December 26th, 2024
Penampakan Rafale Indonesia Diam-diam Sudah Dibocorkan Dassault Aviation Prancis dalam Video YouTubenya
ZONAJAKARTA.COM- Meskipun membeli 42 jet tempur Rafale dari Dassault Aviation Prancis, namun Indonesia nantinya akan melibatkan perusahaan PT Dirgantara Indonesia (PTDI).
Dassault Aviation nantinya akan bekerja sama dengan PTDI dalam pembuatan jet tempur Rafale pesanan Indonesia karena NKRI ogah jika cuma jadi pembeli pesawat Prancis saja.
Dikutip Zonajakarta.com dari unggahan akun Instagram Kementerian Pertahanan Indonesia @kemhanri pada 13 Oktober 2024, PTDI disebut berharap bisa jadi bagian dari rantai pasok jet tempur Rafale buatan Dassault Aviation Prancis.
"Kepada media massa, Dirut PTDI Gita Amperiawan saat Media Gathering di Bandung belum lama ini menyatakan, PTDI berharap bisa menjadi bagian dari rantai pasok global atau global supply chain dalam memproduksi komponen pesawat tempur Rafale.
Hal itu sesuai arahan Presiden Jokowi @jokowi yang ditindaklanjuti Menhan Prabowo @prabowo, untuk memastikan adanya alih teknologi atau Transfer of Technology (ToT) dari setiap pengadaan alutsista.
Tidak hanya menjadi bagian dari rantai pasok global, PTDI juga berpeluang mengembangkan kemampuan perawatan atau Maintance, Repair dan Operation (MRO) pesawat tempur," jelas akun Instagram @kemhanri dalam unggahannya.
Sebelumnya, dikutip Zonajakarta.com dari Antara edisi 1 Juli 2024, PT Dirgantara Indonesia (PTDI) mengusulkan adanya engineering work package (EWP) dalam kerja sama offset (imbal beli) pengadaan alutsista buatan asing, termasuk jet tempur Rafale buatan Dassault Aviation Perancis.
“Di luar offset yang sudah menjadi standar Kementerian Pertahanan, kami usulkan satu proposal yang disebut engineering work package.
Engineering work package adalah satu offset yang kami tawarkan adalah kemampuan brain daripada engineer (teknisi) untuk menyelesaikan masalah dari aspek engineering, analisis, drawing dan sebagainya,” kata Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia Gita Amperiawan seperti dikutip dari Antara.
Gita meyakini EWP tidak hanya memberikan nilai tambah dari sisi pengetahuan dan kemampuan untuk menguasai teknologi, tetapi juga ada sisi komersialnya.
Tak cuma membeli jet tempur Rafale dalam jumlah besar, Indonesia dan Prancis juga menyepakati adanya Offset.
Ofset sendiri merupakan suatu bentuk imbal dagang, dimana pemasok luar negeri setuju melakukan investasi, kerja sama produksi, serta alih teknologi ke dalam negara pembeli barang/jasa.
Selain itu, memberikan peralatan, bantuan yang diperlukan untuk pendirian industri baru dengan tujuan ekspor, serta pembangunan atau peluasan teknologi manufaktur yang ada dan kemampuan industri.
Kementerian Pertahanan pada 9 Januari 2024 mengumumkan Indonesia resmi memborong 42 jet tempur Rafale dari Perancis, yang dalam proses pembuatannya juga mencakup sejumlah kerja sama alih teknologi (ToT) dan offset antara Dassault Aviation, PT Dirgantara Indonesia, dan PT Len Industri.
Kesepakatan ToT dan Offset ini telah disetujui pada 10 Februari 2022, PTDI dan Dassault Aviation Prancis kerja sama program Offset dan ToT pesawat Rafale di depan Menteri Pertahanan RI dan Menteri Angkatan Bersenjata Republik Prancis.
Dassault Aviation Prancis sendiri baru saja mengamankan buku pesananan 12 jet tempur Rafale untuk Serbia pada Agustus 2024 lalu.
Dikutip Zonajakarta.com dari Armees edisi 30 Agustus 2024, Serbia, pembeli terakhir, menandatangani kontrak dengan Dassault Aviation untuk pembelian 12 Rafale, dalam sebuah perjanjian yang diresmikan selama kunjungan Emmanuel Macron ke Beograd.
Kontrak senilai 1,2 miliar euro ini mencakup pengiriman pada tahun 2028.
Bagi Serbia, akuisisi ini merupakan bagian dari strategi untuk memodernisasi angkatan bersenjatanya, yang bertujuan untuk menggantikan peralatan tua yang berasal dari era Soviet, khususnya MiG-29 dan Soko J-22 Orao.
Dengan pemesanan 12 pesawat baru-baru ini oleh Serbia, jumlah Rafale yang dipesan kini mencapai 507 unit.
Dari pesanan tersebut, 234 ditujukan untuk tentara Perancis, sedangkan 273 sisanya dicadangkan untuk ekspor, menunjukkan kapasitas industri Perancis untuk memenuhi kebutuhan internasional.
Pelanggan utama jet tempur ini antara lain negara-negara strategis seperti Mesir yang mengakuisisi 55 unit, Qatar (36), India (36), Uni Emirat Arab (80) dan Indonesia (42), yang kini ditambah Serbia dengan 12 unit Rafale.
"Portofolio pesanan ini menjamin keberlanjutan aktivitas Dassault Aviation selama sepuluh tahun ke depan, sehingga memastikan keberlanjutan lokasi produksi dan pekerjaan terkait," jelas Armees dalam artikelnya.
Dengan banyaknya pesanan, Dassault Aviation kini harus menghadapi tantangan untuk meningkatkan produksinya.
Perusahaan telah mengumumkan niatnya untuk meningkatkan produksi Rafale menjadi tiga pesawat per bulan mulai tahun 2025, di lokasi Mérignac di Gironde, dengan tujuan yang lebih ambisius yaitu empat pesawat per bulan di masa depan.
Peningkatan produksi ini memerlukan koordinasi yang erat dengan subkontraktor industri penerbangan, yang sebagian besar merupakan perusahaan kecil dan menengah Perancis.
Hal terakhir ini, didukung oleh Dassault, akan memainkan peran penting dalam mencapai kapasitas produksi baru ini.
Sebelum kebanjiran pesanan baru dari Serbia, Dassault Aviation Prancis sebenarnya sudah sempat memamerkan penampakan Rafale Indonesia yang sudah resmi dipesan sebanyak 42 unit pada awal 2024 silam.
"Tahap terakhir 18 Rafale untuk Indonesia mulai berlaku pada bulan Januari.
Ini menyusul tahap pertama dan kedua sebanyak 6 dan 18 Rafale dan dengan demikian melengkapi jumlah pesawat yang dipesan untuk Indonesia berdasarkan kontrak yang ditandatangani pada bulan Februari 2022 untuk akuisisi 42 Rafale.
Keberhasilan teknis, operasional, dan komersial Rafale dengan negara-negara pelanggannya hingga saat ini memungkinkan Prancis untuk mempertahankan kedaulatannya dalam penerbangan tempur selama beberapa dekade mendatang," jelas Dassault Aviation dalam bahasa Prancis di videonya yang diunggah akun YouTube TheDassaultAviation pada 23 Juli 2024 seperti dikutip Zonajakarta.com.
Dalam video yang memaparkan pencapaian perusahaan pembuat jet tempur Rafale itu, Dassault Aviation menampilkan penampakan jet tempur diduga yang jadi pesanan Indonesia.
"Rafale Indonesie," jelas keterangan dalam gambar yang ditampilkan Dassault Aviation.
Dikutip Zonajakarta.com dari Kemhan, Menteri Pertahanan saat itu, Prabowo Subianto menghadiri pameran International Paris Air Show 2023 di Le Bourget, utara Paris, Prancis, Rabu (21/6/2023).
Menhan Prabowo mengunjungi berbagai paviliun pameran dan sempat berkeliling bersama Eric Trapier, CEO Dassault Aviation, produsen pesawat tempur Rafale yang akan memperkuat TNI AU.
Dalam kesempatan itu miniatur Rafale untuk Indonesia turut dipamerkan.
Foto miniatur Rafale yang diunggah Kemhan Indonesia menunjukkan lambang bendera merah putih di ekor pesawat.
Meski miniatur Rafale Indonesia sudah ditunjukkan, namun pesawat buatan Dassault Aviation itu rupanya baru akan datang pada 2026.
***
Source: https://www.zonajakarta.com/nasional/67314224277/penampakan-rafale-indonesia-diam-diam-sudah-dibocorkan-dassault-aviation-prancis-dalam-video-youtubenya?page=4