi, sesi wawancara bersama Pak Dena dan Ibu Dihas pun berakhir.

Terima kasih, Pak Dena dan Ibu Dihas!

Kami sungguh bersyukur atas kesempatan untuk mengunjungi perusahaan kedirgantaraan seperti PT Dirgantara Indonesia. Meskipun waktu kami di PTDI singkat, kami mendapatkan banyak pelajaran dan nasihat berharga—terutama mengenai bagaimana PTDI beroperasi dan terus mengembangkan pesawat seperti NC212i, CN235-220, serta yang menjadi sorotan para direktur, yaitu N219.

Melalui kegiatan ini, cita-cita saya untuk menjadi seorang insinyur mesin semakin kuat, memotivasi saya untuk belajar giat dan meraih tujuan saya di masa depan.

Terima kasih, PT Dirgantara Indonesia... terbang tinggi bersama PTDI!

Terima kasih juga, Media Indonesia!

Source: https://mediaindonesia.com/humaniora/926902/reporter-cilik-mengintip-dunia-dirgantara

08 September 2026
PTDI Wujudkan Kepedulian bagi Korban Gempa Bumi di NTT melalui Program TJSL

08 September 2026
Lewat Defend ID Peduli Bencana, PTDI Salurkan Bantuan Bagi Warga NTT

02 September 2026
PTDI Bekerjasama dengan Paguyuban Pasundan Selenggarakan Program Pendidikan DI Goes To School dan DI Edutainment

02 September 2026
Reporter Cilik Mengintip Dunia Dirgantara

02 September 2026
Reporter Cilik Mengintip Dunia Dirgantara

02 September 2026
Reporter Cilik Mengintip Dunia Dirgantara

Pencarian Berita